
"Kak Al, kakak sudah pulang?" serbu Sandra seraya memeluk kakak iparnya manakala Alea baru saja menginjakkan kakinya di ruang keluarga.
Alea menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga tersebut setelah Sandra melepaskan pelukannya yang disusul oleh Tiara yang melakukan hal yang sama seperti Sandra. Ravka lantas ikut menjatuhkan tubuh di sisi istrinya.
"Bi, minta Pak Rudi buat bawa semua barang-barang di mobil ke kamar yah," seru Ravka pada Bi Mimah yang setia mengekori mereka dari pintu utama.
"Baik, Den," jawab Bi Mimah seraya mengangguk.
"Oia, Bi. Itu di koper biru isinya oleh-oleh buat Bibi sama yang lain yah. Aku udah kasil label nama di setiap papper bag nya. Bi Mimah jadi tinggal bagiin aja," ucap Alea sebelum Kepala Pelayan itu benar-bemar melangkahkan kaki meninggalkan ruang keluarga.
"Baik, Non. Terimakasih banyak yah Non," ucap Bi Mimah tulus.
"Sama-sama, Bi," ucap Alea seraya tersenyum.
"Buat aku mana oleh-olehnya?" sambar Tiara yang masih asik memainkan remote TV, menggonta ganti chanel mencari tayangan asik buat dipelototi.
"Yah kamu tau sendiri kan, Maldives itu spot bagus buat liburan. Tapi barang-barang yang dijual disana standar semua. Disini juga banyak. A**nyway aku ada beli baju pantai dan gelang dari kerang buat kalian berdua," jawab Alea.
"Mama juga mau oleh-oleh dong, Al," sambar sebuah suara dari arah belakang sofa yang ditempati Alea.
Alea lantas menegakkan badan dan menoleh ke asal suara. Ia langsung berdiri dan menghampiri kedua mertuanya dan memcium punggung tangan mereka.
"Maaf, Ma. Aku ga ada nemu yang cocok buat Mama sama Papa. Aku hanya ada beli bros dari kerang buat Mama. Lagian gara-gara Mas Ravka nih, Ma. Males banget nemenin aku hunting barang-barang lokal disana. Jadi aku susah cari barang bagus buat oleh-oleh. Aku hanya membawa beberapa kuliner khas sana," kilah Alea.
"Produk lokal Maldives emang ga jauh beda sama Negara kita. Kan Maldiv memang sama-sama negara kepulauan yang dikelilingi pantai. Jadi yah Mama juga ga terlalu berharap kamu bisa membawakan Mama oleh-oleh barang," jawab Dilla santai sembari mendaratkan tubuhnya tak jauh dari anak-anaknya.
Pasangan suami istri itu memang buru-buru keluar kamar dan menemui anak serta menantunya yang sudah menghabiskan masa bulan madu mereka seminggu lamanya, saat mendengar anak dan menantunya itu sudah sampai di rumah. Tentu bukan tanpa sebab Dilla segera menemui mereka. Ada satu pertanyaan yang sudah sejak lama tak sabar ia layangkan pada anak dan menantunya itu.
"Mama kenapa tidak bilang kalau mau dibawakan sesuatu dari Maldives? Kalau Aku tahu sebelumnya, Aku pasti cariin sampe dapet." Alea berucap dengan wajah merasa bersalah.
"Mama bukannya minta dibawakan barang, Al," timpal Dilla dengan wajah melembut menenangkan hati menantunya yang terlihat tak enak hati.
"Loh, bukannya tadi Mama tanya oleh-oleh?" Alea mengerutkan keningnya.
"Oleh-oleh yang Mama pengen itu, ya hasil dari bulan madu kalian dong, Sayang," ucap Dilla dengan kerling mata membuat Alea semakin heran. "Mama maunya oleh-oleh kabar bahagia. Kapan Mama bisa dikasih cucu," ucap Dilla membuat Alea mendelik kaget.
Ravka berdehem mendengar ucapan Ibunya yang tiba-tiba. "Mama kira bikin cucu sama kaya bikin kue. Begitu pengen punya anak, bikin terus langsung jadi?" timpal Ravka santai membuat wajah Alea memerah seketika memdengar perkataan sang suami yang begitu santai.
"Yah, berharap kan boleh, Rav," ucap Dilla membela diri.
"Sudah-sudah, anak baru pulang kok langsung di gerecoki," ucap Derry menengahi. "Kalian sebaiknya istirahat dulu sana. Pasti capek kan habis dari perjalanan jauh," imbuh Derry yang mengetahui bahwa kepulangan Alea dan Ravka dari Maldeives menggunakan penerbangan komersil sehingga memakan waktu lebih banyak diperjalanan dikarenakan mereka harus melweati transit dan singgah di Bandara Internasional Singapura terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Karena kesibukan teman-temannya, mereka memilih menyudahi lebih awal acara berlibur di Maldives dan meninggalkan pasangan pengantin baru itu menikmati bulan madu mereka hanya berdua saja. Kania yang juga merasa tak mau menjadi obat nyamuk bagi pasangan yang tengah berbahagia itu, memilih ikut romobongan ines dan Rizka kembali ke Jakarta lebih awal. Al hasil Ravka memilih penerbangan komersil kembali ke Indonesia, karena baginya menyewa jet pribadi hanya untuk mereka berdua sebagai pemborosan yang tidak perlu.
