
Datang Anggin menemui bangsa serigala dengan wajah datar, terkejut Laga saat melihat luka yang ada di pundak Anggin. Segera ia menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya sambil memberikan jaket miliknya.
"Dan, tanda belati itu?" lanjut Laga.
"Iya, aku udah kembaliin belati itu pada pemiliknya, bangsa vampir!"
Para bangsa serigala yang ada di tempat itupun di buat terkejut dengan pernyataan Anggin, begitu juga dengan Astra.
"Apa yang lo lakuin!" tanya Laga.
"Aku, ngelakuin hal yang bener!. Karena aku, bukan pecundang. Aku nggak akan jadiin belati itu sebagai perisai aku lagi, udah cukup. Sekarang, waktunya aku gunain kekuatan aku sebagai serigala" tekan Anggin dengan wajah penuh kebencian.
Angguk bangsa serigala yang setuju dan mendukung keputusan calon Ratu mereka.
"Bunda bangga sama kamu," lirih Astra.
Henti langkah Riko sebelum ia masuk ke dalam rumahnya, liriknya menatap belati yang ada di tangannya.
"Aku, mau kamu baik-baik aja Gin."
Segera masuk dan seolah memberi isyarat kedatangannya, saudaranya serta Tara yang mengetahui kedatangan Riko segera menghampiri, termasuk juga dengan Seli.
"Lo kenapa lagi, Riko!" ucap Cio.
Jawab Riko dengan wajah dinginnya kalau dia membawa apa yang mereka minta selama ini. Tanpa berlama-lama dan banyak kata, Riko memperlihatkan belati yang ia bawa di tangannya.
Tertegun sejenak menatap dengan senang saat melihat belati pusaka sudah kembali lagi di tangan bangsa vampir.
"Yang ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun, akhirnya kembali" lirih Cio mengambil belati itu dari tangan Riko.
"Bagus Riko, kamu berhasil merebut kembali belati pusaka ini. Belati ini akan sangat membantu kita dalam peperangan kita nanti," kata Tara.
Sahut Riko kalau ia tidaklah merebut belati itu, melainkan Anggin lah yang sudah melepaskan diri dari belenggu belati pusaka.
"Maksud kamu?" tanya Kana.
"Kalian pasti tau maksud aku" ucap Riko segera pergi menuju kamarnya.
Batin Seli bertanya-tanya dan menaruh curiga pada serigala putih itu dan Riko, karena menurutnya serigala itu tidak akan memberikan belati pusaka begitu saja pada bangsa vampir kalau mereka tidak bermain api selama ini.
"Apa selama ini, Riko sudah menjalin hubungan bersama gadis serigala itu?" batin Seli dengan tatapan tajam.
"Kalau aku bisa, aku nggak akan biarin gerhana bulan itu muncul. Dan peperangan ini nggak akan pernah terjadi lagi, tapi aku nggak bisa Gin!. Dan kamu, kenapa kamu harus lepasin belati itu dari tubuh kamu!" bingung Riko mengusap kepala.
"Kenapa kamu nggak ngerti sih Gin, kalau aku udah bener-bener jatuh hati sama kamu. Aku nggak tau lagi, setelah ini apa yang akan terjadi" lanjut Riko.
Disisi lain, berdiri Anggin memikirkan ucapan Riko padanya dengan posisi badan yang bersandar pada sebatang pohon. Laga yang melihat Anggin melamun sendirian segera menghampirinya, lirihnya menggoda Anggin untuk tidak terlalu memikirkan vampir itu (Riko).
Kerut alis Anggin, "Siapa maksud lo, Riko?"
Kerut bibir Laga mengangguk, bete Anggin meminta Laga untuk tidak bicara sembarangan kalau ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
"Lagian siapa juga yang mikirin Riko, nggak penting banget" lanjut Anggin.
"Mau lo nggak bilang sama gue sekalipun, tapi gue juga serigala, dan gue tau apa yang ada di pikiran lo."
"Sok tau. Lagian lo itu serigala, bukan dukun. Udah sana, jangan ganggu gue deh."
Liriknya dengan senyum tipis melihat wajah bete Anggin lalu memegang tangannya dan mengajaknya untuk pergi, kerut alis Anggin meminta Laga melepaskan pegangannya.
"Lagian lo mau bawa gue kemana sih, lepasin deh."
"Kita cari makanan, kita cari hewan buruan di hutan."
"Hah, maksud lo kita makan hewan mentah hidup-hidup gitu?" terkejut Anggin.
"Iyalah."
"Iyyuhh.. nggak-nggak, gue nggak mau. Masak iya, gue disuruh makan daging hewan yang masih hidup."
"Lah, kenapa?. Lo kan serigala, ya nggak heran dong."
"Heh!, lo lupa ya. Gue itu, selama 18 tahun jadi manusia. Terus, tiba-tiba gue di hadapkan dengan kenyataan kalau gue serigala. Ya gue juga belum siap lah, mana pakek acara suruh makan daging mentah lagi. Nggak, gue nggak mau. Gue mau jadi serigala vegetarian, jadi jangan paksa gue untuk berburu hewan di hutan!" bawel Anggin.
"Harusnya, lo itu jadi kambing aja, jangan jadi serigala" candaan Laga.
"Dihh, gue juga nggak mau kali jadi serigala. Mending gue jadi manusia, nggak seribet ini."
"Lo jadi serigala bawel banget sih, udah sekarang ayo ikut gue" menarik paksa Anggin dan melesat pergi.