Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 95# Dewasa


"Rav, sebaiknya kamu beristirahat. Masih banyak PR yang harus kita selesaikan besok," ucap Kakek Bayu saat punggung Alex menghilang di balik pintu.


Ravka menoleh sekilas seluruh anggota keluarganya. Wajah Kakek yang sama sekali tak berubah, tetap meneduhkan dan penuh kasih sayang setelah apa yang baru saja ia lakukan. Begitu pula dengan raut wajah ibunya yang tetap menebarkan senyum saat pandangan mereka bersirobok. Di sebelah sang Ibu, Ayahnya memperlihatkan pengertian atas tindakan Ravka dan memakluminya. Hanya saja wajah Bibinya tampak masih belum terima atas tindakan Ravka yang dirasa sangat kurang ajar dan berlebihan. Erica memandangnya dengan sorot mata menusuk tajam seolah hendak menerkam.


"Maaf Tante, aku tidak bisa mengontrol emosiku," ucap Ravka sendu sebelum berlalu dari ruang kerja Kakeknya.


Ravka tak menunggu reaksi Erica atas permintaan maafnya. Karena ia tahu tak tak semudah itu Erica akan memberi maafnya. Ravka menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Ia menyadari ada hal yang perlu dituntaskan oleh para orang tua yang tidak ingin diketahui oleh anak-anaknya. Untuk itulah Kakek menyuruhnya meninggalkan mereka. Lagipula Ravka juga sudah cukup lelah. Ia ingin kembali ke dalam pelukan istrinya yang sudah tak ia lihat sejak matahari terbit tadi pagi, meninggalkan rasa rindu yang membuncah.


"Bi, Alea dimana?" tanya Ravka saat berpapasan dengan Bi Mimah menuju kamarnya.


"Setelah makan malam tadi, Non Al tidak keluar kamar sama sekali Den," jawab Bi Mimah lembut.


"Baiklah, terimakasih Bi," ucap Ravka seraya mempercepat langkahnya menuju kamar.


Dengan perlahan Ravka membuka pintu kamar yang ia tempati bersama sang Istri. Jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih terlalu sore bagi orang-orang yang menikmati waktu membunuh malam dengan berbagai aktivitas duniawi yang tidak ada habisnya. Akan tetapi, tidak dengan istrinya. Gadis itu lebih sering terlelap sebelum rembulan menampakkan keindahannya dengan sempurna. Namun, Alea tak pernah absen terjaga dari lelapnya saat nafas Ravka sudah mulai memenuhi udara di dalam kamarnya. Gadis itu akan menyiapkan segala kebutuhan sang suami sebelum menghadap Sang Empunya Kehidupan di malam hari.


Perlahan Ravka melepaskan jas dan sepatunya agar tak membangunkan Alea yang masih bersenda gurau dengan mimpi. Tubuh lelah Ravka membuat ia malas membasuh diri bahkan hanya sekedar mengganti pakaian. Ia ingin cepat-cepat membenamkan tubuh molek Alea dalam rengkuhannya. Mencium aroma gadis itu agar bisa memberikan sedikit ketenangan bagi hatinya yang tengah gusar.


"Mas .... kamu sudah pulang?" tanya Alea dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Hmmm .... " ucap Ravka seraya menghirup dalam aroma rambut Alea yang menempel dengan indra penciumannya.


Pemuda itu menggesek-gesekkan dagunya di rambut lembut istrinya sembari menumpangkan tangannya diatas tubuh mungil Alea.


"Udah tidur lagi aja, aku cuma lagi pengen peluk kamu," ucap Ravka saat Alea mulai menggeliat dibawah pelukannya.


Alea mencoba menggerakkan tubuhnya namun terhalang lengan kokoh sang suami. Ia dapat mendengar suara berat Ravka seperti membawa beban. Namun, punggungnya yang menempel erat dengan dada Ravka membuat ia kesulitan menolehkan kepala, hingga ia tak dapat melihat raut wajah suaminya meski hanya sekedar melihat dari ujung matanya.


"Udah makan?" tanya Alea sembari menikmati hangatnya pelukan sang suami.


"Ga laper."


"Mau aku siapin air hangat buat mandi?"


"Masih mager."


"Kamu kenapa Mas?"


