REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Cemburu!


Disekolah, Seli yang sedang melesat tak sengaja menabrak Riko yang juga sedang melesat dan membuatnya langsung jatuh ke pelukan Riko, tertegun saling menatap. Seketika Anggin langsung menghentikan langkah kakinya dan membuat Nesa tak sengaja menabraknya dari belakang.


"Aduh, Anggin! (memegang kening). Lu bisa nggak sih kalau berhenti nggak mendadak kayak gitu" kesal Nesa.


Anggin hanya terdiam bete dengan tatapan yang terfokus pada Riko dengan mulut seolah berkomat-kamit.


"Lu kenapa sih Gin, sariawan mulut lo?" tanya Nesa.


Tatapan Nesa melihat sorot mata Anggin yang ternyata tertuju pada Riko dan Seli, "Hmm.. pertengkaran rumah tangga. Mending gue pergi aja deh" gumamnya mengindip pergi meninggalkan Anggin.


"Lo liat kan, Nes. Ngeselin kan Riko!. Baru juga dimaafin, udah buat masalah aja. Ini nggak bisa dibiarin, ayo ikut gue Nes" tak sadar Anggin kalau ternyata Nesa sudah pergi meninggalkannya.


Meraba-raba tangan Nesa, tolehnya sedikit terkejut saat melihat Nesa yang sudah menghilang, "Nesa!. Nggak setia kawan banget sih jadi temen. Udah tau temennya lagi sedih, bukannya ditenangin malah ditinggalin" lanjutnya.


Hela nafas Anggin membenarkan rambut dan berjalan sok PDnya menghampiri Riko, "Hmmm.." liriknya.


Gugup Riko dengan kedatangan tiba-tiba Anggin dan langsung melepaskan pelukannya pada Seli.


"Ma-makasih ya. Gue, pergi dulu" ucap Seli.


"Kamu disini?" polos Riko.


"Hmm.."


"Itu tadi-.." terpotong.


"Nggak usah dijelasin, aku juga nggak nanya" jutek Anggin melangkahkan kaki pergi.


Henti Riko memegang tangan Anggin, menahan senyum melihat raut wajah Anggin yang terlihat cemburu.


"Tadi dia mau jatuh, makannya aku tolongin" jelas Riko.


"Ya kan aku nggak nanya. Mau kamu peluk, mau kamu gendong kek, bodo amat" gemas wajah Anggin.


Riko pun memanas-manasi Anggin dengan mengatakan kalau ia akan menyusul Seli, lirik sinis Anggin langsung menghentikan Riko dengan memegang pundaknya.


"Kamu mau kemana?"


"Mau gendong Seli, siapa tau kakinya tadi sakit kan."


Gemas Riko mencubit pipi Anggin, risih Anggin kesakitan meminta Riko untuk melepaskan cubitannya.


"Duhh.. sakit tau, jahat banget."


"Duhh.. sakit ya, kasian (mengelus lembut pipi Anggin). Udah dong, jangan cemberut gitu. Aku beneran nggak ada apa-apa sama Seli, aku cuma nolongin dia aja."


"Bohong!"


"Beneran sayang," mengelus rambut Anggin.


Salah tingkah Anggin dengan senyum malunya. Tiba-tiba, datang Marsel dan Nio langsung merusak suasana dengan tingkah kocak mereka.


"Hemm, ada Abangnya nih!. Mesra-mesraan disekolah," ucap Marsel.


"Ada calon suaminya juga nih, main pegang-pegang aja" sambung Nio.


"Nggak gue restuin. Sekali lagi lu bilang, gue botakin juga lu" sahut Marsel.


Jijik Anggin menaikan sebelah bibirnya saat mendengar ucapan Nio, "Sembarangan aja lu. Siapa juga yang mau jadi istri lu!. Awas lu ya, gue cubit juga bibir lu."


Wajah humor Nio memegang rambut dan bibir, "Nggak papa deh, rela botak demi cinta" gumamnya.


Lirih Marsel menarik tangan Anggin agar sedikit menjaga jarak dari Riko, begitu juga Nio ikut menarik sebelah tangan Anggin. Risih Anggin meminta mereka untuk melepaskan tangannya. Teriak Anggin memanggil Buk Mona (wali kelas Marsel dan Nio) yang kebetulan lewat.


"Waduhh.. Buk Mona" lirih Marsel.


"Ada apa ini?" tanya Buk Mona dengan wajah garang nan lucu.


Sahut Anggin mengadu kalau Marsel dan Nio sedang mengganggunya, "Liat nih Buk, masak tangan aku ditarik-tarik gini, kan sakit. Ini udah termasuk. KDLS, kekerasan dalam lingkungan sekolah."


"Kalian berdua ini ya, emang biang masalah deh. Dimana ada kalian, pasti disitu ada masalah. Lepasin tangan Anggin, sekarang ikut Ibuk."


"Bai bai (lambai tangan Anggin). Ayo sayang, kita masuk kelas" menggandeng tangan Riko.


...