
Kringg..
Alarm berbunyi, yang mana jam menunjukkan pukul 06:30 WIB. Terbangun Anggin dengan mata berat dan sayu mematikan alarm, sejenak terduduk segera mandi.
Selesai bersiap-siap, Anggin segera turun menuju meja makan untuk sarapan. Bergegas Marsel turun menghampiri Anggin dengan tingkah jailnya menarik keran baju Anggin, kesal Anggin mendorong lirih Marsel. Namun, karena gen serigala dalam tubuh Anggin yang belum terkontrol alhasil membuat Marsel seolah terdorong dan terjungkal dengan kepala masuk kedalam piring nasi goreng.
Kaget Mami Sindi dan Anggin melihat tangannya, perlahan Marsel mengangkat kepala dengan mulut dan muka penuh nasi.
Tatapan sinis Marsel melihat Anggin dengan wajah polos, sementara Anggin hanya tertawa geli.
"Hhaha, makannya. Jangan suka gangguin gue, rasain tu" ucap Anggin.
"Hhe, makannya jangan gangguin gue (cibir Marsel). Awas lo ya, gue bales ntar" mengambil tisu dan membersihkan wajahnya.
"Bodo amat, nggak takut."
Keluh Mami Sindi melihat mereka yang selalu bertengkar, lalu menyuruh untuk segera makan.
"Makan dengan bumbu bedak" lirih Marsel.
"Iyyuhh, lo bedakan?"
"Dikit."
...
Tiba diteras sekolah, dari arah belakang Nio menghampiri Anggin menyapa malu-malu sambil mencolek-colek Anggin mencari perhatian. Risih Anggin meminta agar tidak menganggunya lagi, santai Nio dengan wajah recehnya mengatakan kalau itu sudah takdirnya.
"Takdir lo bilang?. Itu bukan takdir, tapi kutukan!" bawel Anggin menaikan sebelah bibir dengan wajah nyolot lalu pergi meninggalkan Nio.
Wajah bingung Nio, berteriak memanggil Anggin berlari menyusul.
"Lagian kemanasih tu Abang gue, punya Abang satu aja suka ngilang. Giliran dibutuhin nggak ada, giliran nggak dicari ngintil terus!" bete Anggin pada Marsel.
Nio kembali berulah mengganggu Anggin dengan tingkah kocaknya dan rayuan receh.
"Sebenernya lo tu makhluk apa sih, nggak bisa jauh-jauh dari apa!" Bicara sambil memainkan tangan.
"Pantesan badan gue gatel-gatel kalo deket sama lo!. Udah, jauh-jauh sana!"
Bukannya menjauh, Nio malah menempelkan badannya pada Anggin. Kesal Anggin mendorong lirih Nio, lagi-lagi karena kekuatannya Nio terpental jauh menabrak Pak Rama yang berjalan didepannya dan tak sengaja bibirnya mencium pipi Pak Rama.
Anggin kembali dibuat bingung kenapa bisa ia sekuat itu, menatap tangannya lalu segera pergi. Geli Pak Rama mengusap-usap pipi dengan heboh.
"Kamu kira, bapak cowok apaan!"
"Ma-maaf pak, nggak sengaja" berlari kabur.
Tak sengaja Anggin menabrak Nesa, tanya Nesa pada Anggin kenapa ia melihat tangganya seperti itu. Terdiam sejenak menatap Nesa menggelengkan kepala.
"Nggak, nggak papa" mengusap wajah.
"Lo kenapa kayak orang linglung gitu, Lo ada masalah?. Atau lo digangguin lagi sama Abang lo atau si Nio itu?"
"Ya, kalo itu mah nggak usah ditanya lagi. Kayak nggak tau mereka aja, nggak ganggu gue sehari aja udah keluar kurap kali tu badan mereka" kesal Anggin sambil berjalan.
"Hhaha, mulut lo kalo ngomong" tawa geli Nesa.
"Lagian, sebel gue!"
Raut wajah Anggin seketika berubah saat melihat Riko, dengan senyum genit menatap hening.
"Duh, pagi-pagi disapa dengan wajah imutnya. Adem banget liat wajahnya" sumringah Anggin.
Berlari kecil menghampiri Riko memanggil lirih, menyapa lembut memberi senyum termanis.
"Ha-hai.. pagi Iko."
Angguk Riko membalas Anggin dengan wajah dingin segera masuk kelas, susul Anggin berjalan mengiringi Riko.
"Yeh, ditinggal gue. Emang dasar tu anak, tadi aja kusut banget tu muka. Sekarang malah ketawa-tiwi gitu, emang rada-rada deh kayaknya dia" lirih Nesa.
Silahkan baca kelanjutannya di episode selanjutnya👇🤗.