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Ravka. Namun, Alea dapat merasakan hembusan nafas berat di kepalanya. Meyakinkan gadis itu bahwa saat ini sang suami tengah memikul beban di pundaknya.


"Kalau kamu lelah, istirahat aja. Jangan terlalu dipikirkan. Masih ada hari esok untuk menyelesaikan segala masalah," ucap Alea seraya mengelus punggung tangan Ravka di atas perutnya.


"Aku baru aja mukul Mas Alex," ucap Ravka sejurus kemudian.


Alea tersentak mendengar pengakuan Ravka. Namun, ia berusaha menutupi keterkejutannya. Tak mau terlihat menghakimi Ravka yang sepertinya sudah menyadari kesalahannya.


"Kenapa kamu bisa pukul Mas Alex?" tanya Alea dengan nada seringan kapas. Seolah tak terganggu dengan apa yang sudah Ravka perbuat.


"Kamu tahukan perusahaan sedang dalam masalah?!" ucap Ravka pada Alea yang memang sudah mengetahui perihal kondisi perusahaan. "Dan semua bukti mengarah pada Mas Alex sebagai pelakunya. Apa salah, kalau aku meminta pertanggung jawabannya?" ucap Ravka menahan kesal.


"Memangnya, beneran Mas Alex pelakunya?"


"Melihat semua bukti yang ada, sudah pasti Mas Alex penyebabnya. Tapi dia tidak mau mengakuinya, membuatku jadi emosi," seru Alex geram.


"Bagaimana kalau Mas Alex memang bukan pelakunya?" tanya Alea membuat Ravka meragu, "bagaimanapun, Mas Alex adalah Kakakmu Mas. Sudah seharusnya kamu mempercayai Mas Alex."


"Ini bukan masalah kecil, Al."


"Justru karena ini bukan masalah kecil, kamu perlu menahan egomu Mas. Kamu harus berpikir dengan tenang agar bisa menyelesaikan masalah," ucap Alea mulai memainkan jemari suaminya. Membawa lengan kokoh itu pada bibir mungilnya. Memberi kecupan lembut demi menyalurkan semangat untuk sang suami tercinta.


"Saat-saat seperti ini, kamu perlu merangkul Mas Alex. Kalau toh memang dia pelakunya, kamu bisa mengingatkannya perlahan untuk bisa menyadari kesalahannya. Tapi kalau memang bukan dia pelakunya, kalian bisa bekerjasama untuk mencari pelaku sebenarnya. Dua kepala akan selalu jauh lebih baik dari pada satu kepala untuk menyelesaikan masalah yang rumit," ucap Gadis itu di sela-sela kecupannya pada jemari tangan Ravka.


"Kamu tahu, aku selalu mengira telah menikahi gadis yang masih kecil. Tapi nyatanya kamu jauh lebih dewasa dari usiamu," ucap Ravka tulus menghadirkan semburat merah muda di pipi istrinya.


Alea menunduk malu sembari memainkan kancing baju kemeja Ravka.


"Kamu sedang menggodaku?" ucap Ravka teralihkan dari kemelut yang tengah dihadapinya.


Memperhatikan wajah manis penuh senyum itu selalu dapat menggetarkan jiwanya. Apalagi saat Alea tengah tersenyum malu-malu membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


Diangkatnya dagu Alea yang tertunduk malu. Ditatapnya dua bola mata indah milik istrinya yang memancarkan kehangatan. Perlahan tapi pasti ia meraih bibir mungil Alea, menyesapnya sepenuh jiwa. Setelah puas mereguk manisnya bibir sang istri, Ravka mengalihkan tatapannya pada pipi Alea yang masih dibalut perban. Ia membelainya lembut seolah porselen yang bisa pecah sewaktu-waktu.


"Dokter bilang apa?" tanya Ravka masih menyisir pipi yang ditutupi perban.


"Dokter bilang tidak ada masalah. Berikutnya suster yang akan datang kemari untuk merawat lukaku," ucap Alea mulai mengerucutkan bibirnya saat teringat kejadian di dalam ruang periksa Dokter Edo tadi sore.


"Baguslah, jadi kamu tidak perlu bermanis-manis di depan Dokter itu lagi," ucap Ravka tersenyum puas.


