
"Kamu, disini?" ucap Riko.
Dingin Anggin berbicara, "Kenapa, kenapa kaget gitu?. Ini ulah lo kan, bener-bener keterlaluan!. Urusan kita, belum selesai."
Bergegas Anggin pergi membawa Bundanya keluar dari tempat itu. Kerut alis Riko dengan mata menyala dan taring keluar menyusul pergi.
Tiba Anggin di persembunyian bangsa serigala dan mendudukkan perlahan Bundanya. Data dan Stiv yang mencium kedatangan merekapun segera menghampiri, cemas mereka bertanya pada Anggin perihal keadaan sang Ratu.
Tak berselang lama Laga datang dan dibuat terkejut dengan keadaan Bunda Astra, sahut Anggin dengan kesalnya menyalahkan bangsa vampir.
"Kalian nggak perlu khawatir, bunda baik-baik saja. Bunda nggak bisa menjamin 100% kalau ini ulah bangsa vampir atau bukan, tapi yang pasti, justru dialah yang sudah menyelamatkan Bunda dari kematian" kata Astra.
Tertegun sejenak mereka mendengar ucapan ratu serigala, dengan singkatnya Anggin meminta agar mereka tidak begitu percaya dengan kebaikan bangsa vampir padanya. Karena menurutnya, apa yang di lakukan bangsa vampir itu hanya sebagai jebakan agar membuat mereka (bangsa serigala) merasa lengah dan memanfaatkan kesempatan.
...
Wajah letih Marsel membuka pintu rumah sehabis pulang dari sekolah, saat masuk ke dalam rumah ia dikejutkan dengan keberadaan Anggin yang duduk di ruang tamu sambil menonton tv dan asiknya menikmati makanan ringan. Kerut bibir Marsel dengan raut wajah heran berjalan menghampiri Anggin.
"Waduh, enak banget ya. Duduk santai, cekikin nonton tv sambil makan ciki" mengambil bungkus makanan di tangan Anggin.
Terkejut Anggin tertegun melihat Marsel.
"Wah, bener-bener lo ya. Gue bilangin Mami lo ya, kabur saat jam pelajaran" sambung Marsel.
Menganga Anggin dengan wajah sebel dan lucunya, "Eh siapa bilang gue kabur, gu-gue, kepala gue pusing (memegang kepala) makannya gue pulang duluan" alasannya.
"Pusing, tapi mantengin tv terus" lirih Marsel.
Berfikir Marsel sambil melihat jam dinding dengan gugupnya ia pun beralasan kalau kepalanya juga terasa pusing dan terpaksa harus pulang lebih awal.
"Duh, lemes banget badan gue. Kepala gue juga pusing, nih ambil makanan lo, gue mau istirahat di kamar."
Berjalan Marsel meninggalkan Anggin sambil melirik mengintip tipis dengan tawa renyahnya. Kerut alis Anggin menaikan sebelah bibir dengan tatapan sinisnya.
"Dihh, alesan."
...
Petang hari, heboh Anggin yang sedang memasak di dapur sambil berteriak-teriak bernyanyi.
"Kukira kita asam dan garam, Dan kita bertemu di belanga, Kisah yang ternyata tak seindah itu. Kukira kita akan bersama, Begitu banyak yang sama, Latarmu dan latarku. Kukira, takkan ada kendala, Kukira inikan mudah, Kau aku jadi kita."
Datang Marsel berdiri di depan pintu dengan wajah lesunya, menggaruk kepala merasa terganggu dengan suara berisik Anggin.
"Anggin!. Berisik banget sih lo. Lo tau nggak sih, ni seisi rumah geter semua karena suara lo. Orang masak udah kayak konser aja, ganggu orang lagi tidur aja deh" cibir Marsel.
Toleh Anggin dengan wajah tengilnya, "Dihh.. bilang aja lo sirik kan, karena suara lo serek. Lagian, Mami juga biasa-biasa aja, nggak keganggu."
Lirih Marsel berjalan menghampiri Anggin, "Gini-gini, banyak yang naksir. Lu, kalo bukan adek gue aja, udah pasti lu ngejer-ngejer gue kan?. Udah ngaku aja" pedenya.
Jijik Anggin menaikan sebelah bibir, "Dihh, PD banget lu bang jadi manusia. Kelamaan jomblo, halunya jadi tinggi!"
...