
Sayup-sayup bisikan lembut masuk ke dalam mimpi Alea. Ia menggeliat dalam tidurnya merasa terusik akan bisikan tersebut. Hangatnya nafas yang menggelitik di telinga gadis itu akhirnya membuat ia tertarik dari ruang bawah sadarnya.
"Bangun sayang, kita sudah hampir sampai," Ravka kembali berbisik di telinga Alea.
Alea menggeliat saat merasakan geli akibat bibir Ravka yang hampir menempel pada telinganya mengirimkan embusan nafas yang bermain-main di telinga gadis itu. Ekspresi Alea yang merasa terusik menghadirkan senyum di wajah Ravka. Dibelainya pipi Alea dengan punggung tanggannya perlahan. Menyusuri kulit halus nan cantik milik Alea.
"Hmmm ... Mas," Alea mengerjapkan mata perlahan.
Alea menangkap samar wajah lelaki yang selalu memenuhi ruang mimpi hingga menghadirkan mimpi indah, begitu dekat dengan wajahnya. Kesadaran belum sepeuhnya menguasai raga hingga ia langsung mengalungkan lengan di leher Ravka.
Saat terbangun dari tidur dan mendapati sang suami bermain-main dengan wajah atapun rambutnya, Alea akan langsung mengalungkan lengan di leher pemuda itu seraya memberikan senyum terindah yang bisa ia suguhkan.
"Putri tidurku bangun juga akhirnya. Kita hampir sampai," ucap Ravka membangkitkan kesadaran Alea dimana saat ini mereka berada.
Bergegas Alea melepaskan kalungan tangannya di leher Ravka dan bangkit dari tidur terburu-buru, hingga dahinya berbenturan dengan dahi lelaki yang hanya menyisakan sedikit jarak dengannya.
Tangannya reflek mengusap dahi yang menciptakan perih. "Maaf Mas, maaf. Aku tidak sengaja."
Alea mendekati lelaki mempesona di hadapannya itu dan berniat memeriksa dahi Ravka. Namun, tangannya lebih dulu diraih oleh Ravka dan digenggam erat oleh pemuda itu.
"Kamu kenapa teeburu-buru begitu?" tanya Ravka seraya mengusap lembut dahi istrinya yang tampak memerah.
"Aku hanya kaget. Aku lupa kalau kita sedang di pesawat. Bagaimana kalau Kania terbangun dan melihat kita?" seru Alea tak sabar.
"Kamu sendirian di kamar ini, Sayang," jawab Ravka seraya mengerling.
Alea bergumam sembari memperhatikan sekeliling. Tak ada siapapun di dalam sana selain ia dan sang suami.
"Kania kemana, Mas?" Alea mengerutkan dahi.
"Dia sudah bangun dari tadi dan baru saja selesai makan siang," jawab Ravka dengan senyum masih mengukir di wajah. "Kamu yang tidurnya nyenyak sekali. Sampai tidak menyadari kehadiranku. Bagaimana kalau bukan aku yang datang dan menggerayangi tubuhmu?" Ravka memperlihatkan wajah yang memberengut pada istrinya.
"Maaf Mas. Rasanya nyaman sekali tidur disini. Serasa tidur di rumah. Semalam kamu membuatku kurang tidur, jadi sekarang aku mengantuk," kilah Alea yang membuat Ravka terkekeh.
"Lagipula aku tahu, kamu pasti tidak akan membiarkan seseorang mengganggu tidurku kan, Pangeran?!" Seringai lebar Alea tunjukkan pada suaminya.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan lelaki lain melihat Princess ku yang sedang tidur." Ravka mencubit hidung Alea gemas. "Kamu mengairahkan saat sedang tidur," bisik Ravka menggoda.
"Mas .... " Alea mendorong tubuh lelaki yang bergeming akan kekuatan tangannya yang tak seberapa. "Jangan macem-macem," imbuh Alea lagi.
"Ga macem-macem kok. Satu macem doang," ucap Ravka yang sudah meletakkan tanggannya di bahu gadisnya.
Kepala Ravka mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir ranum istrinya. Memagut bibir itu ke dalam kerinduan yang hampir meledak tak tertahankan. Tangannya melingkar di pinggang Alea terus menelusup hingga memerangkap tubuh Alea dalam pelukannya. Setelah puas mencecap rasa Alea dalam buaian bibirnya, Ravka melepaskan pelukannya. Berguling ke samping dan merentangkan tangan dengan terengah-engah.
"Sebaiknya kita cepat keluar dari sini. Kalau tidak aku tak akan bisa menahan diri," celetuk lelaki itu masih berusaha mengatur nafas agar teratur.
