
Masih lanjutan episode sebelumnya ya guys😉.
Jangan lupa kasih dukungan ke karyaku ya🔥👍.
Lirik Seli melihat Anggin dari kejauhan yang sedang berperang dengan bangsa vampir. Sejenak ia berfikir untuk melakukan sesuatu yang bisa melumpuhkan serigala putih itu.
"Apa yang harus gue lakuin?" lirihnya.
Seli yang melihat Astra dan Riko sedang berperang seolah mempunyai rencana yang akan menguntungkan bangsa serigala.
"Benteng yang besar harus dijatuhkan lebih dulu, supaya yang kecil terkena runtuhannya" ucap Seli dengan senyum licik.
Tiba-tiba dari tangannya, Sevi membawa belati pusaka bangsa vampir yang berhasil ia curi secara diam-diam. Fokus Seli memegang belati itu dengan kain pelindung agar tidak meninggalkan jejak, tatapan tajamnya mengincar mangsa.
"Kesempatan, tidak akan datang dua kali" gumam Seli.
Tanpa membuang waktu lagi, segara Seli melempar belati itu. Lurus belati diiringi tatapan tajam Seli, belati pun berhasil menembus jantung Astra sang ratu serigala dan membuatnya jatuh tersungkur tak berdaya ditepati berakhirnya peperangan.
"Tepat sasaran" raut wajah senang Seli.
Tertegun kaget Riko bingung bagaimana bisa tiba-tiba belati pusaka melesat ke jantung Astra, segera Riko menolong ratu serigala dengan mencabut belati itu dari jantungnya
"Bunda?. Bunda yang kuat ya, saya akan keluarin belati itu" ucap panik Riko.
"Aaaaa!"
Teriak kesakitan Astra membuat bangsa serigala pun panik, begitu juga dengan Anggin. Toleh kaget mereka melihat Astra jatuh tak berdaya ditangan Riko dan segera melesat menolong Astra.
"Saya, titip Anggin" kata-kata terakhir Astra pada Riko sebelum kepergiannya.
Terus Riko mencoba membangunkan Astra, namun takdir berkata lain, Astra pun telah tiada.
Tak lama, bangsa serigala datang dengan terkejut melihat Astra yang sudah tak sadar dengan bersimbah darah.
Salah paham bangsa serigala begitu juga dengan Anggin, saat melihat Riko memegang belati pusaka yang berlumuran darah. Merekapun mengira, kalau Rikolah yang sudah membunuh ratu mereka.
"Apa yang lo lakuin, lo tega Riko, lo jahat!"
"A-aku nggak ngelakuin apa-apa, Gin. Dan belati ini, bukan aku yang lakuin."
"Omong kosong!. Ternyata bener, kamu ngedekitin aku cuma mau cari kesempatan buat nyakitin bangsa aku. Kamu bener-bener tega, Rik."
Datang keluarga Tara menghampiri Riko, sahut Seli mencoba membela Riko dari bangsa serigala, kalau dalam peperangan adalah hal wajar jika ada yang harus tiada (gugur).
"Karena dalam peperangan hanya ada 2 kata. Menang, atau binasa. Ayo Riko, kita pergi. Kita siapkan diri kita dipeperangan selanjutnya," lanjut Seli.
Segera Seli membawa Riko pergi diiringi raut wajah kesedihan Riko yang paham dengan perasaan Anggin.
...
Kembali ditempat persembunyian bangsa serigala, terpukul Anggin melamun sendiri mengingat kebersamaan yang terbilang singkat.
"Kenapa Bunda ninggalin Anggin secepet ini" menghapus tetes air matanya.
Datang Laga mengelus lembut pundak Anggin mencoba menenangkannya, ucap Laga mengatakan kalau ia juga merasakan kesedihan yang sama karena kehilangan ratu serigala.
"Kamu paham kan, kenapa aku minta kamu untuk nggak terlalu deket sama bangsa vampir. Ya karena ini, karena aku takut kejadian ini terjadi sama kamu. Setelah kehilangan Bunda, sekarang cuma kamu yang bisa memimpin bangsa serigala. Dan kita nggak mau lagi kehilangan Ratu kita."
"Sekali lagi aku bodoh karena cinta. Aku nggak nyangka kalau Riko akan ngelakuin ini, nusuk aku dari belakang sedalam ini" senyum sedih Anggin.
"Kita nggak bisa mengubah masalalu. Jadi sekarang, kita pikirin masa yang akan datang. Akan seperti apa bangsa kita, semua ada ditangan kamu Anggin. Dan secepatnya, pengangkatan kamu menjadi ratu serigala akan dilakukan sebelum peperangan terjadi."
Hela nafas Anggin mengangguk.
...