REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Menyudutkan


Keesokan pagi, berjalan Anggin bersama Nesa menuju aula sekolah. Tak sengaja, saat di teras sekolah Anggin menabrak Riko, dan sejenak mereka saling menatap. Kerut bibir Nesa bergegas pergi meninggalkan mereka. Tak lama Anggin pun menyusul Nesa pergi, namun kepergiannya di tahan Riko.


"Lepasin gue, lo mau apa lagi sih Riko. Gue nggak ada tenaga buat debat sama lo."


Sahut Riko mengatakan kalau ia sama sekali tidak ingin mencari masalah dengannya, ia hanya ingin bertanya mengenai ratu serigala.


"Gue nggak ada waktu buat jawab pertanyaan lo itu. Lagian, kalau pun bunda gue belum kembali, itu justru kesempatan emas buat bangsa vampir kan?" ucap Anggin sambil melepas pegangan Riko.


"Bukan gitu, Gin.."


"Udahlah Riko, aku capek" keluh Anggin.


Tiba-tiba Seli datang dan langsung menyela pembicaraan mereka, "Calon, Ratu Serigala Putih yang katanya punya kekuatan besar. Tapi ternyata, cuma pengecut yang tiba-tiba pergi gitu aja dan meninggalkan semua bangsanya dalam peperangan, hehe" ledek Seli.


Toleh Anggin menatap Seli dengan tatapan sayu dan tajamnya sembari mengerutkan bibir, "Heh (tersenyum). Tapi pengecut yang sebenarnya, adalah dia yang cuma berani menyerang dari belakang!"


Berbalik Anggin melangkah pergi, sekali lagi langkanya terhenti dan kembali membalikkan badannya, "Dan satu hal lagi yang perlu lo tau, kalau kepergian gue saat peperangan itu bukan karena gue takut. Tapi (menatap ke arah Riko), karena ada pihak lain yang menyusun dan merencanakan semuanya dengan sangat rapi!"


Kerut alis Seli bingung sambil menatap mata Anggi yang mengarah pada Riko diiringi kepergian Anggin.


"Apa lo tau sesuatu, Riko?" tanya Seli.


"Kalaupun aku tau, itu justru lebih baik" ucap Riko lalu melesat pergi.


"Apa-apaan ini!. Apa hilangnya Anggin dan Astra, ada hubungannya sama Riko?. Kalau bener, ini udah nggak bisa dibiarin lagi!. Kamu udah keterlaluan Riko, aku nggak akan biarin kamu lupa siapa kamu sebenarnya, dan siapa mereka. Musuh, tetaplah musuh!" tekan Seli dengan mata menyala melesat pergi.


"Laga!" teriak Anggin sembari melesat ke arah Laga.


Lirih Anggin bertanya pada Laga apakah bundanya sudah pulang, terdiam Laga hanya menggelengkan kepala.


"Sebenernya lo kemana waktu peperangan terjadi, kenapa lo juga ngilang gitu aja?"


Sahut Anggin mengatakan kalau ia tidak berniat pergi dari peperangan, tapi kepergiannya itu adalah ulah Riko yang sudah menyekapnya. Terkejut Laga dengan mata menyala dan taring yang keluar, panik Anggin langsung menutup mulut Laga.


"Lo ngapain sih ngeluarin taring disini, ini bukan tempat yang tepat. Sekarang buruan lo ilangin, kalo ada yang liat bisa gawat!" tekan Anggin.


Laga lalu memainkan matanya mengarah pada tangan Anggin dengan maksud agar ia melepaskan bungkaman tangannya dari mulutnya. Gugup Anggin segera melepaskan bungkamannya.


"Atau jangan-jangan, hilangnya Bunda ada hubungannya sama Riko. Atau mungkin, ini memang ulah dia?" sambung Laga.


Lirik Anggin menatap Laga dengan mata menyala, "Nggak, ini nggak ada hubungannya sama Riko."


"Kenapa.. lo jadi belain vampir itu?" sindir Laga.


"Gue nggak belain dia, tapi gue yakin ini bukan ulah Riko!"


"Sepercaya itu lo sama dia?"


Kerut alis Anggin memancarkan aura wajah yang terlihat bingung, dengan gugupnya iapun mengatakan kalau ia tidak percaya sama sekali terhadap Riko. Datar Laga menatap dan terus menyudutkan Anggin, sinis Anggin mencibir Laga.


"Udah ya, disini kita bukan mau bahas soal Riko. Ini lebih penting daripada itu, ini soal Bunda!. Gue bakal selesain masalah ini secepatnya," ucap Anggin lalu melesat pergi.


***