
Setelah menemani Ravka makan malam dalam diam, Alea bergegas kembali ke kamar tidur mereka. Menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Dari mengisi penuh bath up dengan air panas, hingga menyiapkan pakaian ganti. Setelah itu, ia naik ke tempat tidur dan menenggelamkan diri dengan novel kesayangannya.
Sementara di dalam kamar mandi, Ravka membenamkan sebagian tubuh di dalam bath up berisi air hangat yang sudah ditambahkan dengan essential oil oleh Alea. Tangannya sibuk menggeser-geser layar ponselnya ke atas dan ke bawah, kemudian ke kiri dan kanan. Ia sendiri tak tahu apa yang ia cari di dalam ponselnya. Kepalanya justru melayang, memikirkan Alea yang memanyunkan bibir selama di meja makan tadi. Setelah itupun sang istri diam seribu bahasa, hingga ia masuk ke kamar mandi.
- Alea kayanya beneran marah.
Ini semua gara-gara lu -
Ketik Ravka akhirnya pada layar ponsel setelah beberapa lama mengutak atik ponsel tak tentu arah. kemudian segera ia tekan tombol send.
- Lah kenapa jadi salah gue? - Balas Nino dengan segera.
- Pokoknya lu harus bantuin gue supaya Alea ga marah lagi malem ini - ketik Ravka cepat.
- Kenapa?
Takut ga dikasih jatah lu?
Lagian bini bini elu, kenapa jadi gue yang repot sih? -
- Alea marah, apartemen batal -
- Lu kenapa jadi suka ngancem sekarang?
lagian lu kaya ga pernah ngadepin cewek marah aja? - balas Nino kesal.
- Sherly mana berani marah sama gue - balas Ravka yang memang tak pernah menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan selain Sherly.
Sementara perempuan lain yang pernah mampir di hidupnya, tak pernah membuatnya ambil pusing. Ada percikan masalah sedikit saja, maka ia akan langsung memutuskan hubungan diantara mereka.
- Ya iyalah, ga berani marah sama elu. Orang kalo dia marah lu cuekin.
Ampe sebulan juga lu betah nyuekin dia. Sekarang lu kenapa jadi kaya kebakaran jenggot cuma karena Alea marah? - ketik Nino seraya menambahkan emotikon menaikkan sebelah alis di belakang ketikannya.
- Ga usah bawel lu.
Sekarang gimana caranya supaya Alea ga marah lagi sama gue? - balas Ravka tak sabaran.
- Tinggal bujuk aja susah amat.
Kalau dimarahin diem, iya iya aja.
Jangan ngebantah. Udah beres, gitu doang - balas Nino seraya berdecak sebal.
"Tahu begini mending gue paksain pulang tadi. Gimana gue bisa istirahat kalau kaya begini," gerutu Nino di dalam kamar.
Tentu saja kekesalannya itu tak dapat dilihat oleh Ravka yang sedang berada di kamarnya sendiri di lantai dua. Ingin rasanya ia mengamuk kepada atasannya itu secara langsung. Badannya sungguh lelah dan ingin segera berkelana dalam mimpi. Namun, belum sempat ia memejamkan mata, Ravka sudah menggerecokinya dengan hal sepele yang tidak penting. Setelah membalas pesan Ravka, Nino segera menekan tombol off di layar ponselnya. Ia kemudian merebahkan tubuh diatas kasur nan empuk yang sedari tadi sudah memanggil minta dijamah.
*****
Setelah mengirimkan pesan terakhir kepada Nino yang tak dibalas oleh temannya itu, Ravka menyegerakan ritual mandinya. Tubuhnya yang penat lumayan terasa segar, setelah berendam dan merasakan sensasi air hangat dicampur garam himalaya serta euchalypthus essential oil. Istrinya memang paling mengerti bagaimana memanjakan suami, ketika ia kelelahan bekerja seharian.
"Al, kamu udah tidur?" tanya Ravka perlahan saat mendapati Alea sudah meringkuk di bawah selimut.
"Al, tadi katanya mau mijitin aku. Kok malah tidur sih?" bisik Ravka di telinga Alea.
Pemuda itu masih terus berupaya mengganggu istrinya yang sudah memejamkan mata. Namun, tak secuilpun Alea merespon apa yang tengah diperbuatnya, hingga ia hanya bisa mengerucutkan bibir.
Aroma vanila dari rambut Alea kembali membuat Ravka hilang kendali. Setelah puas menggesekkan hidung di puncak kepala Alea, Ravka menyibakkan rambut panjang gadis itu yang dibiarkan tegerai. Lelaki itu kemudian menyapukan bibirnya pada tengkuk Alea yang mulus. Menyesapnya perlahan seraya menyusupi tangannya pada sekujur tubuh Alea.
