REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Purnama selanjutnya!


Terhenti Anggin di depan sebuah ruangan, kesalnya terbayang saat seorang wanita memegang tangan Riko.


"Nggak, dia bukan cewek biasa. Gue mencium aroma vampir dari tubuh dia, siapa sebenarnya dia" sejenak berfikir.


"Nggak Gin, lupain Riko. Semua udah berubah, buang jauh-jauh dia dari hidup lo" lanjutnya menarik nafas.


Ia kembali melesat pergi, namun tak sengaja ia menabrak Pak Rama dan membuatnya jatuh terpental. Teriak kesakitan Pak Rama memegang pinggang, terkejut Nesa yang melihat segera berlari menghampiri Anggin.


"Anggin!.."


Anggin ikut melongo terkejut, "Bapak.." lirihnya.


"Waduh Gin, lo apain Pak Rama bisa mental gitu" sambung Nesa.


"Gue nggak sengaja" lucu Anggin.


Mereka segera menghampiri dan menolong Pak Rama.


"Duh Pak, maaf maaf. Anggin nggak sengaja, Anggin nabraknya kurang keras ya" polosnya.


Senggol Nesa berbisik sambil memberi isyarat kalau justru dia menabraknya terlalu keras.


"Oh iya lupa. Ma-maksudnya, Anggin keras banget ya nabraknya."


"Ya kalo kamu nggak keras nabraknya, nggak mungkin bapak mental sejauh ini Anggin.. Kamu nggak bisa hati-hati apa apa kalo jalan." wajah lucu Pak Rama.


"Anggin, udah hati-hati Pak jalannya. Bapak aja yang ngalangin jalan" ceplos Anggin.


"Kamu nyalahin bapak!"


Tersadar Anggin dengan lucunya kembali meminta maaf sambil menampar lirih mulutnya, "Duh mulut-mulut."


Kring kring kring..


Bel masuk sekolah, sejenak Anggin dan Nesa saling menatap dan memberi isyarat. Mereka segera berlari meninggalkan Pak Rama.


"Masuk kelas Pak, masuk" teriak mereka sambil berlari.


"Emang bener-bener ya tu anak dua."


...


Pulang sekolah, Anggin memutuskan untuk pulang terlambat dengan beralasan kalau ia ada kesibukan.


"Gue liat-liat, akhir-akhir ini banyak banget kesibukan lo" cetus Nesa.


"Yee, gue kan orang penting. Udah sana, kalian pulang aja duluan."


"Jangan macem-macem lo" ancam Marsel.


"Iya.. Abangku sayang. Udah sana sana."


Saat kakinya akan melangkah untuk melesat, tiba-tiba Anggin di hadapkan dengan keberadaan Seli yang ada di depannya. Tatapan tajam Seli berbalas dengan tatapan datar Anggin.


"Seli, vampir yang memiliki kasta. Betul?"


"Gue heran, kenapa Riko biarin Serigala lemah kayak lo ini tetep hidup. Harusnya, lo habis sekarang!"


"Dan vampir pecundang seperti lo, nggak pantes ada disini" Tenang Anggin.


Geram tangan Seli dengan tatapan penuh kebencian, ia langsung mendorong Anggin ke dinding sambil memegang erat lehernya. Senyum santai Anggin tak mau mengotori tangannya dan tidak memberikan perlawanan.


Riko yang melihat Anggin dan Seli langsung menghampiri mereka dan meminta keras Seli melepaskan tangannya. Tekan Seli kalau dia tidak akan melepaskan serigala itu.


"Gue bisa aja gunain belati vampir yang ada dalam diri gue untuk ngabisin lo. Tapi sayangnya, gue bukan pecundang kayak lo. Habisi gue, kalo lo bisa" ucap Anggin.


"Kurang ajar lo!" Seli semakin memperkuat cengkraman tangannya.


Riko langsung memegang keras tangan Seli dan langsung menariknya.


"Lo nggak bisa lakuin ini!. Serigala dan vampir tau, kapan pertumpahan darah itu terjadi!"


"Tapi gue bisa lakuin ini, Riko!" tekan Seli.


"Seorang vampir yang memiliki kasta, tapi nggak tau kapan harus menyerang dan tetap tenang. Atau jangan-jangan, kasta lo itu hanya kedok untuk menutupi kebenaran kalo lo itu adalah vampir yang lemah?" lirih Anggin.


Emosi Seli semakin membara dengan taring yang keluar ia mencoba menyerang Anggin. Tanpa berkata-kata lagi, Riko menarik dan membawa Seli pergi dari tempat itu.


Geram mulut Anggin lalu melesat pergi. Henti Riko melepaskan Seli dan menegurnya kalau yang ia lakukan itu tidaklah benar.


"Kenapa, kenapa nggak bener!. Oh, aku tau. Kamu sengaja ngelindungi gadis serigala itu kan, biar dia bisa hidup dan bunuh semua bangsa vampir!. Jawab Riko, jawab!"


Tertegun sejenak Riko "Nggak, sama sekali nggak!. Aku ngelarang kamu, karena itu bukanlah saatnya. Waktunya akan tiba saat gerhana bulan muncul, dan bukan sekarang. Kamu udah tau ini dari awal, tapi kenapa bisa-bisanya kamu lakuin ini!"


"Karena aku, udah nggak sabar buat bunuh gadis serigala itu."


"Dengan apa, dengan tangan kamu, dengan kekuatan kamu?. Nggak akan bisa Seli. Cuma belati pusaka yang bisa membunuh serigala putih, aku harap kamu nggak lupa" ucap Riko segera pergi.


Tiba Anggin di dalam hutan dan langsung menemui Bundanya, senyum Bunda Astra memeluk Anggin.


"Bunda, baik-baik aja kan?"


"Bunda baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir. Perlahan, kekuatan kita sudah mulai pulih."


Bunda Astra melihat luka di leher Anggin, cemasnya bertanya apa yang terjadi dengannya .


"Ng-nggak Bun, nggak papa."


Endus lirih Bunda Astra mengatakan kalau itu bukanlah luka biasa melainkan ulah dari seorang vampir. Angguk Anggin mengiyakan ucapan bundanya.


"Ternyata dia sudah datang. Itu artinya, peperangan akan terjadi saat bulan purnama berikutnya tiba" lirih Astra.


Saat mendengar kata perang, mata bangsa serigala langsung menyala.


***