"Seharusnya aku yang bicara seperti itu Mas. Aku bersyukur tidak harus bertemu Dokter Edo lagi sampai lukaku benar-benar sembuh. Mudah-mudahan untuk seterusnya," ucap Alea kesal.


"Hey .... kamu terdengar kesal tidak bisa bertemu dengan Dokter itu?" Ravka menaikkan sebelah alisnya.


"Aku kesal karena kamu pasti sudah memberi perintah yang aneh-aneh pada Debora," ketus Alea.


"Perintah aneh bagaimana? Aku cuma meminta dia untuk menjagamu dengan baik."


"Apa kamu tahu, Debora tadi memelototi Dokter Edo. Sampai-sampai Dokter Edo sama sekali tak berani menatapku. Dia bahkan bicara sambil menunduk." Wajah Alea semakin ditekuk saat menceritakan kejadian tadi sore.


"Debora yang memelototi Dokter Edo, kenapa aku yang disalahkan?" ucap Ravka polos seolah tak berdosa.


Dengan susah payah Ravka menahan lengkungan bibirnya yang mulai berkedut. Ia tak mau Alea semakin murka jika senyuman sampai lolos di wajahnya.


Ravka masih bertahan untuk tak menyunggingkan senyum. Pemuda itu sama sekali tak menyangka kalau pengawal istrinya itu akan mengikuti perintahnya secara harfiah.


"Kamu jaga istriku dengan baik. Satu lagi, jangan biarkan lelaki manapun berani menatap istriku. Camkan itu," perintah Ravka pada Debora melalui panggilan telepon saat ia tak bisa meninggalkan urusan mendesak yang tengah ditanganinya.


Karena tak dapat menemani sang istri memeriksakan luka di pipinya, jadilah ia memberi perintah tak logis itu pada Debora.


Sepertinya aku harus memberikan bonus pada pengawal itu. Dia sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik - kekeh Ravka dalam hatinya.


"Aku yakin sekali Debora seperti itu karena kamu mengatakan sesuatu pada dia Mas. Apa kamu tahu, sikap Debora sudah membuat Dokter Edo risih. Dan aku benar-benar malu karenanya," ucap Alea seraya memukul dada suaminya pelan menyalurkan rasa kesal yang tadi belum sempat terlampiaskan.


"Kamu seharusnya menegur Debora, bukan malah melampiaskan marahmu padaku." Ravka meraih lengan istrinya, menahan lengan mungil itu agar tak lagi mendaratkan pukulan di dadanya.


"Kaya dia mau dengerin aku ngomong aja. Dia itu nurutnya cuma sama kamu," ketus Alea lagi.


Ravka mengangkat badannya hingga berada tepat diatas tubuh istrinya. Pemuda itu menumpu bobot tubuhnya pada kedua lengan yang kokoh dengan Alea dibawah kungkungannya.


"Kamu kalau lagi ngambek gini makin gemesin tau," ucap Ravka tak menggubris rengekan Alea. Pemuda itu langsung melancarkan aksi bujuk rayu pada sang istri.


Melihat wajah menggemaskan itu, semakin membangkitkan gairah yang sudah tak tertahan. Menenggelamkan diri pada kenikmatan ragawi merupakan sesuatu yang Ravka sadari bisa mengalihkan segala kerumitan yang bersarang di kepala. Apalagi jika ia berhasil mengubah wajah mencebik Alea menjadi wajah yang begitu mendamba sentuhannya. Membuat Ravka semakin terdorong untuk membawa Alea menikmati indahnya memadu kasih.


*********************************************


oia dari kemaren banyak banget yang minta visual.. aki tuh ga jago cari visual... takutnya malah merusak imajinasi kalian gegara nampilin visual.. tapi karena permintaan yang banyak aku coba cari visual yang cocok yah.. kalau ada yang mau kasih masukan boleh yah.. kirim di GC aku yah.. gabung aja di GC n bisa kasih masukan.. terutama visual Alea.. boleh juga kasih masukan di kolom komentar yah.. ketik aja nama menurut kalian cocok buat memerankan mereka.. nanti aku pilih yah.. btw thanks buat dukungan kalian semua nya.. luv u all...


oia sambil nunggu up selanjutnya bisa intip karya ini dulu yah guys...