REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Pendekatan


"Jadi, lo tau siapa gue?" lirih Cio.


Angguk Marsel mengiyakan, mengatakan kalau ia tau siapa dia yang sebenarnya.


"Dari awal gue emang udah curiga. Dan semakin kesini, ternyata kecurigaan gue terbukti benar. Kalau lo memang bukan manusia, tapi.. (mendekatkan wajahnya pada Cio).


Ciopun semakin cemas menatap mata Marsel. Dengan humor Marsel mengatakan kalau Cio memang bukan manusia, melainkan bidadari. Hela nafas Cio dengan raut wajah berubah dingin.


"Lagian lo kenapa percaya banget sih si, sama manusia modelan kayak gini" batin Cio.


"Nggak jelas banget sih" lirih Cio.


Tawa lepas Marsel membuat Cio risih dan pergi meninggalkannya dengan wajah jutek. Susul Marsel berteriak berlari mengejar Cio.


"Tunggu beb!"


Tanya Cio dengan mata lelahnya menatap Marsel, apa yang sebenarnya ia inginkan dan apakah ia tidak punya pekerjaan selain mengganggunya. Terdiam Marsel tersenyum manis hanya menggelengkan kepala dan terus mengikutinya.


"Astaga, bener-bener beban banget ni manusia satu. Ada aja modelan kayak dia, gagal rencana gue hari ini gara-gara ini manusia" Batin Cio menatap heran Marsel.


"Terserah lo" lanjutnya.


Datar Riko melihat Anggin yang tiba-tiba ada disampingnya, Rikopun melemparkan pertanyaan pada Anggin kenapa dia bisa ada disini.


"Ya bisa lah beb. Kadang aku kalo libur, lari pagi disini. Kamu sendiri disini?. Mau lari pagi juga, atau nyari aku?" PD Anggin.


Dingin Riko mengatakan kalau dia hanya lewat saja ditempat itu, senyum Anggin dengan wajah tidak percayanya. Kemudian mengajak Riko untuk lari pagi bersamanya, tolak Riko yang beralasan kalau dia sedang ada urusan.


Rengek Anggin kembali mengeluarkan drama baru memasang wajah sedihnya.


"Hehehee.. sedih banget sih hidup aku. Lari pagi harus sendirian, mau ngajak temen tapi temen pada sibuk sendiri-sendiri. Yaudah deh, nggak ada yang peka emang" melirik tipis melihat Riko.


"Beneran!. Kamu mau nemenin aku lari pagi?" teriak senangnya.


Angguk Riko menatap lembut mata Anggin, tanpa banyak basa-basi Anggin langsung menggandeng tangan Riko.


Beberapa saat, Anggin merasa begitu lelah dan mengajak Riko untuk istirahat terlebih dahulu. Terduduk mereka dikursi taman, tanya Anggin pada Riko apakah ia tidak merasa capek setelah berlari cukup lama. Sahut Riko menggelengkan kepala, heran Anggin menatap kagum dengan wajah lelahnya dan keringat yang mengucur.


"Wih, hebat banget kamu. Padahal tadi kita lari cukup jauh, tapi setetes aja keringat kamu nggak keluar."


Berjalan Anggin membelikan Riko sebotol minum, tolak Riko dengan gugup mengatakan kalau ia tidak haus. Paksa Anggin menyodorkan minuman itu, bingung Riko mengambil perlahan.


"Ayo buruan minum, ntar kami dehidrasi lo" kembali Anggin mengambil botol minuman itu dan membukakannya untuk Riko.


"Ayo minum" lanjutnya.


"I-iya"


Riko yang tidak mau membuat Anggin curiga pun meminumnya, saat pandangan Anggin lengah iapun secepatnya memuntahkan minuman itu dari mulutnya. Basa-basi Anggin pada Riko bertanya apakah cowok seganteng dia tidak mempunyai pacar, Riko hanya menggelengkan kepala. Lirih Anggin membalik badan mengalihkan pandangan.


"Ahh, fixs. Ini emang jodoh lo gin" bisik senang Anggin.


Kembali berbalik badan menghadap Riko memasang wajah seolah tak percaya mengetahui kalau Riko jomblo, dengan PD Anggin mengatakan kalau ia juga jomblo.


"Iya, tapi gue nggak nanya" dingin Riko dengan polos.


Senyum malu Anggin, "Hhe, dasar cowok nggak peka (batinnya). Hehe iya, aku ngasih tau" bingung ia mengucap.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca👌. Beri dukungan, like, komen dan vote kalian sebanyak-banyaknya ya🤗.