
"No, ada kabar soal Pak Bambang?" tanya Ravka gusar di kursi kebesarannya.
"Ga ada Rav. Tu orang ngilang ga tau kemana. Bahkan gue udah nyuruh orang kita buat ngecek ke rumahnya dan juga rumah anak dan menantunya. Semua nihil. Ia menghilang bersama seluruh anggota keluarganya. Menantunya tiba-tiba cuti dari kantor. Dua orang cucunya bahkan tidak masuk sekolah," jelas Nino panjang lebar.
"Damn it," umpat Ravka kesal seraya membanting pulpen ekslusive keluaran Aigner begitu saja ke atas meja. "Mas Alex?" tanya Ravka dengan desagan nafas tertahan.
"Sekretarisnya bilang, Mas Alex masih belum bisa dihubungi,"
"Arghhh ..... " jerit Ravka frustasi. "Apa sih sebenernya yang sedang kita hadapi ini? gue sama sekali ga bisa ngebaca motif terselubung di balik ini semua." Desahan putus asa kembali mendesis dari mulit Ravka.
"Gue rasa ini ada kaitannya dengan Sherly, Rav," ucap Nino tiba-tiba, membuat Ravka menegakkan tubuhnya menunggu dengan tak sabar lanjutan ucapan temannya itu.
"Gue lebih ga bisa nemuin motif apa yang melandasi dia melakukan ini? Semuanya ga masuk akal No." Geleng Ravka tak yakin mendengar penuturan Nino.
"Siapa lagi orang yang bisa melakukan ini semua selain Sherly?" Nino melempar pertanyaan yang tak dapat Ravka sanggah.
Pemuda itu hanya bisa terdiam seraya memijat pangkal hidungnya.
"Katakanlah Tante Erica biang keladi ini semua. Dia bisa saja menghasut Sherly untuk menggunakan kuasanya sebagai salah satu pemilik saham tertinggi di Mulia Hotel, agar bisa menerobos masuk ke dalam kamar President suite untuk mergokin lu dan Alea. Tapi gimana caranya Tante Erica bisa membuat satu server CCTV untuk satu lantai bisa shut down seharian penuh? Apalagi di lantai itu semua kamarnya adalah president suite. Lu tau dampaknya kalau sampai terjadi sesuatu karena mematikan server CCTV untuk lantai elite seperti itu?" Lagi-lagi Nino melemparkan pertanyaan yang tak dapat Ravka jawab.
Dalam hatinya Ravka membenarkan semua hipotesa Nino. Tak sembarang orang yang bisa melakukan hal segila itu di sebuah Hotel bintang lima yang tidak usah dipertanyakan kredibilitasnya. Hanya orang yang punya kuasa penuh yang bisa melakukannya. Dan itu pasti ada kaitannya dengan Sherly. Karena keluarga Sherly adalah salah satu pemilik saham terbesar di Mulia Hotel.
Awalnya Ravka sempat mengira kalau server CCTV untuk lantai dua puluh enam Hotel tersebut mengalami gangguan saat terjadinya penjebakan terhadap dirinya hanyalah sebuah kebetulan. Seluruh CCTV yang diletakkan di lorong lantai dua puluh enam tak berfungsi sama sekali. Ia hanya bisa mendapat gambar Yuri dan Alea melalui CCTV saat di lobi hotel. Selebihnya tak ada petunjuk sama sekali. Setelah itu ia hanya bisa mendapati Yuri dengan kondisi mengenaskan. Hanya Alea yang bisa ia kambing hitamkan atas kejadian malam itu.
"Satu-satunya petunjuk yang bisa kita pakai cuma CCTV di dalem lift khusus yang menghubungkan basement langsung menuju lantai dua puluh enam. Dan ajaibnya CCTV itu juga tidak berfungsi dalam waktu bersamaan," imbuh Nino semakin membuat Ravka meragu.
"Tapi untuk apa Sherly melakukan itu semua No? Lu tau? bahkan sampai sekarang, sherly masih ngedeketin gue dan mau balik sama gue,"
Nino mengedikkan bahunya sebagai jawab atas pertanyaan Ravka. Hal itulah yang selalu membuat penyelidikan mereka menemui jalan buntu. Sebelumnya mereka sama sekali tidak menyadari kalau Sherly adalah orang yang punya kuasa cukup kuat di Mulia Hotel, sehingga mereka dengan segera mencoret Sherly dari daftar orang yang patut dicurigai. Namun, penyelidikan terkahir yang dilakukan oleh orang suruhan Ravka, menemukan bahwa Keluarga Sherly mempunyai saham lebih dari lima puluh persen di Hotel tersebut.
"Yang pasti ini ada kaitannya dengan perusahaan Rav. Gue rasa Sherly punya maksud buruk terhadap perusahaan. Bisa jadi Mas Alex memang cuma dijadikan pion oleh Sherly. Lu tau sendiri kalau Mas Alex tidak terlalu memperdulikan perusahaan selama ini. Menjadikan Mas Alex sebagai CEO, ngebuat dia bisa melakukan apa saja terhadap perusahaan tanpa Mas Alex sadari."
