
Henti Anggin dengan lemas masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi, sontak saja dengan penuh emosi ia mengeluarkan kekuatan dan melampiaskan pada pepohonan dan benda yang ada di dalam hutan. Histerisnya menangis tak sanggup menerima kenyataan, ia langsung terduduk lemas bersandar di sebuah pohon. Keluhnya memegang kepala diiringi isak tangis kenapa hal itu harus terjadi padanya, Anggin melihat telapak tangannya dengan penuh kesedihan.
"Gue nggak mau kayak gini!" melempar tangan dan merundukkan kepala.
Disisi lain Mami Sindi, Nesa dan Marsel kebingungan karena Anggin tiba-tiba menghilang, hebohnya mereka sedih dan khawatir dengan keadaan Anggin. Ditambah lagi auman serigala yang membuat buku kuduk mereka berdiri.
"Hee, anak Mami yang paling cakep. Kemana sih lu, pergi nggak bilang-bilang. Eh Nes, masak lu nggak tau kemana Anggin" sedih Mami Sindi dengan raut wajah lucunya.
"Emang aku nggak cakep apa Mih," lirih Marsel.
"Ya, tadi sih di kamar bareng Nesa, Tan. Tapi, tadi waktu Nesa bangun gara-gara suara serigala itu. Eh, Nesa liat Anggin udah nggak ada."
"Hee, terus kemana dong Anggin?" rengek Mami Sindi.
Marsel dan Nesa mencoba menenangkan Mami Sindi sambil mengatakan kalau mungkin saja Anggin sedang lapar dan mencari makanan di luar.
"Ya, masak tengah malem kayak gini. Lagian, dirumah ni juga ada makanan. Mami takut ada apa-apa sama Anggin, sekarang kalian cari Anggin deh."
"Apa!, kita Mih. Udah lah Mi, nanti Anggin juga balik sendiri. Lagian Anggin kan udah gede juga" sahut Marsel.
"Lu nggak mau cari adek lu?. Yaudah kalo gitu, biar Mami yang cari."
Marsel menghentikan maminya, dengan wajah terpaksa ia menurut dan segera mencari Anggin bersama Nesa.
"Yaudah, Iya. Kita cari Anggin."
Toleh-toleh Marsel dan Nesa yang mencari Anggin sambil mengendarai mobil. Keluh mereka setelah beberapa lama mencari tapi tak kunjung menemukan Anggin.
"Kemana sih Anggin?"
Geleng Nesa, "Tapi, tadi pas gue bangun pintu balkon kamar Anggin udah kebuka gitu. Atau jangan-jangan, Anggin loncat dari balkon."
"Heh, adek gue tu manusia. Lagian tu balkon tinggi, adek gue juga nggak bisa loncat-loncat kayak gitu."
...
Keesokan pagi, Mami Sindi yang terus menangis karena Anggin tak kunjung pulang. Marsel dan Nesa terus menenangkannya, sampai Marsel merasa lelah dan mengantuk karena tak tidur semalaman. Nesa yang melihat Marsel tertidur langsung menepuk pundaknya, ia pun terkejut dan terbangun dengan mata yang begitu berat.
"Apasih!" ucap Marsel berbisik dengan mata sayu.
"Tidur aja kerjaan lo!"
"Berisik banget deh (dumelnya berbisik). Mi, udah dong. Mami nggak capek apa, semalem nangis terus. Marsel aja capek dengerinnya" lanjut Marsel menenangkan Maminya.
Dengan nada kesal dan lucu, "Ape lu bilang?. Oh, jadi lu kagak ikhlas. Yaudah, lu pergi!"
"Eh, nggak-nggak gitu Mi. Maksud Marsel, Mami dari semalem nangis terus emang kagak kering apa tu air ludah. Eh, maksudnya air mata."
"Udah deh ya, daripada lu di sini. Mending cari tu adek lu, dari semalem kagak pulang" rengek Mami Sindi.
Marsel pun mengatakan pada maminya kalau dia dan Nesa sudah mencari Anggin tapi tetap tidak bisa menemukannya, ia bingung harus mencari kemana lagi Anggin. Angguk Nesa mengerutkan bibir, Mami Sindi yang tak ingin tahu hanya ingin Anggin kembali pulang dengan selamat.
"Hee.. Anggin."
***