Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 79# Penyanderaan


"Diam atau belati ini akan merobek leher lo," bisik orang yang menarik Alea di telinganya.


Alea berdiri gemetar saat menyadari sebuah logam dingin nan tajam menyentuh kulitnya. Rasa perih akibat ujung belati yang menempel di leher Alea membuat gadis itu semakin mengkerut.


"Alea," jerit Vika dan Sasya hampir bersamaan.


"Diam kalian, kalau tidak mau perempuan ini celaka," hardik pemuda tersebut kepada Vika dan Sasya.


"Kalian semua diam di tempat. Jangan ada yang berani mendekat," jerit pemuda itu kepada setiap orang yang mulai berkerumun memperhatikan keributan yang sudah ia ciptakan.


Pemuda itu berjalan mundur hampir menempel pada dinding tak jauh dari meja keamanan gedung. Tangan kirinya ia lingkarkan di bahu Alea. Sementara tangan kanannya memegang belati mengkilat memperlihatkan ketajaman menempel di leher Alea.


"Mundur kalian semua .... " jerit pemuda itu saat beberapa orang petugas keamanan mencoba mendekat. "Gue ingetin ke kalian semua, kalau sampai gue ngeliat ada polisi disekitar sini, maka perempuan ini akan langsung kehilangan nyawanya. Mengerti?!" teriak pemuda itu lagi.


Semua orang nampak tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Terutama para petugas keamanan yang merasa kecolongan dan telah membahayakan keselamatan salah seorang pegawai perusahaan. Seorang petugas keamanan terlihat seperti berbicara di handie talkie. Melaporkan kejadian yanh sedang berlangsung kepada atasannya.


"Ka-kamu si-siapa?" tanya Alea terbata.


"Apa lo ga bisa mengenali gue, ha?!" seru pemuda itu dengan seringai lebar menghiasi bibirnya. "Gue orang yang keluarganya udah lu hancurin," seru pemuda itu penuh emosi.


"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti," rintih Alea gugup.


"Gara-gara laki lo yang breng*ek itu, keluarga gue sekarang berantakan. Bokap gue sekarang dipenjara dan terancam dipecat dari kesatuan. Ibu gue depresi dan nyalahin gue. Adik-adik gue sekarang benci sama gue. Padahal ini semua bukan salah gue. Ini gara-gara suami lo. Gue bakal ngebuat dia ngebayar apa yang udah dia lakukan ke keluarga gue," ucap pemuda itu seraya menekan belatinya lebih keras.


"Aaww .... " jerit Alea saat ujung belati itu melukainya.


Meski luka kecil, ketajaman belati itu membuat leher Alea mengeluarkan darah yang menempel pada belati itu.


"Tenang Mas, tenang .... Jangan nekat. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap salah seorang petugas kemanan berupaya menghentikan pemuda itu agar tak berbuat lebih jauh.


"Gue bilang mundur!" ucap lelaki itu seraya melemparkan pandangannya ke sekelilingnya. Memberi perintah kepada Lima orang betugas keamanan yang merangsek maju di depan kerumunan. Perlahan para petugas kemanan itu mundur.


"Gue ga akan bisa tenang sebelum melihat pria breng*ek itu merangkak memohon ampun. Panggil dia kesini," hardik pemuda itu.


"Baiklah kami akan memanggil orang yang anda cari. Bisa beritahukan siapa yang sedang anda cari?" tanya petugas keamanan itu berusaha terlihat tenang dan mengulur waktu.


"Cepat panggil suami lo kesini," ucap Pemuda itu pada Alea.


"Ba-bagaimana aku memanggilnya. Aku tidak bisa bergerak dan ..... "


"Ga usah banyak alasan. Kemarikan handaphone lo," ucap Pemuda itu.


Alea merogoh saku blazernya. Mengambil ponselnya yang ia simpan disana. Dia masih mencoba mengingat suara yang tidak asing di telinganya. Namun ia tak dapat melihat wajah pria yang tengah menyanderanya itu. Gadis itu mengantungkan tangannya yang menggenggam ponsel.


Nampak di sekitar lokasi kejadian, semakin banyak dikerumuni orang yang berlalu lalang di loby gedung, karena memang saat ini merupakan jam istirahat dimana para pegawai kantor hendak keluar makan siang. Ditambah berita penyanderaan yang tersebar membuat semakin banyak orang yang mengerumuni lokasi kejadian.