"Tapi kenapa harus seminggu sebelum pernikahan kami dia melakukan ini semua?" Ravka kembali memicingkan matanya. Ia menggerakkan bola matanya ke kanan, mengaduk isi kepalanya untuk mencari segala hal yang bisa ia kaitkan dengan kelakuan Sherly yang mencurigakan.
"Karena lu ga bisa dibohongin soal manajemen perusahaan. Lu tau persis seluk beluk perusahaan. Lu inget? empat tahun lu pacaran sama Sherly, dia selalu kemari dan menyakan banyak hal tentang perusahaan. Sudah berapa orang yang dia tawarkan untuk menggantikan posisi gue? Sayangnya lu sama gue satu paket. Dia ga bisa memanipulasi elu tanpa melewati pertahanan dari gue."
"Gue ngerti itu semua No, berapa kali kita sudah ngebahas ini? Sempuanya masuk akal, tapi yang ga masuk akal untuk apa Sherly melakukan ini semua? Kalau harta yang jadi tujuannya, dia bahkan mewarisi aset yang setara sama gue."
Nino sama sekali tak punya jawaban untuk pertanyaan yang satu ini. Kenapa Sherly seolah-olah ingin menghancurkan perusahaan Ravka. Kalau asmara yang melatari, Ravka cukup baik sebagai seorang kekasih bagi Sherly. Meski Ravka terkadang hampir tak punya waktu untuk perempuan itu, tapi selama ini Ravka selalu memperhatikan Sherly dengan segala hadiah yang ia berikan. Ravka bahkan tak pernah lupa meluangkan waktu untuk merayakan aniversary mereka atau hari-hari spesial lainnya.
"Tapi gue juga ga yakin kalau Mas Alex bisa berbuat sejauh ini Rav. Meski gue tau dia memiliki kecemburuan sama lu, tapi dia bukan orang yang berambisi," ucap Nino masih tertunduk di atas meja.
Jika mereka tak tau apa yang menjadi tujuan seseorang dibalik semua kejadian di dalam perusahaan, mereka pasti akan kesulitan menentukan langkah untuk mengantisipasi semua masalah yang timbul. Salah-salah akan semakin memperburuk keadaan. Hanya Alex dan Bambang yang menjadi tumpuan terakhir mereka. Namun, keduanya justru hilang tak berkabar. Padahal tak lama lagi rapat direksi akan dimulai. Meski hanya sebuah rapat direksi, tapi setiap direksi yang duduk di perusahaan adalah orang-orang pilihan para investor untuk menjamin uang mereka yang sudah investasikan di dalam Dinata Group. Sehingga kalau mereka sedikit saja mencium ketidak beresan yang terjadi di dalam perusahaan, akan semakin mempersulit Ravka untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada.
"Yang paling mungkin dan masuk akal memang Sherly pelakunya. Tapi apa yang dia inginkan sebenarnya?" Ravka lagi-lagi menggelengkan kepalanya menghadapi kebuntuan dihadapan mereka.
"Balas dendam," sebuah suara dari ambang pintu ruang kerja Ravka mengagetkan Ravka dan Nino yang masih berkutat dengan pikiran mereka.
Saking berkonsentrasinya mereka mencari titik terang masalah ini, baik Ravka maupun Nino tak ada yang menyadari kehadiran Kakek Bayu yanh sudah membuka pintu ruang kerja Ravka dengan lebar.
"Kakek?!" ucap Ravka terheran melihat kehadiran Kakeknya di dalam perusahaan.
Bayu tampak gagah dalam setelan jas hasil karya rumah mode Brillington & Brothers. Pria yang sudah berusia lanjut itu berjalan santai dengan walking stick di tangannya menuju Ravka dan Nino. Ravka dengan segera bagkit dari kursinya dan mempersilahkan Bayu untuk menempatinya, tapi denga segera ditolak oleh Kakek tua itu. Bayu lebih memilih duduk di sofa dalam ruangan itu diikuti oleh Nino dan juga Ravka. Pada kesempatan itu, Bayu menceritakan segala hal yang menyangkut Sherly dan juga masa lalu anak-anak Bayu yakni Derry dan Dika pada Ravka. Ravka hanya mampu membelalakkan matanya tanpa dapat berkata-kata.
**********************************************
yang kangen Ravka dan Alea sabar yah... sekarang bagiannya pengungkaan misteri dulu... biar ga semakin penasaran emmm...
untuk ngobati kangen Alea sama Ravka aku kasih visual mereka yah... tapi kalau visualnya ga cocok kalian bisa make visual sesuai dengan imajinasi kalian aja yah.. biar ga ambyar imajinasinya...
ALEA PRAMESWARI
putih, cantik, masih muda, dan punya lesung pipit.. cocok kan yah?? cantiknya alami tanpa polesan make up..
RAVKA MAHENDRA DINATA
ganteng, cool, berwibawa... author entah kenapa jatuh hati pas liat fotonya inih.. hehheeeee