Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 80# Tegang


"No, kenapa perasaan gue kaya ga enak gini yah?" ucap Ravka seraya menyerahkan tas kerjanya kepada Nino.


"Mungkin karena lagi banyak pikiran aja Boss," jawab Nino santai sembari mengambil tas yang disodorkan oleh atasannya itu.


"Tapi ini beda No. Kaya ada yang ngeganjel gitu,"


"Mungkin karena ga rela ngelewatin makan siang bareng Alea kali Boss," ledek Nino santai.


"Seneng banget lu ya sekarang ngeledek gue," Ravka memasang tampang sok garang dihadapan Nino.


"Kapan lagi gue ngeliat lu mabok,"


"Mabok apanya?" sambar Ravka.


"Mabok cinta," ledek Nino lagi.


"S*alan lu. Udah buruan jalan. Tar keburu telat. Kita masih ada jadwal meeting buat nanti sore," ucap Ravka seraya melenggang keluar ruangannya.


"Bel, saya akan keluar kantor sekitar tiga sampai empat jam. Tolong atur ulang jadwal saya. Kalau ada sesuatu yang penting kamu hubungi langsung saya," perintah Ravka saat sudah berada di meja sekretarisnya itu.


"Maaf Pak, tapi dibawah katanya sedang ada kekacauan Pak," lapor Bella yang memang sudah mendapat berita dari wa group sekretaris para direksi.


"Kekacauan gimana?" tanya Ravka mengernyitkan dahi.


"Katanya ada seorang gadis yang sedang disandera,"


"Disandera gimana?" tanya Ravka lagi.


Jantungnya kembali berdenyut. Merasakan kembali ketidaknyamanan yang menyergap hatinya.


"Saya juga tidak tahu Pak. Kami tidak diizinkan meninggalkan ruangan masing-masing," jawab Bella semakin menambah bingung Ravka dan Nino.


"No, coba cari tahu apa yang terjadi," perintah Ravka.


Nino langsung mengutak atik ponselnya menghubungi kepala keamanan BeTrust. Sembari kakinya mengikuti langkah Ravka menuju elevator.


"Apa yang terjadi?" tanya Ravka di dalam Elevator saat Nino sudah mematikan ponselnya.


"Iya Boss, ada seorang pria menawan karyawati dari divisi Analys Business. Tapi saat ini security tengah bergerak, mencari celah untuk menyelamatkan karyawati itu," ucap Nino terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Siapa karyawati itu?" tanya Ravka dengan denyut jantung semakin menghantam dadanya dengan cepat.


"Belum diketahui idntitasnya," ucap Nino melemah.


Sepertinya Nino menyadari kalau Ravka mengkhawatirkan hal yang sama dengan dirinya. Alea juga bagian dari divisi Business Analys, tapi ia berusaha menepis pikiran buruknya. Berharap apa yang ia takutkan tak menjadi kenyataan. Ravka terlihat memencet tombol elevator dengan tak sabar seraya memperhatikan angka yang terus berubah diatas pintu elevator.


*****


Di lorong depan elevator di lobby gedung tampak petugas keamanan berjaga disana. Setiap pegawai dari lantai atas tidak diizinkan keluar lift dan diminta kembali ke ruangan mereka masing-masing. Sementara pegawai yang sudah berkerumun mereka biarkan memadati tempat penyanderaan agar si penyadera tak menyadari sejumlah petugas keamanan sedang mencari celah untuk menyergapnya.


Tak lama kemudian, tampak dua sosok pria keluar dari elevator paling ujung. Elevator tersebut merupakan elevator yang aksesnya terbatas ke beberapa lantai di gedung itu, termasuk elevator khusus bagi pemilik ruangan di lantai dua puluh delapan. Kedua pria itu berjalan setengah berlari menuju petugas keamanan yang berjaga di depan elevator.


"Pak, siapa yang disandera? Apa yang dia inginkan?" tanya Ravka cepat saat sudah berada tepat dihadapan petugas keamanan tersebut.


"Maaf Pak, saya tidak tahu pastinya. Tapi katanya karyawan baru dari divisi Business Analys," jawab petugas keamanan tersebut.


Sontak Ravka berlari kencang menuju kerumunan yang padat tersebut.


