
Klukk..
Pintu rumah terbuka, terkejut sekaligus senang Mami Sindi melihat Anggin. Mereka segera menghampiri Anggin yang pulang dengan wajah lesu. Mami Sindi memberikan pelukan eratnya, lalu menatap dengan senyum tipis Anggin. Harunya bertanya kemana ia semalam pergi dan baru pulang.
"Mami khawatir, kamu kemana sih sayang?"
Disusul Marsel dan Nesa yang menanyakan hal sama. Batin Anggin sejenak kalau ia tidak mungkin membicarakan apa yang sudah terjadi padanya, ia lalu menyangkal sebisanya kalau ia ada urusan diluar dan tidak sempat memberi tahu mereka yang sudah tertidur pulas.
"Beneran kan. Lo nggak aneh-aneh?" ucap Marsel.
"Apaan sih, ya nggak lah. Gue anak baik-baik kali."
"Emang urusan apa sih, Gin. Sampek lo bela-belain pergi malem-malem gitu. Kita khawatir tau, kita kira terjadi apa-apa sama lo."
Bingung Anggin menjawab, ia pun mencoba mengalihkan topik dan berjalan pergi ke kamarnya untuk mandi.
"Eh, Gin. Kita kan belum selesai nanyanya" teriak Nesa.
"Udah deh, nggak ada yang perlu di tanya lagi. Gue juga nggak papa" sahut Anggin.
"Yaudah ya, yang penting Anggin udah pulang dengan selamat dan baik-baik aja" lanjut Mami Sindi berjalan pergi.
Keluh Marsel sambil menguap ngantuk, ia yang begitu lelah langsung masuk ke kamar untuk mengganti waktu tidurnya semalam.
"Aneh banget sih Anggin" lirih Nesa.
Berdiri Anggin melamun dengan tangan bersandar pada dinding, ia masih terngiang dengan kejadian dan ucapan Laga. Kesal sekaligus bingung memukul dinding sedikit keras, kagetnya melihat dinding itu seketika langsung retak.
"Astaga, apa yang gue lakuin!. Anggin, begok banget sih lo."
Tarik nafas Anggin mencoba menenangkan diri, Nesa yang duduk dan mendengar suara dari kamar mandi langsung menghampiri dan bertanya pada Anggin apa yang sebenarnya terjadi. Sahut Anggin dengan gugup kalau tidak ada apa-apa, ia lalu mengambil gayung dan sekejap gayung itu langsung patah di tangannya.
"Yahh, patah" lirihnya.
"Buruan!. Gue juga mau mandi" teriak Nesa.
Sedikit lama Nesa menunggu, tapi Anggin tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia segera berdiri menuju kamar mandi meminta Anggin untuk segera keluar.
"Sebentar!"
"Lo tu ngpain sih di kamar mandi, lama banget deh."
Sejenak Nesa menyandarkan badan di pintu kamar mandi, dan tanpa aba-aba Anggin langsung membukanya dan membuat Nesa kehilangan kendali dan menabrak dinding. Teriaknya kesakitan dengan wajah lucu.
"Hee sakit.. Anggin!. Lo tu nggak bisa apa, ketok dulu gitu pintunya. Main buka-buka aja. Sakit tau" rengek Nesa segera bangkit sambil menyingkirkan rambut yang menutup wajahnya.
"Ya lagian, lo ngapain nempel depan pintu gitu. Kurang kerjaan banget deh."
Segera Anggin keluar dari toilet, Nesa dibuat terkejut dengan keretakan di dinding. Teriaknya memanggil Anggin dengan wajah melongo bertanya kenapa dinding itu bisa retak, sahut Anggin menjawab dengan santai kalau mungkin saja dinding itu retak saat dia menabraknya.
Tertegun Nesa tak percaya sambil menatap dinding, "Bisa gitu ya. Hebat juga gue, baru sekali di tabrak langsung retak gitu. Kalo dua kali bisa ambruk kali, hehe" lirihnya tertawa.
Duduk Anggin di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dibarengi Nesa yang keluar dari kamar mandi. Hela nafas Nesa berbaring di kasur dan kembali bertanya pada Anggin kemana sebenarnya dia pergi semalam.
"Kepo deh."
"Ihh, elo ya. Sebagai sahabat yang baik, gue tu takut kalo lo kenapa-napa."
"Iya iya. Tapi kan gue nggak kenapa-napa."
Kerut bibir Nesa sedikit bete. Berfikir sejenak Anggin kalau bertanya pada Nesa bagaimana jika dia melihat manusia serigala ada di depannya. Tawa Nesa mendengar Anggin membicarakan soal manusia serigala, ia lalu mengejek Anggin kalau serigala jadi-jadian itu tidak ada di dunia nyata.
"Hehe, kayaknya lo halu gara-gara semalem denger suara serigala deh Gin. Atau jangan-jangan, semalem lo pergi karena nyari serigala itu lagi. Atau nggak, lo serigalanya itu lagi?"
Tegang Anggin menelan ludah, tawa lepas Nesa mengatakan kalau dia hanya bercanda saja.
"Tegang banget muka lo."
***