Sang penawan Alea terlihat menyeringai lebar, merasa senang karena tujuannya hampir tercapai. Inilah yang dia kehendaki. Semakin banyak yang menonton akan semakin bagus.


Hampir seluruh aset yang dimiliki orang tuanya disita oleh negara. Belum lagi rekening ayah dan ibunya kini dibekukan. Sehingga ia tak dapat berbuat apapun demi menolong ayahnya di dalam penjara. Ia juga tak dapat membalaskan dendam karena sekarang tak punya apa-apa lagi. Membuat lelaki itu nekat menyandera Alea demi membalaskan dendam dengan tangannya sendiri. Meski ia sadar pada akhirnya ia bisa saja tertangkap, tapi semua sudah kepalang hancur. Ibunya pun kini tak mau lagi menemuinya. Begitupula dengan Ayahnya yang sedang dienjara. Membuat ia semakin frustasi dan memilih berbuat nekat.


"Lempar ponsel lo ke dia. Minta dia telpon suami lo. Suruh dia cepat kesini," perintah laki-laki itu lagi.


Alea melempar ponselnya kepada Vika saat jarak mereka tinggal satu meter. Dengan tangan yang masih bergetar ketakutan, Vika menangkap ponsel yang nyaris terjatuh di lantai.


Irma dan Firda juga sudah tampak membelah kerumunan menghampiri Sasya yang sudah melelehkan air mata. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan Irma saat Vika berjalan berbalik menuju mereka.


Di belakang kerumunan, tampak kepala keamanan sedang memberikan instruksi tersirat kepada beberapa petugas keamanan. Membagi mereka menjadi beberapa tim dengan strategi yang sudah mereka diskusikan sebelum menuju lokasi penyanderaan. Para petugas keamanan itu menyebar diantara kerumunan para pegawai. Beberapa diantaranya sudah memblokade jalan agar tak semakin banyak yang berkerumun di lokasi kejadian. Beberapa lagi sengaja berpakaian selayaknya karyawan kantor sebagai kamuflase.


"Tenang Sya," ucap Irma seraya mengelus punggung Sasya mencoba menenangkan rekan kerjanya yang terlihat syok dan ketakutan.


"Ini gimana ceritanya sih?" tanya Firda berbisik.


Bisik-bisik tak hanya berasal dari Firda. Desisan juga terdengar dari semua orang yang baru tiba di tempat kejadian. Mereka berusaha kencari tahu apa yang sedang terjadi dengan bertanya kepada siapa saja yang kebetulan ada di sebelahnya. Semua orang berbicara dengan sangat pelan dan takut-takut. Meski begitu tak memudarkan rasa penasarana mereka sehingga menciptakan kasak kusuk tiada henti.


"Kita juga ga tau gimana Fir. Pas lagi jalan tiba-tiba orang itu narik Alea. Pas gue noleh, leher Alea udah ditodong piso," jawab Sasya seraya terisak.


"Apa yang dia mau sih?" tanya Irma penasaran.


"Kayanya dia dendam sama suami Alea," jawab Sasya lagi.


"Hei .... bisa cepat tidak? atau lo mau, lo yang gue gorok lehernya," hardik pemuda itu membuat perhatian semua orang kembali teralih kepada pria yang menawan Alea.


Bruk !!


Teriakan pemuda itu justru membuat Vika terkaget dan menjatuhkan ponselnya. Dengan tubuh gemetaran Vika meraih ponsel yang tergeletak dilantai.


"I-iya .... " ucap Vika terbata.


Firda langsung merangsek maju membantu Vika. Meski sejujurnya ia tak begitu menyukai Alea dengan segala kelebihan yang dimiliki gadis itu, tapi ia tak pernah berharap hal buruk menimpa rekan kerjanya itu. Apalagi melihat bagaimana belati itu mulai melukai Alea dan membuat gadis itu meringis kesakitan. Membuat Firda ikut merasa empati dan iba padanya.


**********************************************


Maaf yah sedikit dulu.. Karena akhir2 ini aku jarang up date, InsyaAllah hari ini aku update dua part.. Satunya lagi ditunggu aja yah.. Kalo ga ada kendala magrib aku lempar naskah lagi... See u... happy reading all