REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Terbakar


Masih lanjutan episode sebelumnya.


Jangan lupa berikan vote, like dan komen kalian setelah membaca. Karena saran kalian sangatlah dibutuhkan👌🤗.


"Nggak nggak, gue nggak boleh kebawa emosi. Sebelum gue tau dimana bunda dan bangsa serigala yang lain, gue harus bisa bersikap tenang."


Telan ludah Anggin meminta Riko melepaskan pegangannya, sahut Anggin menjawab kalau ia tadi mendengarnya.


"Nggak denger, atau emang sengaja nggak mau dengar."


"Hhe, gue serius. Emang ada apa sih manggil-manggil gue, kangen?" santai Anggin.


"Kangen, bangett."


Senyum Anggin menatap Riko, "Coba aja ucapan dan perhatian lo ini tulus Rik, gue pasti bahagia. Sayangnya, ini semua cuma dusta."


Senyum Riko menyenggol lirih Anggin dan bertanya apa yang sebenarnya ia lamunkan, sahut Anggin menggelengkan kepala mengatakan kalau ia hanya gugup saat di dekatnya. Gemas Riko mencubit lirih hidung Anggin, tawa lirih Anggin meminta Riko melepaskan hidungnya.


"Duhh, sakit tau."


Terhenti Pak Rama saat melihat Riko dan Anggin malah asik berduaan, dengan hebohnya bicara kalau anak kecil tidak boleh pacaran.


"Yee, Pak. Kita mah udah gede" sahut Anggin.


"Gede dari mananya, sekolah aja belum lulus. Udah sana, bubar-bubar!"


"Iya iya Pak, nih kita pergi" ucap Anggin berjalan bergandengan.


Teriak Pak Rama bertanya pada mereka kemana ia akan pergi, sahut Anggin mengerutkan bibir kalau yang pasti mereka akan masuk ke dalam kelas, karena mereka satu kelas.


"Iya iya udah, buruan masuk sana."


Disisi lain, Nesa sudah memesankan makanan untuknya dan Kana. Bingung Kana harus bagaimana, karena ia tidak bisa memakan-makanan manusia itu. Sahut Kana mengatakan kalau dia tidak lapar, namun Nesa terus memaksanya dan menyuapi Kana.


Satu suapan masuk ke mulut Kana. Tak menunggu waktu lama, tenggorokan Kana pun terasa terbakar. Teriak Kana kesakitan memegang tenggorokan, bingung Nesa dengan panik segera membantu Kana sambil bertanya ada apa dengannya. Kana terus berteriak kesakitan, siswa/i yang lain merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi.


Mata batin Cio melihat sesuatu hal sedang terjadi pada Kana, iapun segera menghampirinya. Panik Cio menolong saudaranya dan bertanya pada Nesa apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini masalahnya" bisik Cio.


Cio mengangkat dan segera membawa Kana pergi dari keramaian, teriak Nesa bertanya pada Cio kemana ia akan membawa Kana.


"Ini urusan gue!"


"Jutek banget sih. Emang dia pikir gue nggak khawatir apa" kesal Nesa.


Nesa segera pergi menyusul Kana, namun penjual kantin memanggil dan memintanya membayar makanannya sebelum pergi.


"Yaampun buk. Makanannya masih utuh ni, baru juga dimakan satu sendok."


"Ya saya nggak mau tau neng, yang saya tau makanan itu udah di pesen. Sekarang bayar dulu."


Kesal Nesa mengerutkan bibir, "Iya iya, nih duitnya. Kembaliannya ambil aja!"


"Inimah pas neng, kagak ada kembalian."


Celingak-celinguk Nesa mencari Kana, "Kemana mereka, cepet banget ngilangnya sih."


Cio membawa Kana ke sebuah ruangan kosong, meminta Kana untuk diam dan tidak berteriak. Ia pergi meninggalkan Kana yang begitu tersiksa dan kesakitan dengan mengatakan kalau ia akan segera kembali.


Cio masuk ke dalam kelasnya sambil mengindip membawa sebuah botol kecil, yang mana itu adalah botol berisi ramuan dari darah hewan segar yang selalu ia bawa untuk antisipasi. Saat ia akan pergi ia dibuat terkejut dengan keberadaan Nesa dibelakangnya, gugup Cio menyembunyikan botol itu.


Penasaran Nesa mengintip sesuatu yang dibawa Cio, keponya bertanya apa yang sebenarnya sedang ia bawa dan dimana Kana.


"Ini, obat buat Kana. Cewek ini, ngebuang banyak waktu gue (batinnya)."


Cio mencoba mencari alasan agar bisa terbebas dari pantauan Nesa, "Eh, itu ada apa" tunjuknya.


Saat pandangan Nesa teralihkan, Cio segera pergi untuk memberikan darah itu sebelum sesuatu hal buruk terjadi pada Kana.


***