"Minggir .... Saya bilang minggir .... " hardik Ravka seraya mendorong sejumlah orang yang menghalangi jalannya untuk samapai pada barisan terdepan dari kerumunan itu.


Beberapa orang yang di dorong oleh Ravka hendak menghardik Ravka karena sikap seenaknya. Namun, saat menyadari siapa orang yang mendorongnya, membuat mereka membungkam dan memberi jalan pada Ravka.


Jantung Ravka berdenyut hebat manakala apa yang ia takutkan terpampang nyata di hadapannya. Wajah Ravka pucat pasi saat melihat belati menancap di leher Alea. Darah segar mengalir dari sana. Pemuda itu menggeram seraya mengepalkan kedua telapak tangannya kencang. Buku-buku jarinya mulai memutih saking kencangnya ia mengepalkan tangannya menahan geram.


"Apa yang lu inginkan baj*ngan?" hardik Ravka membahana.


Menghentikan semua kasak kusuk dari orang-orang yang berkerumun. Mereka terkaget saat melihat salah satu direktur di BeTrust berdiri diantara mereka. Wajah tegang Alea sedikit mengendur saat melihat Ravka berdiri diantara kerumunan orang. Matanya menatap suaminya sayu, mengirimkan sesak yang menggelayut di dada Ravka.


"Diam lu breng*ek. Gue ga ada urusan sama lu," ucap pria berpakaian serba hitam itu tak acuh. "Cepat hubungi suami jal*ng ini," lanjut pria itu lagi.


"Gue orang yang lu cari," ucap Ravka memotong ucapan Vika. "Sekarang katakan, apa yang lu inginkan," ucap Ravka tak sabar.


"Ooo .... Jadi elu yang namanya Ravka?!" ucap pemuda itu seraya tersenyum miring. "Bagus kalau elu sekarang sudah disini, jadi elu bisa menyaksikan gue menyiksa jal*ng ini," ucap si penawan sembari membelai pipi Alea hingga bibirnya.


"Jauhin tangan lu dari Alea," seru Ravka yang justru menghadirkan kesenangan di wajah si penawan.


Pemuda itu terkekeh senang melihat reaksi Ravka yang terlihat panik dan ketakutan.


"Kenapa lu kelihatan ketakutan banget? Bukannya elu orang yang punya kekuasaan, sampai bisa melakukan apa saja. Buat apa lu ngerasa ketakutan kalau lu begitu hebat?!" ucap pemuda itu masih dengan kekehan yang menyakitkan telinga Alea.


"Dasar breng*ek. Kalau urusan lu sama gue, ayo hadapi gue langsung. Jangan bawa-bawa istri gue disini," ucap Ravka membuat semua orang yang sedang berkerumun terperangah.


"Lu tau, masalah gue bukan cuma sama lu. Tapi juga sama perempuan jal*ng ini. Kalau dia tidak ikut campur masalah gue, ga akan ada hari ini,"


"Siapa lu sebenarnya? Dan apa mau lu?" tanya Ravka tak sabar.


"Lu tanya siapa gue? Setelah lu hancurin keluarga gue, lu ga tau siapa gue?" seru pemuda itu kesal. "Bukannya lu ngerasa hebat bisa ngehancurin karir dan kehidupan seorang jenderal polisi? Tapi lu bahkan ga tau siapa gue?" senyum ironi pemuda itu mengintip di balik topi yang dikenakannya.


Gigi Ravka bergemeretak menahan emosi menyadari siapa pria yang sedang ia hadapi. Ia tak pernah menduga kalau pria itu benar-benar tidak waras. Ia pikir pria itu akan mendatanginya dan memohon ampun atas perbuatan bejatnya. Namun, ternyata pria itu justru berbuat nekat. Bahkan membahayakan nyawa istrinya. Membuat Ravka menyesali sikapnya yang meremehkan pemuda itu.


"Apa mau lu?" tanya Ravka menahan emosi yang hampir meledakkan kepalanya.


"Sabar Bro, gue masih mau main-main sama jal*ng lu ini," ucap pemuda itu seraya menyapukan tangannya sekali lagi pada pipi Alea.


"Jauhkan tangan lu dari Alea, bajin*an," hardik Ravka.


