
Tiba Marsel dan melihat Anggin yang sudah sampai lebih cepat darinya, bergegas turun dari mobil berteriak memanggilnya dan segera menghampiri. Toleh Anggin berbalik badan mengerutkan kening.
"Kenapa ha?" ucap Anggin.
Tatapan bingung Marsel menggaruk kepala dan bertanya pada adiknya bagaimana ia bisa sampai disekolah lebih cepat dari nya.
"Kan tadi gue berangkat duluan, kok bisa lo udah nyampek. Gimana bisa?" memegang kedua pundak Anggin menggoyangkan badannya menatap heran.
"Ihh, lepasin!. Kusut semua baju gue (membenarkan baju). Kasar banget lo jadi Abang" risih Anggin.
"Lo pakek apa sih bisa secepet ini?" ucap Marsel penuh kebingungan.
Santai Anggin menjawab dengan candaan sambil membenarkan rambut poni kalau dia naik karpet terbang.
"Dah ah, nggak penting. Gue mau masuk!, bai"
"Karpet terbang?. Wah, jangan-jangan dia memang punya peliharaan jin lagi."
Memanggil Anggin segera menyusul, berjalan mengiringi dan menanyakan dimana jin miliknya. Bingung Anggin mendengar ucapan Abangnya, hela nafas ringan mencibir.
"Astaga, dangkal banget otak Abang gue" lirihnya.
Anggin lalu meminta Marsel untuk pergi dan tidak mengganggunya, lalu segera masuk kedalam kelas. Marsel mencoba mengikuti Anggin mengintipnya dari balik pintu, tak lama guru datang dan menjewer telinga Marsel dari belakang. Kesakitan Marsel dengan senyum garing meminta agar Pak Rama melepaskan telinganya.
"Kamu ngapain disini?. Ini bukan kelas kamu, sekarang masuk ke kelas kamu sana!" bawel Pak Rama.
"I-iya pak, ini mau masuk. Tapi kalo nggak dilepasin gimana jalannya" kesakitan memegang telinga.
Tawa geli Anggin melihat Marsel "Sukurin" bisiknya.
Tatapan sinis Marsel segera pergi dengan memainkan mata, gertak lucu Pak Rama.
"I-iya pak, jalan nih."
Jam istirahat tiba, berjalan Anggin sendiri dengan membawa sebotol minuman ditangannya. Tertegun menatap Riko yang lewat dengan parfum yang begitu harum dan melekat dihidungnya, Anggin yang tak fokus dengan jalan pun menabrak dinding. Sigap Riko yang melihat Anggin langsung melesat dan menaruh telapak tangannya ke dinding agar kepala Anggin tidak terbentur, terkejut Anggin melihat Riko yang tiba-tiba ada dihadapannya. Menangkap botol minum Anggin yang hampir terjatuh.
"Loh loh, lo kok udah ada disini aja" bingung Anggin.
"Kalo lagi jalan, fokusnya ke jalan. Bukan yang lain" dingin Riko.
"Oh iya, Riko kan bisa melesat. Sebenernya siapa ya dia?" batin Anggin.
Seketika indra pendengaran Riko merangsang dengan tajam dan mendengar batin Anggin.
"Ternyata, dia sudah tau. Gue harus lebih hati-hati, karena kecurigaannya itu pasti akan membawa gue dalam masalah" kaget Riko membatin segera pergi.
"Bep, Bebep!. Tungguin!, kok aku ditinggal sih" bergegas Anggin menyusul Riko.
Tiba-tiba Nesa muncul, Anggin yang tak bisa mengendalikan lajunya langsung menabrak Nesa dan membuat mereka berdua terjatuh.
"Aduh (jatuh tengkurap). Nesa!.. lo kalo jalan hati-hati dong" kesal Anggin segera bangkit.
"Nyalain gue, orang lo yang nabrak gue juga. Lagian lo ngapain sih lari-lari gitu?. Kalo mau olahraga tu dilapangan, bukan disini!" bete Nesa.
"Siapa juga yang mau olahraga. Ihh, lo sih Nes. Mangsa gue jadi pergi kan!"
Bingung Nesa menaikkan sebelah bibir, bertanya polos angsa apa yang sedang dimaksud. Keluh Anggin menjawab kalau yang ia maksud bukan angsa, tapi mangsa. Berfikir Nesa tak paham dengan apa yang diucapkan Anggin, tanpa berlama-lama Anggin pun segera pergi.
"Ahh, udah lah. Nggak nyambung deh lo, gue mau ngejer masa depan gue!. Dah.."
Paham Nesa mendengar ucapan Anggin.
***