Titah sang suami disambar cepat oleh gadis itu yang langsung bangkit dari tidurnya. Tak mau kalau sampai ucapan Ravka menjadi kenyataan yang akan membuatnya malu. Gadis itu kemudian merapihkan baju yang kusut serta rambut yang agak berantakan. Setelah itu mengulurkan tangan membantu Ravka yang sudah bisa bernafas dengan teratur, ikut berdiri dan bersiap keluar kamar minimalis nan mewah.
"Jam makan siang sudah lewat. Kamu mau makan siang disini, atau kita makan siang di hotel?" tanya Ravka seraya melangkahkan kaki keluar kamar dengan bergandengan tangan.
"Aku belum laper, Mas. Kamu udah laper?" Alea bertanya balik.
"Gombal mulu," ujar Alea dengan sumringah, mencetak ekspresi marah-marah suka yang sangat kentara.
"Al, itu lipstiknya sampe belepotan gitu sih?" teriak Fiki yang sedang merangkul Rizka sembari membelai lembut rambut kekasihnya.
Reflek Alea mengangkat tangannya dan mengelap sekitar bibir dengan punggung tangan. Sementara di ujung sana hampir seisi pesawat menertawakan tingkah canggung Alea.
"Lu dikerjain doang sama Fiki, Al," ucap Ines masih terbahak.
Semburat merah muda tak bisa ditahan oleh Alea merayapi pipinya. Membuat derai tawa semakin membahana.
Tak lama setelah itu, pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Velana di ibukota Male, Maladewa. Bandara yang sebelumnya dikenal dengan nama Bandar Udara Ibrahim Nasir, merupakan gerbang utama bagi negara kepulauan yang terletak di Samudra Hindia itu dari dunia luar.
Seluruh wisatawan mancanegara yang hendak mencicipi indahnya suguhan alam Maldives harus mendaratkan kakinya terlebih dahulu di Male, yang terletak di pulau Hulhule dan menjadi ibukota negara Republik Maladewa.
Sepoi-sepoi embusan angin menerpa wajah Alea yang sedang menuruni tangga. Rambutnya berterbangan menutupi sebagian wajahnya. Senyuman tak surut dari wajah-wajah yang sedang menuruni tangga dari dalam pesawat, bersiap menyambut liburan menyenangkan melepas penat dari rutinitas harian yang padat.
Di bawah sana, seorang lelaki berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahun bersiap menyambut kedatangan mereka. Dia adalah lelaki yang ditugaskan oleh M&E, sebuah Agency Lifestyle Concierge yang selama ini melayani kebutuhan premium keluarga Dinata.
"Selamat datang, Tuan," ucap Pemuda yang bernama Dimas membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat. "Mari ikuti saya," ucap Dimas menggiring rombongan Ravka keluar bandara.
Di depan bandara, dua limousin mewah sudah menyambut kedatangan rombongan untuk membawa mereka ke dermaga terdekat. Hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka sudah tiba di dermaga.
"Rizka, Ines, aku titip Kania yah," ucap alea saat ke empat permepuan itu sedang asik bercakap-cakap sambil menunggu speadboat dan Pesawat Amphibi selesai dipersiapkan.
"Tenang, Al. Kita bakal jagain dengan baik kok. Nikmati aja waktu kalian berdua," jawab Ines seraya tersenyum.
"Maaf yah merepotkan," ucap Alea lagi.
"Santai Al. Anggep aja kita saudara juga oke," ucap Rizka.
"Al, ayo kita berangkat," Ravka mengulurkan tangannya pada Alea.
"Sampai ketemu besok," ucap Alea pada ketiga gadis di hadapannya seraya menerima uluran tangan suaminya.
Ravka lantas menggandeng Alea menaiki pesawat amphibi berukuran kecil yang akan membawa mereka ke Four Season Resort Maldives yang terletak di Landaa Giraavaru. Sebuah Resort mewah yang akan menjadi lokasi resepsi pernikahan Alexander dan Rianti, kolega bisnis Ravka.
Kekayaan yang dimiliki oleh Alexander memang sangat melimpah, sehingga ia menyewa satu pulau dengan resort mewah untuk menjamu tamu undangan yang berjumlah tak sedikit. Disana semua fasilitas sudah disediakan oleh Alexander. Sehingga mereka tinggal datang dan menempati kamar yang sudah disediakan untuk mereka.
Sementara teman-teman Ravka menaiki speadboat menuju Hurawalhi Island Resort yang terletak di Huruvalhi. Disana M&E sudah memesan lima villa apung yang akan mereka tempati sampai lima hari mendatang.
**********************************************
intip juga karya temenku yah.. siapa tau suka...