"Gue punya nama, sebut nama gue dengan tuan yang terhormat," ucap pemuda itu kasar sembari menekankan belati ditangannya hingga membuat Alea meringis kesakitan.


"Jangan sakiti Alea," seru Ravka frustasi.


pemuda itu hanya menjawab dengan sorot mata tajam. Ia hanya melayangkan senyum menantang yang membuat Ravka seakan tak berdaya.


"Baik tuan Rama yang terhormat, apa yang anda inginkan?" ucap Ravka melembutkan suaranya.


Ravka harus menahan egonya, jika tidak ingin sesuati yang buruk menimpa Alea. Dia harus bisa mengontrol emosinya dan mencari jalan keluar secepatnya. Menurunkan egonya sampai tingkat terendah.


Nino maju mendekati ravka dan membisikkan sesuatu di telinganya. Membuat Ravka memgedarkan pandangan keseliling kerumunan melalui ekor matanya. Dia tidak bisa bertindak gegabah hingga bisa membahayakan Alea.


Tawa membahana dilayangkan oleh orang yang menawan Alea. Ia begitu merasa senang mendengar Ravka merendahkan diri dihadapan begitu banyak orang yang sedang menonton mereka.


"Bagus .... Lu ternyata orang yang cukup cerdas. Karena lu udah bisa bekerjasama dengan baik, gue akan kasih tau apa yang gue inginkan," ucap Rama masih terus terkekeh senang.


"Gue mau lu ngerangkak mohon ampun di kaki gue," ucap Rama dengan pongah.


Ravka mengernyitkan dahi merasa aneh dengan permintaan pria dihadapannya itu.


Apa yang dia lakukan hanya untuk memenuhi keinginan yang begitu kekanakan? - Rutuk Ravka dalam hatinya.


"Apa lu yakin dengan permintaan lu?" ucap Ravka menaikkan sebelah alisnya. "Gue cuma mau ngingetin elu. Gu masih bisa kasih satu kesempatan. Kalau elu bersedia pergi sekarang dan menghilang dari kehidupan keluarga gue, lu akan gue biarin bebas. Tapi sebaliknya, kalau lu masih mau bermain-main, lu akan terima akibatnya. Gue ga akan ngelepasin lu bahkan samapai liang lahat," ancam Ravka.


"Gue disini yang pegang kendali, bukan lu," hardik rama kasar. "Jadi lu ga bisa ngancem gue,"


"Gua sebetulnya hanya mau kasih pelajaran sama lu. Biar lu bisa merubah tabiat jelek lu. Tapi sepertinya gue sudah salah melepas lu dengan mudah. Lu ga perlu sejauh ini. Kalau lu mau minta maaf ke adik dan istri gue, gue mungkin bisa berbaik hati kepada keluarga lu," Ravka masih mencoba mengulur waktu.


"Ga usah banyak bacot. Lu pikir keluarga gue bisa utuh seperti sebelumnya? Bokap gue tetap akan dipecat dengan tidak hormat dari kesatuan. Semua aset keluarga gue juga tidak akan bisa kembali,"


"Soal bokap lu, itu adalah resiko dia ketika dia melakukan kejahatan. Dia seorang penegak hukum, tapi dia sendiri yang melanggar hukum itu,"


"Diem lu. Ga usah ngomentarin bokap gue. Cepat lakukan apa yang gue perintahkan. Gue juga akan ngebuat lu merasakan bagaimana sakitnya dipermalukan dan direndahkan,"


Ravka mengedarkan pandangannya pada sekitar. Ia dapat melihat beberapa orang seperti sudah berada pada posiai yang bagua dan semakin mendekat Rama dari berbagai penjuru. Beberapa diantara mereka yang sudah memiliki posisi penting di keamanan BeTrust sudah dilatih secara profesional. Ravka meyakini mereka bisa membebaskan Alea. Hanya saja ia sudah tidak tahu bagaimana mengulur waktu dan mengalihkan perhatian Rama hingga pemuda itu lengah.


*********


sampe sini dulu yah.. lanjut part berikutnya.. udah butek mikir adegan menegangkan.. ga jago soalnya.. mesti banyak baca buku action dulu neh... heheheeee


sabar yah...