
Kerut alis Laga meminta Marsel untuk melepaskan pelukannya, "Itu cuma suara serigala, bukan serigala beneran."
"I-itu suaranya deket banget, kayak ada di dalam ruangan ini. Ta-tadi, kayak ada suara benda yang jatuh juga, jangan-jangan emang ada serigala lagi di dalam ruangan ini!" parno Marsel.
"Ini ruang sekolah, bukan sarang serigala. Lagian, kalaupun ada serigala itu juga di dalem hutan, bukan di dalem ruangan" Lanjut Laga.
"Ta-tapi, tadi.." henti Marsel.
"Lebih baik sekarang kita masuk ke ruangan kita masing-masing, ini juga masih jam pelajaran kan?" sambung Riko sambil memberi isyarat Laga untuk membawa Marsel pergi dari ruangan itu.
Mau tidak mau, dengan terpaksa Laga mengangguk mengiyakan Riko dan membawa Marsel pergi. Setelah Laga dan Marsel pergi, Riko pun segera mendobrak pintu untuk melihat keadaan Anggin. Saat tiba di dalam, Riko justru tidak melihat keberadaan Anggin dan melihat jendela ruangan tersebut sudah terbuka, yang mana Anggin sudah pergi lewat jendela ruangan itu.
"Anggin" lirih Riko.
Tanpa berlama-lama, Riko mencoba mengendus perginya Anggin dan langsung melesat pergi. Disisi lain Anggin justru pergi menuju hutan, yang mana saat diperjalanan ia justru dihadang oleh beberapa vampir.
"Ternyata, yang ditunggu-tunggu datang juga" ucap salah seorang vampir.
"Akan lebih baik, kalau kalian pergi dari sini" tekan Anggin.
"Kenapa, apakah calon ratu ini takut menghadap bangsa vampir?"
"Buang-buang waktu!" kesal Anggin yang tak ingin mencari masalah dan bergegas pergi.
Namun lagi-lagi, bangsa vampir terus mengikutinya dan langsung membentuk lingkaran agar Anggin tak punya cela untuk pergi.
"Kalian, udah buat kesalahan dengan ngelakuin ini. Lebih baik, kalian minggir dan kasih jalan untuk gue pergi."
Para vampir itu justru tersenyum seolah ingin menyerang Anggin dengan taring dan mata menyala dan perlahan berjalan mendekatinya. Saling memberi isyarat, vampir itu langsung menyerang Anggin secara bersamaan. Sigap Anggin langsung menghalau vampir itu dengan kekuatannya dan membuat mereka terjatuh.
Peperangan sengit pun terjadi antara Anggin dan 4 vampir. Tak butuh waktu lama, Anggin sudah berhasil mengalahkan 2 vampir dan membuat mereka jatuh tak berdaya.
Belum sempat mengeluarkan kekuatan, tiba-tiba kedua vampir itu terjatuh dengan sendirinya. Sejenak Anggin tertegun bingung, ia merasa kalau sudah ada kekuatan dari pihak lain yang sudah sengaja menolongnya. Tak ingin berlama-lama dan menimbulkan banyak masalah, Anggin pun segera pergi dan meninggalkan para vampir itu.
Tak lama Riko datang, menatap para vampir yang tergeletak tak berdaya. Melihat salah seorang vampir yang masih sadar, Riko lantas bertanya apa sebenarnya yang sudah terjadi pada mereka.
"Se-serigala putih" ucapnya langsung hilang kesadaran.
"Anggin?" paham Riko.
Bingung Anggin saat langkahnya terhenti di sebuah tempat tak berpenghuni, "Tempat apa ini?"
Penasaran Anggin sambil berjalan lirih masuk ke dalam. Toleh-toleh ia melihat sekeliling tempat tua itu, saat masuk lebih dalam Anggin pun dikejutkan dengan keberadaan Bundanya yang ternyata ada ditempat yang sama. Teriak lirih Anggin memanggil sang Bunda yang yang tak sadar dan segera melesat menghampirinya.
Panik Anggin mencoba menolong dengan mengeluarkan kekuatannya untuk mengobati beberapa goresan luka yang membuat sang Bunda begitu lemah. Sayu Astra membuka mata memanggil lirih Anggin.
"Anggin, kamu disini?"
"Bunda, Bunda baik-baik aja kan?. Sekarang kita pergi dari sini ya?"
"Kamu nggak perlu khawatir, Bunda baik-baik aja."
"Ini pasti ulah para vampir licik itu?" lirih kesal Anggin mencoba memapah sang Bunda.
Saat berbalik, Anggin langsung dikejutkan dengan keberadaan Riko yang muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Kamu?"
***