REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Darah yang menetes


Masih lanjutan episode sebelumnya yah😊.


Geleng Riko menatap lembut Anggin, "Menyiksa, karena harus melepas dengan alasan dinding yang begitu tinggi."


Bingung Anggin mengerutkan alis mengatakan kalau ia tak paham dengan ucapan Riko.


"Aku berharap lebih kalau kamu nggak akan pernah tau" batin Riko.


Senggol Anggin bertanya pada Riko kenapa ia malah melamun, gugup Riko menyuruh untuk melupakan ucapannya. Angguk Anggin mengerutkan bibir.


"Oh iya, kamu sendirian?" lanjutnya.


"Nggak, sama kamu."


"Hehe, iya aku tau kalo sekarang kamu sama aku. Maksud aku, dua saudara kamu kemana?"


"Kenapa kamu cari mereka?. Memangnya, kehadiran aku nggak cukup buat kamu aman ya?"


"Ya-ya, nggak gitu maks-..."


Dengan tawa lirih, Riko memotong ucapan Anggin karena melihat wajahnya yang begitu cemas. Ia pun langsung menggoda dan mengatakan kalau ia lebih suka pergi sendiri, apalagi saat ia pergi selalu tak sengaja bertemu dengannya.


"Mau heran, tapi kalau jodoh ya gimana lagi" spontan Riko bicara.


Begitu juga Anggin yang salah tingkah mendengar ucapan Riko, mengalihkan pandangan dengan senyum senangnya. Sambil memegang dada mencoba menenangkan diri agar tidak terlihat lebay di hadapan Riko.


"Tarik napas, buang. Huhhh, calm Gin calm oke."


Intip Cio di balik pohon memantau Anggin dan Riko dengan tubuh dan kepala berbalut jaket. Ia terpaksa membuntutinya karena merasa kurang percaya pada Riko dan akan berbuat nekat pada siapapun yang akan menghalangi tujuan mereka, tidak terkecuali dengan manusia.


"Entah kenapa, gue ngerasa elo udah sangat jauh dari tujuan kita. Gue nggak bisa biarin lo terus menerus larut dalam perasaan yang salah ini, Riko. Jika lo nggak bisa, biar gue yang lakuin" lirih Cio dengan senyum licik dan mata menyala.


Menutup sebagian wajah dengan jaket, tanpa pikir panjang Cio langsung melesat membawa pergi Anggin dari hadapan Riko dengan cepat. Ia berniat untuk menghabisi Anggin karena ia takut akan bisa mengancam keberadaan mereka.


"Cio?" lirihnya.


Segera Riko mencari Cio, ia tak paham dengan pola pikirnya yang begitu gegabah dan merasa tindakan Cio sudah kelewatan.


Terhenti Cio di dalam hutan, mendorong keras Anggin hingga membuat badannya terbentur ke pohon dan tergores. Kesakitan Anggin dengan wajah terlihat takut memegang pundak yang terluka dan menatap sekeliling hutan.


"Si-siapa kamu?. Kenapa kamu bawa aku kesini, apa sebenarnya yang mau kamu!" nada gemetar.


Dengan wajah yang tertutup dan hanya bibir yang terlihat sambil mengendus darah yang menetes, entah kenapa Cio merasa darah itu sangatlah familiar dan begitu memikat yang seolah membangunkan jiwa vampirnya.


Penciuman Riko pun teralih oleh bau darah itu, ia langsung terfikir pada Anggin dan mengira apakah itu darah miliknya.


"Apa yang terjadi pada Anggin, apa dia baik-baik saja. Aku harus temuin dia, sebelum terjadi sesuatu hal yang nggak diinginkan."


Tatapan tajam Bunda Tara merasakan tetesan darah yang memikat, "Serigala?"


Tak terkecuali dengan Laga, Data dan Stiv yang juga merasakan hal yang sama. Mereka langsung peka pada darah itu, yang tidak lain adalah darah dari calon Ratu Serigala. Mereka pun segera pergi dan mencari sumber darah itu.


"Ada apa dengan darah manusia ini?. Darah yang tajam, energi yang kuat dan memikat" batin Cio sambil perlahan mendekat.


Telan ludah Anggin dengan wajah cemas ketakutan, "Ka-kamu mau ngapain?. Kamu jangan macem-macem ya!"


"Kamu tenang aja. Kamu nggak perlu takut, aku akan membuat pergi tanpa merasakan sakit" Senyum Cio penuh arti.


"A-apa maksud kamu. Sekali lagi aku ingetin kamu untuk pergi dari sini, pergi!" gemetar Anggin menunjukkan jari meminta orang itu pergi


Cio tak mendengar dan terus mendekat pada Anggin.


***