
Berdirilah Nesa didepan pintu balkon, menatap Anggin dengan wajah ketakutan dan badan sedikit gemetar. Heran Anggin bertanya pada Nesa kenapa ia malah berdiri tegak di depan pintu, sahut Nesa dengan lucunya meminta Anggin untuk tidak menggigitnya (Nesa).
"Astaga. Ya nggak lah Nes, gue ini temen lo. Dan gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Lagian gue nggak doyan gigit manusia, apalagi manusianya kayak lo."
"Ehh, lo ya. Tapi janji, jangan gigit gue ya?"
"Iya, janji."
Perlahan Nesa mendekat pada Anggin, duduk di kasur dan melempar banyak sekali pertanyaan pada Anggin termasuk bagaimana bisa ia menjadi serigala.
"Tapi gue minta, lo jangan cerita sama siapapun ya Nes. Terutama sama Mami gue dan juga Marsel."
"Iya deh iya, gue nggak bakal cerita. Tapi lo ceritain gimana bisa lo jadi serigala. Gue kira serigala cuma cerita fiksi doang, ternyata beneran ada."
Hela nafas Anggin menceritakan semuanya pada Nesa, tentang dia, serigala dan vampir serta kehidupannya yang sekarang.
"Apa!. Riko vampir!" keras Nesa.
Terkejut Anggin mendengar teriakan Nesa dan langsung menutup mulutnya, lirihnya meminta Nesa untuk tenang dan tidak heboh.
"Duhh, lo jangan berisik. Bisa-bisa Mami sama Marsel denger."
"Eh sorry-sorry, gue refleks Gin. Tapi, masak sih Riko sama saudaranya vampir. Gue nggak percaya deh."
"Mau lo nggak percaya sekalipun, tapi itu kenyataannya. Awalnya, gue juga nggak percaya kali. Cuma, berhubung gue yang ngalamin semua ini, ya mau nggak mau gue percaya."
"A-artinya, Kana juga vampir dong?. Temen gue satu-satunya jadi serigala, dan sekarang calon suami gue vampir. Kenapa kenyataan tu pait banget sih!" rengek Nesa.
"Syutt.. lo jangan berisik deh, gue gigit juga lo."
"Ehh, jangan dong Gin. Masak lo tega sih jadiin temen lo sendiri tumbal."
Sedikit berfikir Nesa mengingat semua perkataan Anggin, lirihnya bertanya jika yang ia (Anggin) bilang itu benar, artinya dia (Anggin) bukanlah anak kandung Mami Sindi. Kerut bibir Anggin mengangguk lirih sambil memainkan alis.
Letih Anggin membaringkan badan dan menutup perlahan matanya, bisik Nesa mengejek Anggin.
"Serigala jadi-jadian, bisa capek juga?"
...
Keesokan pagi, bersiap-siap Anggin dan Nesa untuk berangkat ke sekolah. Berdiri Nesa di depan cermin sambil menyisir rambut dan Anggin yang memakai kaos kaki. Tiba-tiba Marsel masuk dan mengejutkan mereka diiringi teriak kekesalan mereka.
"Lo tu nggak bisa apa sih, kalo mau masuk tu ketuk pintu dulu!" bete Anggin.
"Ya lagian kalian berdua nggak bisa cepetan dikit apa, lama banget. Tu liamt udah jam berapa!. Buruan keluar, kalo nggak gue tinggal ni!"
Kerut bibir Anggin mengatakan kalau ia akan berangkat sendiri dan menyuruh mereka (Marsel dan Nesa) untuk berangkat lebih dulu.
"Gue juga, gue berangkat bareng Anggin" sambung Nesa.
Kerut alis Anggin dengan ekspresi wajah bingung seperti bertanya dan memberi isyarat, balas Nesa dengan senyum recehnya.
"Kalo tau gitu, udah dari tadi gue berangkat!. Jangan salahin gue kalo kalian telat nanti," kesal Marsel segera pergi.
"Iyee, bawel banget sih. Lo juga Nes, lo ngapain ikut gue?"
"Ya gue penasaran aja, gimana sih larinya manusia serigala tu. Lagian kalo gue liat-liat, Lo larinya cepet banget deh."
"Hadeh Nes, Nes. Yaudah, buruan."
"Yee, berangkat dianter serigala" syair lucu Nesa.
Lirik Anggin dengan tatapan bingung menaikan sebelah bibir.
***