Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
Part 102# Pajamas Party


"Cie ... cie ... yang abis diapelin kekasih hati," goda Vika semakin membuat wajah Alea memerah.


"Apa sih Mbak," ucap Alea malu-malu.


"Tumben babang ganteng nyamperin?" Vika mengalihkan perhatiannya dari layar komputer ke wajah merona Alea.


"Mintain bekelnya doang," elak Alea.


"Sekalian godain istri yak." Vika mencondongkan tubuhnya lebih mendekat ke meja kerja Alea. "Love you," tambahnya menirukan gerakan bibir Ravka tanpa suara.


"Mbak Vika ih. Demen banget godain," Alea mengalihkan wajahnya dari tatapan meledek Vika dan memfokuskan dirinya pada layar komputer yang sudah diabaikannya sejak kedatangan Ravka tadi.


"Gila, beruntung banget gue hari ini. Baru kali ini loh gue ngeliatin Pak Ravka dari deket. Bening banget." Sasya tiba-tiba dengan hebohnya menghampiri kubikel Alea seraya memelototkan matanya.


"Bukannya elu dah pernah liatin Pak Ravka dari deket yah?" sambar Vika.


"Seumur-umur kerja disini, yah baru kali ini doang Mbak," jawab Sasya antusias.


"Lah yang kemaren pas ada yang bikin rusuh dikantor, bukannya lu diri paling depan?"


"Ih Mbak Vika mah, ga asik banget. Yah mana fokus liatin Pak Ravka Mbak, lagi tegang begitu. Orang waktu itu aku banyak meremnya," Sasya memanyunkan bibirnya. "Padahal waktu itu Pak Ravka deket banget yah berdirinya sama aku. Kalo sekarang kan ga terlalu keliatan. Orang akunya liatin punggung dia doang. Keliatannya pas dia jalan doang," Sasya lagi-lagi memanyunkan bibirnya menyesal tak dapat melihat Ravka lebih jelas.


"Ih elu ni Sya, kalo ngomong nyablak aja. Bininya ada disini nih. Ga takut bininya ngamuk?" ucap Vika seraya melirik Alea.


"Ah .... Alea mah orangnya ga bar-bar, sih. Lagian gue kan bukan tipe-tipe pelakor. Ogah gue rebut laki orang. Kalo mengagumi doang kan ga apa-apa ya Al?" Rentetan ucapan Sasya membuat Alea tergelak.


Temannya yang satu ini memang sangat blak-blakan dan apa adanya. Membuat Alea justru merasa santai menanggapi tingkahnya.


"Lagian elu kawinnya ama artis, ya harus siap resiko lah laki lu dilirik orang. Boleh dilirik tak boleh di pegang," tutup Sasya dengan nyanyian milik sang pedangdut lawas Ellya Kadam sambil mengerlingkan mata jahil.


Sontak Alea dan Vika terpingkal-pingkal melihat kelakuan Sasya. Kehebohan mereka sempat membuat beberapa kepala di ruangan itu mendongak menatap mereka. Namun, tak ada suara yang berani menegur. Mereka kembali menenggelamkan diri pada pekerjaannya masing-masing dan tak menggubris apa yang tengah terjadi di meja Alea.


"Mentang-mentang ngobrol ama bini bos, lu jadi ikutan seenaknya sih Sya?" sindir Irma dari seberang kubikel Alea.


"Cie .... ada yang sirik," celetuk Sasya membuat Irma Keki, sementara Vika semakin tergelak dengan kelakuan Sasya dan Alea hanya bisa menggelengkan kepala. "Gabung aja sih Ir kesini, kalau mau. Siapa tau Alea mau kasih fotonya Pak Ravka buat gue pajang di kamar."


"Ih enak aja. Ogah. Yang ada tar malah di pelet lagi sama Mbak Sasya," jawab Alea seraya tergelak.


"Orang gila mah ga usah diladenin Al," ucap Vika dengan kedua sudut mata meneteskan air seraya memegang perutnya yang mulai kaku.


"Yaudah deh, gue ga minta foto laki lu. Tapi kalau fotonya Pak Nino boleh dong," ucap Sasya dengan senyum yang dibuat seimut mungkin seraya memainkan alisnya naik turun.


"Tar aku tanyain dulu orang nya yak?" jawab Alea santai sembari mengelap sudut matanya yang juga sudah mulai menetes seprti Vika.


"Yah, kalau lu tanya dulu ga bakalan ngasih lah orangnya," Sasya memajukan bibirnya untuk kesekian kali seraya berdecak kesal. Ia kemudian berbalik dan kembali ke kubikelnya.


Mereka kemudian kembali tenggelam pada pekerjaannya masing-masing, hingga jam pulang kantor membawa senyum cerah bagi para buruh kerah putih. Hari ini perhatian Alea cukup teralihkan dari memikirkan sang suami yang akan meninggalkannya keluar kota dengan kelakuan Sasya yang selalu mengahsilkan tawa renyah. Jam makan siang pun mereka lewatkan bersama di meja kerja Alea, lantaran Sasya berhasil merayu istri bosnya itu untuk mentraktir semua rekan kerja satu ruangan. Tentu saja hal itu disambut semua orang. Karena tak pelak, setiap akhir bulan hampir semua orang mengeluhkan isi dompet yang mulai menipis. Hanya Irma yang tampak tak suka. Sementara Firda masih terlihat canggung dan malu karena kelakuannya sebelum ini.


