REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Ikut!


Berjalan Anggin menuju meja makan dengan seragam sekolah yang sudah rapi untuk sarapan pagi, senyumnya menyapa lembut sang Mami.


"Pagi Mih."


"Adudu, pagi juga sayang."


Lirik Marsel yang sedang makan nasi goreng dengan raut wajah mengejek, "Abang lu disini, nggak disapa."


"Pagi Abangku, yang nyebelin."


Duduk Anggin disamping Marsel sambil mencomot sepotong kue yang ada diatas meja.


"Wih, ada kue ni (sekali suapan). Mmm, manis banget. Pasti Mami yang buat kan?" puji Anggin.


"Ya pasti lah, beli" receh Mami Sindi.


Bisik Marsel mencibir Anggin dengan menanyakan sejak kapan serigala mulai makan kue.


"Sejak laper!"


Selesai makan, segera Anggin berpamitan pada Maminya untuk berangkat terlebih dahulu. Mendengar itu, Marsel pun makan dengan tergesa mengatakan kalau ia juga akan berangkat bersama adiknya itu.


"Berangkat bareng!" ucap Marsel dengan mulut yang penuh dengan nasi.


"Dihhh, ngikutin aja deh. Lagian, gue mau jalan kaki."


"Nggak papa, gue ikut" meminum segelas air dan segera berpamitan dengan sang Mami


"Tumben banget jalan kaki, nanti capek. Udah, naik mobil aja" khawatir Mami Sindi.


"Biar sehat Mi, biar sehat. Iyakan Dek" menyenggol dengan keras pundak Anggin.


Kerut bete alis Anggin, "Hmmm.."


"I-iya udah deh, terserah kalian berdua" tatapan bingung Mami Sindi


Bersalaman Anggin mencium tangan sang Mami dan disusul Marsel.


"Sekali lagi deh Mih," tambah Marsel.


"Jarang banget tu anak berdua akur. Tapi sekalinya akur, berangkat sekolah aja jalan kaki" heran sekaligus bahagia Mami Sindi.


Didepan rumah, dumel Anggin pada Marsel bertanya-tanya kenapa ia mengikutinya.


"Ya gue pengen ngerasain aja, melesat kayak lu gitu. Sat set sat set," bergaya seperti ninja.


Tanpa basa-basi lagi, Anggin segera menggandeng tangan Marsel dan melesat pergi.


Henti langkah Anggin dipertengah perjalanan, lirih Marsel terheran-heran memuji kekuatan adiknya.


"Widihh, cuma sekian detik udah sampek sini aja. Keren.."


"Bingung, heran, terkesan?. Udah, biasa aja nggak usah terlalu memuji gitu," ucap Anggin dengan PD.


"Besar kepala tuh. Emang cuma serigala jadi-jadian aja yang bisa, nanti gue bakal buktiin kalau manusia juga bisa" jelas Marsel dengan raut wajah lucunya.


...Endus Anggin dengan tatapan tajam dan mata menyala seperti merasakan ada suatu hal yang membuat hasrat serigalanya tiba-tiba muncul. Bingung Marsel menatap polos Anggin, mendekatkan wajahnya begitu dekat di Wajak sang adik....


Terkejut Anggin menoleh melihat wajah Marsel yang didepannya, lirih Anggin menepuk lirih pundak abangnya.


"Ihhh, lu ngapain sih!. Muka lu serem tau!" cetus lucu Anggin.


"Lagian muka lu kenapa gitu, ngendus-ngendus (mengikuti gaya Anggin). Perasaan badan gue nggak bau-bau amat, atau hidung lu pilek?" jail Marsel menarik lirih hidung adiknya.


"Ihh, apaan sih. Lepasin!" risih Anggin.


Kembali Anggin menatap tajam sekeliling, dan melihat sesuatu yang tiba-tiba melesat dengan cepatnya. Dari balik pohon ia melihat seseorang, yang tidak lain adalah vampir yang pernah ia temui sebelumnya.


"Dia?" lirih Anggin.


Tersadar vampir itu langsung melesat pergi, begitu juga dengan Anggin mencoba menyusulnya namun sejenak ia ditahan oleh Marsel.


"Heh, lo mau pergi kemana?"


"Bentar, gue ada urusan."


"Nggak nggak, orang kita mau berangkat sekolah juga" terus Marsel menahan tangan Anggin.


"Bentar aja, ini urusan bangsa vampir dan serigala. Jadi lo tunggu sini aja, gue sebentar" pergi begitu saja.


Dumel Marsel dengan wajah ketakutan menoleh-noleh tak ada seorang pun yang lewat. Karena tak mau lama menunggu Anggin, ia pun langsung berlari terbirit-birit.


...