REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Basket


Bergantian siswa/i memasukan bola basket kedalam ring, Anggin mencoba dengan mata fokusnya memasukkan bola. Marsel mengejek dengan mengatakan kalau ia tidak akan bisa memasukkan bola itu.


"Hhaha, sok-sok'an. Paling juga nggak masuk," cibir Marsel.


Sahut Anggin dengan kesal, "Ihh, lo liat ya bang."


Sekali lempar bola itupun masuk, dengan senang Anggin balik mencibir Marsel.


"Masuk ye masuk."


"Yah, gitu doang aja. Kecil buat gue, Lo liat ya (PD Marsel)."


Gaya lembaran Marsel yang seolah-olah pemain handal, namun sayang bola itu tidak masuk kedalam ring.


"Pakek acara nggak masuk segala," lirihnya.


Anggin mencibir dan tertawa, "Hha, gayanya kayak pemain handal. Masukin gitu aja nggak masuk, Hha."


Kesal Marsel mendengar cibiran Anggin, "Itumah sengaja nggak gue masukin, biar lo seneng aja."


"Ngeles aja lo."


Sementara Riko dengan wajah terpaksa ya harus mengikuti kegiatan disekolah itu, dengan sekali sentilan bola itu langsung masuk. Siswa/i yang berada dilapangan dibuat kagum olehnya, tak terkecuali Anggin mendekati Riko.


"Gilak, lo hebat banget. Cuma disentil langsung masuk lo, gue pengen deh kayak lo" rayu Anggin.


Sahut Riko, "Biasa aja, gue sering latihan aja makannya gue bisa" segera pergi.


Wajah cemberut Anggin, Nio datang dengan senyumnya menawarkan diri pada Anggin kalau dia mau mengajarinya basket.


Tolak Anggin mentah-mentah, "Ihh apaan sih lo, ikut-ikut aja deh. Mending gue nggak bisa sama sekali, daripada gue diajarin sama lo!."


Anggin yang berjalan pergi, dan tiba-tiba ia terhenti karena pundaknya yang terasa perih dan begitu sakit tepat pada tanda belati.


Anggin yang tidak fokus, tak menyadari kalau ada bola basket melayang kearahnya. Riko yang melihat langsung melesat cepat menolong Anggin dengan menghalangkan dirinya sambil memegang kedua pundak Anggin. Bola itupun mengenai punggung Riko, namun karena kekuatan Riko membuat bola itu mantul dengan keras dan tak sengaja mengarah pada kaki Marsel seketika membuatnya jatuh.


"Aduhh, itu punggung apa batu?" lirih marsel kesakitan mencoba bangkit.


Nio mencoba menolong, "Sel, lo kenapa?."


Sahut Marsel yang kesakitan dengan kesal, "Lagi push up!. Udah tau jatoh, pakek nanya lagi."


Anggin yang kaget langsung bertanya pada Riko apakah dia baik-baik saja, Riko pun menjawab kalau dia tidak kenapa-napa dan segera pergi. Tertegun bingung Anggin dengan apa yang terjadi, Nesa menghampiri Anggin dan bertanya ada apa dengannya.


"Nggak tau kenapa tadi tiba-tiba pundak gue sakit banget, dan perih gitu."


"Apa sekarang masih sakit?."


Anggin menggelengkan kepala dan menyuruh Nesa melupakan soal pundaknya. Ia lalu bertanya pada Nesa bagaimana punggung Riko yang bisa memantulkan bola dengan keras, Nesa pun ikut heran dan dibuat bingung dengan itu.


Lanjut Nesa, "Ya, mungkin itu cuma kebetulan aja gin."


Anggin masih tertegun bingung, lalu Nesa mengajaknya pergi dari sana karena ini sudah masuk jam istirahat.


"Aduhh, badan gue. Bisa-bisanya bola tu bola kearah gue, sengaja emang tu anak. Dia belom tau siapa gue (berdiri memegang pinggangnya), awas aja dia gue terbangun, gue kirim ke planet luar Indonesia."


Sahut polos Nio, "Luar angkasa!."


"Iya itu tadi maksud gue."


Niopun ikut heran, "Tapi bisa ya, bola yang cuma kena punggung bisa mantul sekenceng itu dan mana jaraknya juga lumayan jauh."


Mencoba berpikir keras.


***