
"Al, kantin yuk. Laper ni," ajak Vika saat waktu sudah menunjukkan waktunya jam makan siang.
"Aku ga ikut deh, Mbak,"
"Kenapa emang? Kerjaan mah bisa dilanjutin nanti. Mending kita makan siang aja dulu. Gue lagi males nih makan bareng Sasya and the genk. Belakangan mereka lagi suka ngegosip. Pusing gue dengernya," ucap Vika yang menerbitkan senyum di wajah Alea.
Inilah yang Alea suka dari Vika. Wanita itu bukanlah seperti wanita kebanyakan yang justru bersemangat jika membicarakan urusan orang lain. Sikapnya juga dewasa dan bijaksana, sangat menyenangkan diajak berteman. Bahkan meski baru saling mengenal, Alea sudah menganggap Vika seperti kakak perempuan yang bisa diajak bertukar pikiran.
"Aku bener-bener minta maaf Mbak, tapi aku ga bisa. Aku udah ada janji buat makan siang bareng...." hampir saja Alea keceplosan menyebutkan nama suaminya yang tentu akan membuat Vika kaget, bahkan mungkin tak percaya.
Alea mengingat ucapan Ravka di awal pernikahan mereka, bahwa ia tak boleh memberi tahu soal pernikahan mereka kepada siapapun. Hanya keluarga inti saja yang mengetahui soal hubungan keduanya. Dan lagi, Alea hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa ada kasak kusuk yang berbicara di balik punggungnya mengenai hubungan ia dengan salah satu direktur di perusahaan tempatnya bernaung.
"Lu mau makan di luar? Ga ajak-ajak gue nih?" Vika mengerucutkan bibirnya. Sudah bosan juga rasanya setiap hari makan di kantin kantor.
"Hmmm.... Aku sebenarnya mau makan siang bareng suami aku Mbak," jawab Alea salah tingkah.
Ia tak enak hati menolak Vika yang minta di ajak makan siang bersama. Hanya saja ia tak mungkin membawa Vika keruangan Ravka untuk makan siang bersama. Hari ini Alea sudah membawa bekal untuk memenuhi kemauan sang suami yang minta disiapkan makan siang. Ia sudah bangun lebih pagi, demi menyiapkan sarapan dan juga bekal yang dia bawa ke kantor untuknya dan juga Ravka. Tentu tak lupa menyiapkan bekal untuk Nino juga, karena mau tak mau ia pasti akan selalu merepotkan pemuda itu nantinya.
"Ohh oke I see. Jadi lu mau nge-date bareng suami tercinta nih ceritanya?" ledek Vika membuat wajah Alea tersipu.
"Apaan sih Mbak, ga lah,"
"Yah ga apa-apa juga kalau mau nge-date. Orang suami sendiri ini. By the way, kenalin napa ama suaminya," ucap Vika spontan.
Mata Alea membeliak kaget saat Vika minta dikenalkan dengan suaminya. Gadis itu bingung menjawab permintaan Vika satu ini.
"Biasa aja kali. Kalau ga mau ngenalin juga ga apa-apa. Kekepin aja dah laki lu," Vika terkekeh geli.
"Hehe...." cengir Alea gamang. "Tar juga dikenalin Mbak, kalau udah ada waktu yang pas,"
"Iya deh iya. Wes lah kalau begitu, aku tinggal ke kantin dulu yah," ucap Vika seraya meninggalkan Alea yang melemparkan senyuman sebagai jawaban.
Alea kemudian bergegas menuju lantai dua puluh delapan, tempat ruangan kerja suaminya berada. Disana pasti Nino sudah menunggunya. Dengan membawa kotak bekal yang sudah disiapkannya, Alea memasuki lift khusus menuju lantai dua puluh delapan. Ada perasaan takut merayapi hatinya. Dia tak yakin akan bisa bekerja dengan tenang jika ketahuan mendatangi ruangan kerja Ravka. Apalagi jika harus ia lakukan setiap hari. Cepat atau lambat pasti akan ada yang mempertanyakan tindakannya mendatangi kantor direktur operasional setiap hari.
Suara dentingan lift membuyarkan lamunan gadis itu. Alea menghela nafas panjang, mempersiapkan diri untuk menemui suaminya. Entah kenapa perasaan tak nyaman terus menyelusup menggerogoti hatinya. Padahal Ravka sendiri yang meminta ia untuk mendatangi kantornya.
"Ngapaian sih lu ngajak gue ketemu disini?" sambut Nino di depan pintu lift ketika melihat Alea keluar dari sana.
"Anterin aku ke ruangannya Mas Ravka dong. Mas Ravka minta aku nganterin makan siang buat dia," ucap Alea lesu.
"Ya elah Al, gue kira mau ngapain. Lu tinggal masuk aja sih, ada tulisannya noh di depan, Chief Operating Officer," tunjuk Nino pada sebuah tulisan di depan pintu tak jauh dari lift tempatnya berdiri saat ini.
"Tapi kan di depan ada sekretarisnya Mas Ravka,"
"Lah, emang kenapa ama sekretarisnya?"