**********


Saat makan malam tadi Alea terlihat lesu. Karena ia sudah semakin dekat dengan kedua adik iparnya, jadilah gadis itu bercerita kalau ia tak terbiasa tidur sendiri. Di rumah bibinya, ia selalu tidur bersama Kania meski mereka memiliki kamar terpisah. Kepergian Ravka keluar kota justru disambut baik oleh Sandra yang menawarkan diri menemani sang Kakak ipar menginap di kamarnya. Dengan senang hati Alea menyambut kedatangan adik iparnya itu agar ia tak kesepian.


"Iya dong," ucap Sandra berdiri di depan pintu sembari membawa Teddy Bear kesayangannya.


"Yaudah yuk masuk," ucap Alea seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


"Tunggu, aku ikutan," ucap Tiara dengan suara manja dari kejauhan saat Alea audah akan menutup pintu kamarnya.


"Hayuk, makin rame makin seru," ucap Alea dengan wajah tersenyum senang.


"Pajamas Party," teriak Tiara seraya melayangkan tinjunya ke udara.


Sandra langsung meraih telpon rumah yang terletak di atas nakas persis di sebelah tempat tidur.


"Mbak, bawain sandwich, keripik kentang, chesee cake, apalagi yah?" ucap Sandra seraya mengetuk kepalanya dengan jemarinya. "Ah iya, snack yang gurih-gurih deh. Terus minumannya, Kak Tiara mau apa?" tanya Sandra pada Tiara masih dengan gagang telepon di genggamannya. "Jus mix Berry," ucap Sandra mengulang permintaan Sandra. "Kak Al?" tanya Sandra yang langsung dipahami oleh Alea. "Jus Sirsak sama Soft drink satu botol gede. Jangan lupa gelasnya juga. Anter ke kamarnya Mas Ravka yah Mbak," intruksi Sandra panjang lebar.


Sandra sempat terdiam sesaat sebelum ia kembali berbicara pada corong telepon. "Ga akan. Tenang ajah Mbak. Ada Kak Alea yang bakal tanggung jawab," ucap Sandra seraya menutup telepon sambil terbahak-bahak.


"Loh kok aku dibawa-bawa? tanggung jawab apaan nih?" tanya Alea menatap tajam Sandra.


"Mana ada yang berani bawa makanan sebanyak itu ke kamar sini? Yang ada Mas Ravka bakalan ngamuk kalau tau kamarnya kita buat jadiin grils party," ucap Tiara sembsri tertawa membayangkan wajah galak Ravka.


"Aku ga mau tanggung kawab sendiri loh, ya. Kalian juga mesti ikut tanggung jawab," ucap Alea seraya bersidekap.


"Tenang aja. Kakak ga liat apa, Mas Ravka kan udah jinak sama Kak Al. Ga bakalan lah dia berani marah-marahin kakak. Kalo kita udah pasti kena jitak. Bisa-bisa kena hukum," ucap Sandra santai.


"Emang dia bakalan ngehukum kalian apaan?" Alea ngerutkan dahinya.


"Paling aku dipotong jatah bulanan, senjata dia kan itu mulu," ucap Sandra seraya mencebik.


"Kamu enak potong jajan doag. Lah aku ga boleh keluar rumah selama weekend. Dikira aku masih amak kecil apa. Bayangin deh Kak, Aku ini udah dua puluh empat tahun loh padahal. Tapi maaih aja suka diperlakukan kaya anak kecil." Tiara menghempaskan tubuhnya dan berguling diatas kasur.


"Kamu itu dua puluh empat tahun? Tuaan kamu kemana-mana yak." kekeh Alea.


"Kamu itu yang terlalu kemudaan Kak. Nikah kok ya sama orang setua Mas Ravka. Padahal di luaran sana kan masih banyak yang muda yang berjiwa muda juga. Ga kolot kaya Mas Ravka," keluh Tiara kesal.


"Perasaan Mas Ravka ga kolot deh?"


"Udah ih, ga usah bahas Mas Ravka mulu napa. Bosen, mending kali-kali kita bahas Ji Cang Wook," ucap Sandra memotong perdebatan Alea dan Tiara.


"Ih males banget opa-opa korea," ucap Tiara dan Alea bersamaan.


Tak lama berselang pesanan mereka datang diantarkan menggunakan service trolley. Membuat Alea begitu takjub. Hanya dengan mengangkat telepon, dengan singkat semua yang mereka minta akan terhidang sempurna layaknya di hotel bintang lima.


Ia baru menyadari bahwa fungsi telepon di sudut kamarnya itu tak hanya sekedar menelpon keluar. Ia pernah bertanya dalam hati, untuk apa dipasang pesawat telepon kalau tak pernah digunakan. Karena ia selalu melihat Ravka menelpon dengan ponselnya. Pemuda itu selalu membawa tiga ponsel kemanapun ia pergi. Ia baru menyadari fungsi telepon itu justru untuk saling berhubungan dengan orang di dalam rumah. Tiap kamar punya nomernya sendiri agar saling terhubung, begitu pula dengan area dapur, ruang tengah serta ruang khusus yang ditempati oleh kepala pelayan yakni Bi Mimah.