
Segera Anggin dan Nesa keluar rumah, lirih Anggin menjabatkan tangan. Kerut alis Nesa dengan bingung bertanya pada Anggin apa yang akan ia lakukan.
"Lo mau berangkat nggak?"
"Iyalah. Buruan pegang tangan gue."
Pelan Nesa menempatkan telapak tangannya pada telapak tangan Anggin, "Lo nggak apa-apa gue kan."
"Parno banget deh" lirih Anggin.
Ia pun segera mengajak Nesa melesat. Di tengah perjalanan, tak sengaja mereka bertabrakan dengan seseorang yang tidak lain adalah Laga.
"Duhh" ucap Anggin memegang lengan.
Sejenak mereka saling menatap, kerut alis Anggin dengan tatapan heran melihat laga yang memakai pakaian sekolah. Bingungnya dengan datar spontan bertanya pada Laga apa yang ia lakukan dengan pakaian sekolah itu.
"Widihh. Rapi banget lo, mana pakek pakaian sekolah gue lagi. Lo mau kemana?" ejek Anggin melihat Laga dari ujung kepala sampai kaki.
"Ya mau sekolah lah, masak iya mancing."
"Hhehe. Ternyata serigala bisa sekolah juga?"
"Hello, emang anda bukan serigala?" balik Laga mengejek.
Tertegun Anggin menatap Laga sambil mengerutkan sebelah bibir. Sementara Nesa yang mendengar itupun sontak kaget, lirihnya menunjuk ke arah Laga dan bicara gugup.
"E-elo, serigala juga?"
Laga memainkan mata seolah mengiyakan ucapan Nesa.
"Kenapa banyak banget serigala sih.. jadi horor deh" rengek Nesa.
Toleh Anggin menyenggol tangan Nesa, "Gue serigala, bukan setan."
...
Jam istirahat sekolah tiba, tak sengaja saat akan keluar ruangan Anggin dihadapkan dengan Riko. Sejenak mereka saling menatap, tak mau basa-basi dan dengan datarnya Anggin segera meninggalkan Riko.
Saat akan melangkahkan kaki, tak sengaja Anggin menginjak tali sepatunya yang terlepas dan membuatnya terjatuh. Dengan sigap, Riko langsung menangkap. Tertegun Anggin perlahan menoleh kearah Riko, Nesa yang tak ingin mengganggu pun berjalan mengindip dan meninggalkan mereka.
Tersadar Anggin segera bangkit dan melepas paksa Pengan Riko.
"Gin," lirih Riko.
Sejenak Anggin menoleh seolah acuh meninggalkan Riko. Tanpa banyak basa-basi, Riko langsung memegang tangan Anggin dan mengajaknya melesat pergi.
Henti Riko, membawa Anggin ke taman sekolah. Kesal Anggin melempar keras tangan Riko yang sudah lancang membawanya. Datarnya Riko dengan tatapan serius mengatakan pada Anggin kalau ia tidak ingin jauh darinya (Anggin). Kerut alis Anggin tak paham dengan ucapan Riko.
"Takdir yang udah misahin kita. Jadi jangan harap buat kita bisa kayak dulu lagi!"
"Kita bisa menentang takdir itu!" tekan Riko memegang erat telapak tangan Anggin.
Tawa lirih Anggin yang seolah mengejek ucapan Riko, lembut Riko menatap dan langsung memberikan pelukan erat untuk Anggin.
Tertegun Anggin dengan jantung yang berdegup kencang, ia mencoba mendorong badan Riko dan meminta Riko melepaskan pelukannya. Riko yang tidak mau mendengar justru semakin mempererat pelukannya.
"Lepasin Riko!."
"Nggak Gin. Mungkin bangsa kita bermusuhan, tapi kita bisa buang semua perbedaan itu."
Keras Anggin mendorong badan Riko, "Hahaha.. membuang semua perbedaan?, enteng banget ya lo ngomong. Yang mulai semua permusuhan ini juga bangsa lo, Rik!. Karena keserakahan lo dan bangsa lo itu, beberapa keturunan serigala putih dan bangsa serigala yang lain juga kalian habisi!. Dan sekarang, dengan entengnya lo minta damai. Mungkin gue bisa, tapi nggak dengan bangsa serigala yang lain. Jadi lebih baik, nggak usah ada kata damai lagi!. Kita nggak sama Rik, takdir kita beda," pergi meninggalkan Riko.
***