"Dia pasti nanya-nanya kenapa aku mau nemuin Mas Ravka. Kan aku disini cuma staf biasa,"
"Tapi yang ada tar malah menarik perhatian. Kan ga ada yang tahu kalau aku udah nikah sama Mas Ravka. Apalagi, Mas Ravka pernah bilang supaya aku tidak memberitahu siapapun soal pernikahan kami," ucap Alea ragu.
"Hhh.... Ada-ada aja sih ah. Udah kaya selebritis aja, pake ngumpetin pernikahaan segala. Udah ayok sini ikut gue," ajak Nino kemudian. "Lagian gue bingung deh sama kalian ini, nikah kok yah kaya maen petak umpet," omel Nino.
"Kamu kaya cewe deh, No. Ngomel mulu," sahut Alea.
"Tumben lu bisa protes," Nino tergelak. "Bel, boss ada di dalem kan?" tanya Nino pada Bella, sekretaris Ravka yang tampak serius di depan layar komputernya.
"Eh, Pak Nino. Ada sih Pak, cuma.... " jawab Bella menggantung.
"Gue langsung masuk aja deh ke dalem. Di suruh Boss kok nemuin dia," ucap Nino tak menggubris Bella yang terlihat gelisah di tempatnya.
Nino membuka pintu ruangan Ravka di ikuti Alea di belakangnya. Namun keduanya terdiam saat melihat Sherly tengah berusaha merengkuh Ravka. Seketika Alea berlari keluar di ikuti Nino yang mengejarnya.
"Al lu mau kemana?" tanya Nino saat melihat Alea tengah memencet tombol lift berkali-kali.
Wajah gadis itu tampak memucat. Raut wajahnya seperti tengah menahan tangis. Rasa sesak tiba-tiba menggelayuti hatinya. Ia tak menyangka rasa tak nyaman saat menuju ruangan Ravka, dikarenakan ia disuguhi oleh pemandangan yang ternyata bisa membuat dadanya terasa begitu sakit.
Padahal ia merasa akhir-akhir ini sikap pemuda itu sudah melembut. Bahkan ia sempat berharap kalau suaminya itu berniat memperbaiki hubungan mereka dengan mengajaknya makan siang bersama. Tapi nyatanya itu hanya cara pemuda itu untuk menyadarkannya dari mimpi yang tak mungkin ia gapai.
"Al, tungguin dulu," Nino menghalangi jalan Alea kwtika akan memasuki lift.
"Bukannya lu mau nemuin Ravka? Kenapa malah kabur sih?"
"Kamu ga liat kalau dia lagi sibuk? Aku ga mau ganggu," jawab Alea seraya menundukkan pandangannya.
Ia tak berani menatap Nino, khawatir kalau pemuda itu dapat melihat kepedihan yang terpancar di matanya.
"Tapi tadi lu ngeliat sendiri kan kalau Ravka menolak pelukan Sherly?! Ayolah Al, kita balik lagi ke ruangan Ravka,"
"Tolong deh No, minggir. Kalau kamu masih anggep aku temen, tolong kasih aku jalan," ucap Alea dengan nada serak menahan isak tangis yang sulit sekali ia bendung.
Ia merutuki dirinya yang begitu cengeng dan mudah sekali menangis. Ia sudah berjanji tak akan lagi mengeluarkan air mata untuk hubungannya dengan Ravka. Dia sudah menyiapkan hati yang lapang jika Ravka akan mendua dan tak setia pada pernikahan mereka. Tak pernah ada cinta diantara mereka yang mampu menahan pria itu dari perselingkuhan. Tapi kenapa sesakit ini rasanya? Bukankah ia menyadari kalau Ravka memang sangat mencintai Sherly? Tentu tak mudah bagi suaminya untuk menyingkirkan perempuan itu dari hatinya.
**********************************************
Hallo lagi readers ku tersayang... kali ini aku mau jawab dua pertanyaan yang banyak ditanyain sama kalian yah...
pertama... crazy up dong??? Nah untuk yang satu ini sebetulnya aku udah pernah ngomong yah.. kalau aku belum bisa penuhin permintaan kalian yang satu ini.. kenapa? karena belum nemu ritme yang pas buat bisa meluangkan waktu yang panjang untuk menulis lebih dari satu part sehari.. karena dari semenjak ramdhan aku udah hampir-hampir ga punya waktu yang panjang buat bisa megang hp apalagi untuk nulis.. ini aja udah pake drama terus demi untuk up tiap hari.. heheheeee... lebay... tapi kalau memang memungkinkan aku bakalan up dua part kok...
Nah yang kedua... kapan sih kebongkar siapa yang ngejebak Alea dan Ravka??
Sabar yah nak anak.. dikit lagi aku bakal singgung soal ini kok.. paling lama dua part setelah part yang ini lah... eit.. tapi cuma nyentil dikit loh.. karena siapa dalangnya masih lama akan ke ungkapnya.. misteri siapa yang ngejebak mereka akan di ungkap sedikit demi sedikit.. ga sekaligus.. biar seru.. wkwkwkwkkk... ada yang bisa nebak ga siapa pelakunya??