
Berdiri Anggin menatap langit dengan tangan menyilang dan teringat dengan ucapan pasukan serigalanya yang mengatakan kalau bangsa vampir telah menyerang mereka.
"Satu sisi, gue pengen banget percaya sama bangsa vampir, terutama sama Riko. Tapi disisi lain, bangsa vampir juga merusak kepercayaan bangsa serigala. Semoga, ini bukan Riko yang ngelakuin. Dan gue harap, maaf yang gue kasih ke dia (Riko), bukan bentuk penghianatan" lirih Anggin.
Datang Laga, tertegun sejenak saat melihat Anggin yang melamun sendiri. Melesat menghampiri dengan sedikit melontarkan nada cibiran.
"Anteng banget ya, berdiri disini, sambil mikirin tu vampir keluarga Tara."
Toleh Anggin mengerutkan alis, "Maksud lo, Riko?"
"Siapa lagi" jutek Laga.
"Apaan sih, nggak jelas deh lo. Siapa juga yang lagi mikirin dia, kayak nggak ada yang lain aja."
"Kalo nggak ada orangnya bisa bilang kayak gitu. Tapi kalo ada orangnya, peluk-pelukan, mesra-mesraan, iya kan?" ucap Laga dengan wajah cemburu.
Tertegun Anggin menatap Laga, "Lo mata-matain gue ya?"
"Nggak, siapa juga yang mata-matain. Kayak nggak ada yang lain aja yang di mata-matain" bete Laga melesat pergi.
"Kenapa sih tu anak, sensi banget sama gue hari ini?. Tiba-tiba dateng, terus pergi gitu aja, aneh.."
Saat akan melesat pergi, tiba-tiba Astra datang dan sedikit mengejutkannya (Anggin).
"Bunda?"
Ucap Astra mengatakan kalau ada yang ingin ia bicarakan dengannya.
"Soal apa itu, Bunda?"
"Bangsa vampir!"
Mata Anggin langsung menyala.
Astra kembali menjelaskan kalau bangsa serigala dan vampir tidak bisa melakukan penyerangan satu sama lain sebelum adanya bulan purnama, dan ini justru terjadi dan bahkan dilakukan bangsa vampir secara diam-diam.
"Entah itu satu orang, atau semuanya terlibat" lanjut Astra.
"Tapi Anggin harus apa, Bunda. Bagaimana Anggin bisa tau siapa vampir itu?. Apakah semua perbedaan ini nggak bisa dihilangkan, apakah antara bangsa vampir dan serigala nggak bisa hidup tanpa mengganggu satu sama lain?. Mungkin bangsa kita sama mereka beda, tapi bukan berarti perbedaan ini digunakan untuk saling menyakiti bukan!"
"Bunda tau perasaan kamu, Bunda juga nggak mau perbedaan ini digunakan untuk saling menumpahkan darah. Tapi, semua pertanyaan kamu itu akan terjawab seiring berjalannya waktu. Kamu akan paham apa yang Bunda ucapkan ini, dan perbedaan ini akan jadi sebuah kebenaran, kalau bangsa serigala dan vampir tidak akan bisa bersatu. Karena kalau itu benar terjadi, maka yang ada hanyalah kematian. Ini takdir kita," kata Astra lalu melesat pergi.
"Takdir macam apa ini, bukan menciptakan kebaikan, tapi justru kehancuran. Hah!, bisa gila gue kalo kayak gini caranya. Siapa sebenarnya yang udah nyerang bangsa serigala, apa mereka salah satu vampir dari keluarga Tara?. Ah udahlah, gue pikirin nanti. Mending sekarang gue pulang, kalo nggak keburu pagi."
Saat dikamar, menguap Anggin merasa lelah dan ngantuk dengan semua yang sudah ia lewati dalam seharian ini.
"Hah.. ngantuk banget. Sekarang, gue bisa tidur dengan nyenyak" langsung menjatuhkan diri di atas kasur.
...
Pagi tiba, teriak lirih Mami Sindi membangunkan Anggin yang masih tertidur pulas.
"Duh.. Sayang. Ayo bangun, udah siang ini nanti kamu telat ke sekolah."
"Hmm.. ngantuk Mi. Anggin bolos dulu deh sekolahnya."
"Ngantuk?. Kamu kan tidurnya lebih awal?"
Sahut Marsel yang mengintip dari balik pintu, "Itu Mi, dia semalem..." terhenti.
Bergegas Anggin bangun dan menyambung ucapan Marsel sambil memainkan mata, "Anggin semalem, tidurnya nyenyak banget kok Mi. Yaudah, Anggin mau mandi terus berangkat sekolah" menatap kesal kearah Marsel.
"Yaudah, Mami siapin sarapan dulu ya."
"Ember" bisik Anggin mengolok kesal Marsel.
"Bodo amat.."
...