REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Pesan rindu


Malam hari dengan menatap langit dan bulan, sejenak Riko memikirkan Anggin terbayang dengan kebersamaan mereka beberapa waktu terakhir. Disisi lain, Riko juga memikirkan tentang jati diri Anggin yang sebenarnya ialah gadis serigala yang selama ini dicari. Bimbang Riko dengan perasaannya yang begitu aneh, apakah ia harus menceritakan pada keluarganya atau menyembunyikan dulu keberadaan gadis serigala itu sampai yang tepat.


"Kenapa aku jadi nggak tenang gini, ada apa sebenarnya?"


Tiba-tiba Kana datang, ikut menatap langit sambil dengan senyum tipis bertanya pada Riko apa yang sedang dipikirkannya. Tak sengaja Riko mengatakan kalau ia sedang memikirkan gadis serigala, kerut kening Kana menatap.


"Ma-maksudnya, kenapa sampai sekarang kita belum bisa menemukan serigala itu. Atau lebih baik kita urungkan saja niat kita dan kembali ke dunia vampir."


"Hehe, lo kenapa jadi gini?. Niat kita dari awal adalah mencari dan membunuh gadis serigala itu, mau kita kembali lagi ke dunia vampir sekalipun. Itu nggak akan bisa merubah takdir serigala itu untuk mati ditangan bangsa vampir."


"Itu bukan takdir, itu hanya teori yang dibuat oleh bangsa vampir" dingin Riko berjalan pergi.


Henti Kana bertanya pada Riko kemana dia akan pergi, datar Riko menjawab kalau ia tak perlu tahu dan langsung melesat pergi. Tawa lirih Kana menggelengkan kepala, menatap heran Riko dan bertanya-tanya kenapa sikapnya akhir-akhir ini mulai berubah.


Henti Riko didepan rumah Anggin, berjalan lirih mendekat kearah pintu sambil mengendus lembut. Terduduk Anggin diatas kasur sambil memeluk bantal tersenyum senang memikirkan Riko. Indra penciuman Anggin yang tajam, seolah mencium bau parfum yang menurutnya begitu familiar dan sangat mengenali bau itu. Endus Anggin bangkit dari tempat tidur dan berjalan lirih keluar balkon kamarnya, dengan senyum tipis mencium bau itu.


"Baunya nggak asing, kayak parfum Bep Iko" memegang pagar balkon seolah wajahnya menguasai bau itu.


Lirihnya mengatakan kalau sepertinya ia merindukan Riko, sampai-sampai bau parfumnya terasa sampai rumah. Lirik Anggin menatap kebawah dan melihat Riko yang ada didepan pintu, dengan polos ia mengira karena saking rindunya terhadap Riko sampai bayangannya pun ia lihat.


3 kali Anggin mengedipkan mata sambil menatap Riko, namun Riko tetap masih ada dihadapannya. Lucunya Anggin mengusap mata dan mengedipkannya dengan cepat, tapi Riko tetap masih ada.


"Biasanya kalo ngebayangin orang, sekali ngedipin mata orangnya udah nggak ada. Ini beberapa kali gue kedipin, kenapa masih ada?" Terus mengusap mata.


Tak sadar Riko mengendus lirih dan semakin mendekatkan wajahnya di pintu, dengan tiba-tiba Anggin membuka pintu dan mendekatkan wajahnya dihadapan Riko menyapa lirih. Kaget Riko membuka mata tertegun saling menatap dengan begitu dekatnya, senyum senang Anggin salah tingkah memainkan jemari tangan.


"Mmm, kamu ngapain kesini?. Kamu.. pasti kangen sama aku kan?" lantang Anggin menggoda.


"A-a-a.." gugup Riko langsung dipatahkan Anggin.


"A-a-apa?. Udah ngaku aja, kalo kamu nggak kangen. Ngapain kamu kesini?"


Malu-malu Riko dengan wajah dingin dan gugup menelan ludah sedikit menarik nafas memberanikan diri, mengiyakan ucapan Anggin.


"Iya, gue kangen" salah tingkah dan serba salah tak bisa mengekspresikan.


Bahagia Anggin seolah hatinya ingin menjerit senang mendengar apa yang dikatakan Riko


"Aku, daritadi juga mikirin kamu. Eh, kamunya langsung dateng. Tau aja kamu kalo aku lagi kangen" lanjutnya.


"Pesan rindu kamu, membawa aku sampai kesini" lembut Riko menatap Anggin.


Anggi pun semakin dibuat salah tingkah dengan tatapan itu.


Next👇.