
"Tatap mata aku, dan sekali lagi bilang kalau kamu nggak cinta sama aku" memegang pundak Anggin.
Sekali lagi Anggin menyingkirkan tangan Riko dan membuang muka, "Kenapa batu banget sih lo. Gue udah bilang kalau gue nggak cinta sama lo, jadi jangan ganggu gue dan jauh-jauh dari gue."
Langsung Anggin berbalik badan untuk pergi. Dengan senyum, Riko perlahan berjalan mundur menjauhi Anggin.
"Oke, kalau itu yang kamu mau. Aku akan jauhi kamu, sejauh mungkin. Yang pasti, kamu akan selalu ada dihati aku, dan aku akan selalu ada di kenangan kamu. Selamat tinggal.." ucap Riko dengan lembut.
Terkejut Anggin saat Riko mengucap kalimat "Selamat Tinggal" padanya, spontan ia langsung berbalik badan dan tertegun kaget melihat Riko yang sudah berada di sisi tebing.
Teriak Anggin memanggil Riko diiringi juluran tangannya. Belum sempat ia melesat untuk menghentikan, Riko langsung menjatuhkan diri dari atas tebing larva itu. Anggin pun terkejut bukan kepalang, tertegun tak bisa berkata-kata seolah detak jantungnya ikut berhenti.
"Riko!.." teriaknya melesat ke sisi tebing.
Terduduk lemas Anggin menatap dasar tebing larva yang amat begitu panasnya diiringi air mata yang menetas, ia tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Riko.
"Riko!.. Kenapa lo lakuin ini, kenapa lo hukum diri lo sendiri. Ini semua karena lo Gin (menyalahkan diri sendiri). Riko nggak akan ngelakuain ini kalau lo mau jujur. Lo emang bodoh Gin, bodoh!"
"Aku minta maaf Riko, karena aku udah nggak jujur sama kamu dan diri aku sendiri. Aku sebenarnya juga cinta sama kamu Riko, aku cinta sama kamu!. Tapi sekarang, semuanya udah terlambat. Aku udah kehilangan kamu!" sesal Anggin dengan isak tangis.
"Kamu belum terlambat, dan kamu belum kehilangan aku," muncul suara Riko.
"Riko?" lirihnya.
Tak berselang lama, muncul sebuah tangan dari balik tebing yang berusaha merangkak naik. Segera Anggin mengintip kebawah, dengan wajah bahagia sekaligus khawatirnya melihat Riko bergelantungan di balik tebing, iapun berusaha menolong Riko sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Riko kembali naik ke atas.
"Terus pegang tangan aku dan jangan lepasin!"
Akhirnya, tak butuh waktu yang lama, Riko pun dapat kembali naik ke atas. Bahagia Anggin melihat Riko yang masih berdiri di hadapannya dan langsung memeluk erat Riko diiringi tangisan bahagia.
Senyum Riko membalas pelukan hangat Anggin. Mendengar isak tangis Anggin, lembut Riko melepaskan pelukan, menatap dan mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Anggin.
"Hey.. apa ini?. Calon, Ratu Serigala nangis?. Masak iya, calon pemimpin Serigala cengeng kayak gini. Nggak nggak, sekarang hapus air matanya. Karena, wajah cantik ini, nggak pantes dibasahi sama air mata."
Cemberut Anggin dengan wajah sedih dan betenya, "Nggak lucu!. Kamu ngapain ngelakuin hal kayak tadi. Kamu mau siksa batin aku dengan cara kayak gini, kamu mau tinggalin aku gitu aja!. Jahat, kamu jahat!. Kamu nggak mikirin perasaan aku kayak gimana, takutnya aku!" memukul lirih dada Riko.
"Kalau aku nggak lakuin hal ini, kamu nggak akan ungkapin perasaan kamu kan?. Jadi, aku putusin untuk lakuin ini, sekalipun resikonya fatal. Seenggaknya, sekarang aku tau perasaan kamu ke aku. Dan satu hal yang pasti, aku cuma pengen dideket kamu dan jagain kamu. Karena bagi aku, keselamatan kamu itu jauh lebih penting dari apapun," membelai rambut Anggin.
...