"Tidak apa-apa kok Pa. Lagipula di dalam pesawat, Al lebih banyak tidur jadi tidak terlalu capek," balas Alea.
"Mumpung semuanya lagi pada kumpul, Aku mau kasih kabar, kalau Aku sama Alea akan memgadakan resepsi pernikahan." Ravka menjeda kalimatnya sejenak.
Baru saja hendak melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan, Ibunya sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya.
"Kak, nanti aku bantuin siapin pesta ala princess yah, Kak," seru Sandra turut antusias.
"Mending bikin Beach Party, Kak. Pasti seru itu. Keren nikah dipinggir pantai dengan angin sepoi-sepoi menerbangkan gaun pengantin dengan rambut tergerai indah." Pandangan mata Tiara sudah menerawang jauh membayangkan suasana Pernikahan yang selalu di idam-idamkannya.
Ketiga wanita keluarga Dinata itu sudah asik dengan celoteh mereka masing-masing. Membuat Ravka dan juga Ayahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Semantara Alea hanya menebar senyuman manis menanggapi keluarga baru yang membuat hatinya mengembang dipenuhi kebahagiaan.
*******
"Al, istirahat lah sekarang. Tidur yang nyenyak malam ini. Persiapkan dirimu untuk besok. Aku akan membawamu ke suatu tempat untuk menemui seseorang," ucap Ravka dengan nada serius sesaat setelah Ia dan Alea menempati kamar yang sudah mereka biarkan kosong selama satu minggu.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Alea saat rasa penasaran mengusik hati melihat raut wajah Ravka yang menegang.
"Kita akan menemui seseorang yang punya andil penting dalam penjebakan kita di hotel waktu itu," jawab Ravka.
"Tapi bukankah kamu sudah tau, Mas siapa dalang penjebakan kita malam itu?" tanya Alea semakin menggurat di wajahnya.
"Lagipula, bukannya Kakek meminta kamu untuk tidak memperpanjang masalah ini?" lanjut Alea melemparkan tanya lagi.
"Untuk masalah penjebakan ini, kita memang tidak akan memperpanjang masalahnya. Lagipula aku sudah tidak perduli lagi dengan tujuan mereka melakukan penjebakan itu. Aku justru bersyukur, dengan begitu aku bisa memiliki kamu karena masalah waktu itu." Ravka kembali menjeda kalimatnya dan menghembuskan nafas dengan kasar sebelum kembali memulai kata.
"Kejadian ini hanya akan meninggalkan masalah bagi Mas Alex. Aku tidak tahu bagaimana dia harus menghadapi masalah ini kedepannya. Karena masalah ini sedikit banyak akan berdampak pada pernikahannya."
"Bagaimana kondisi Mas Alex sekarang yah, Mas?" tanya Alea teringat dengan Kakak iparnya itu.
"Nino bilang, Mas Alex sekarang sudah lebih fokus dan serius menangani masalah perusahaan. Masalah yang kemarin timbul karena ulah keluarga Sherly, sudah mulai bisa ditangani sedikit demi sedikit."
"Masalah pernikahan Mas Alex dengan Sherly bagaimana?" cecar Alea lagi tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Soal itu aku tidak mau turut campur. Biarkan Mas Alex menyelesaikan urusan rumah tangganya. Lagipula sekarang Mas Alex memutuskan untuk menempati apartemennya secara permanen. Aku rasa itu karena dia membutuhkan waktu untuk menyelesailan persoalan pribadinya," jawab Ravka lagi.
Selama ini, Alex memang membeli sebuah apartemen untuk ia tempati setelah Kakak Sepupunya itu mulai bekerja. Hanya saja ia tetap akan menyempatkan diri kembali ke rumah besar keluarga Dinata setiap minggunya. Semenjak menikah dengan Sherly, Alex memang tak lagi menempati apartemennya dan tinggal di rumah besar milik Kakeknya. Hal itu dikarenakan ia sedang menyiapkan sebuah rumah untuk ia tempati bersama Sherly dan juga Ibunya. Sayangnya, belum sempat hal itu terwujud, rumah tangga lelaki itu sudah berda di ujung tanduk.
"Kalau semua sudah bisa diselesaikan, untuk apa kamu mengajakku menemui seseorang yang berkaitan dengan kejadian malam itu, Mas? Siapa yang mau kita temui Mas?"
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Besok kamu akan mendapat jawaban atas semua pertanyaan mu," ucap Ravka menyudahi pembahasan mereka.
Tak hanya istrinya, lelaki itupun butuh mengistirahatkan fusik dan mentalnya demi menghadapi apa yang menantinya esok hari.
**********************************************
sambil nunggu lanjutannya bisa di kepoin yah karya yang dibawah ini