Diperlakukan sedemikian intens membuat Alea yang berpura-pura tidur, tak kuasa menahan diri dari bujuk rayu sang suami. Dengan sekuat tenaga ia menahan erangan yang bisa membuat lelaki itu besar kepala. Kali ini ia tak akan membiarkan Ravka begitu saja. Pemuda itu harus menyadari bahwa ia sudah melakukan kesalahan.
"Mas, kamu ngapain sih? aku capek mau istirahat," ucap Alea akhirnya.
Pertahanan dirinya sudah diambang batas. Ia tak lagi bisa menahan diri pada setiap sentuhan lembut sang suami yang membuatnya selalu merasa diterbangkan ke awang.
"Ga ngapa-ngapain. Emangnya aku ga boleh cium kamu?" tanya Ravka tak merasa bersalah. Ia justru tersenyum senang, bisa mengalahkan pertahanan Alea.
Gadis itu hanya diam membisu membuat Ravka kembali merasa frustasi.
"Tadi katanya mau pijitin aku?" ucap Ravka lembut masih berusaha melancarkan bujuk rayu.
Alea menarik nafas panjang. Ia kemudian membuka matanya lebar seraya mengirimkan tatapan tajam pada Ravka. Membuat pria itu mengkerut dengan senyum manis menggetarkan jiwa. Alea mengalihkan pandangannya dari Ravka, tak mau terhanyut pada senyum manis yang dilayangkan oleh sang suami.
"Kamu mau kemana?" tanya Ravka saat melihat Alea menyibakkan selimut kemudian turun dari tempat tidur.
Alea tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia terlihat berjalan menghampiri meja rias yang terletak di sudut kamar, lalu membuka laci meja rias tersebut. Alea mengambil sebuah botol kecil dari sana dan membawanya ke dalam genggaman tangan.
"Buka bajunya Mas," ucap Alea menghadirkan senyum merekah diwajah Ravka.
Dengan tergesa-gesa dan penuh semangat, pria itu melepaskan kaos oblong yang tengah diapakainya. Dia kemudian melemparkan kaos itu secara sembarang. Saat tangannya hendak meraih celana pendek yang dikenakannya, suara menggelegar Alea menghantam pendengarannya.
"Sebelah mananya Mas yang pegel?" tanya Alea membuat Ravka melemaskan bahu. "Mas tengkurap deh, biar enak aku mijitnya."
Alea berkata dengan nada lembut tapi dengan sorot mata menghujam. Membuat Ravka tak bernyali untuk menggodanya.
"Bahu aku pegel banget," jawab Ravka asal.
"Ah sebaiknya ngalah dulu deh. Siapa tau nanti habis pijet marahnya reda," ucap Ravka penuh harap dalam hati.
Meski sebenarnya ia sudah tak sabar ingin menerkam gadis itu, tapi ia redam perasaan yang menggebu. Tiga hari jauh dari sang istri membuat ia begitu mendamba. Dengan penuh semangat ia berusaha menyelasaikan semua pekerjaan sesegera mungkin, hanya demi bisa bertemu pujaan hati secepatnya. Apalah daya ternyata gadis itu sekarang seperti singa betina yang siap menerkam mangsa.
Alea membalur tubuh Ravka dengan living oil yang tadi ia ambil dari laci meja riasnya. Kemudian memijat bahu sang suami. Cukup lama ia memijat bahu hingga punggung Ravka, tapi tak sepatah kata keluar dari mulut lelaki itu. Suaminya itu justru terlihat menikmati pijatan istrinya. Sesekali ia sengaja menekan keras pijatannya agar Ravka bisa peka. Namun, tenaga tambahan yang ia kerahkan justru membuat Ravka merasa semakin keenakan dipijat. Membuat Alea bertambah kesal.
**********************************************
Maaf yah slow up date.. Mohon pengertiannya, kehidupan RL aku ga bisa diprediksi seperti kisah novel yang ku buat.. jadi yah imbasnya ga bisa up date rutin dengan jadwal rapih.. aku nulis sesempatnya aku.. apalagi kaya kemaren si kakak sakit si dedek rewel.. yah jangankan nulis, megang hp aja ga bisa.. jadi sabar yah.. mak emak, kakaka-kakak, dek adek.. heheheee
btw biar ga bosen nunggu up ku yang belang bentong.. bisa mampir di karya temen ku.. siapa tau suka juga...