Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 142# Lamaran yang Terlambat


Ravka menggandeng Alea menuju kursi paling ujung di dalam 5.8 Undersea Restaurant. Tak banyak kursi yang ditempatkan disana. Hanya sekitar 10 meja dengan masing-masing meja terdapat dua kursi yang saling berhadapan.


Mata Alea tak lepas dari dinding bangunan restoran yang memperlihatkan terumbu karang yang tumbuh subur. Menyajikan keindahan nan cantik dengan ikan-ikan kecil yang hilir mudik. Restoran ini memang dibangun dengan lanskap karang alami di sekeliling bangunan restoran sebagai eksperimen.


Tak dinyana, ternyata banyak terumbu karang yang berhasil tumbuh dan menarik hewan-hewan laut menjadikannya sebagai rumah untuk mereka tinggali. Setelah itu blok terumbu karang pun di buat semakin meluas, hingga akhirnya restoran tersebut kelihatan menyatu dengan laut disekitarnya. Tentu saja hal itu semakin mempercantik pemandangan bawah laut yang terlihat dari dalam restoran.


"Mas, ini beneran keren banget. Aku suka," ucap Alea dengan binar bahagia terpancar di wajahnya, "Ini makan malam istimewa yang ga pernah aku bayangin seumur hidup," lanjut Alea penuh semangat.


"Aku seneng kalau kamu suka," ucap Ravka seraya meraih jemari Alea ke dalam genggaman tangannya, membawa jari jemari itu ke bibirnya untuk di kecup.


Wajah Alea merona seketika. Ikan-ikan beraneka warna yang meliuk di sebelahnya, tak lagi menarik perhatian tatkala aksi sang suami membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ravka meraih tangan istrinya yang masih bebas dan membawa kedua tangan itu ke dalam genggaman tangannya. Mengirimkan sengatan yang mengaliri seluruh nadi.


"Ada yang ingin aku katakan, Al," ucap Ravka berusaha menahan perasaan gugup yang membuat suaranya sedikit bergetar.


Ravka mengumpat dalam hati saat ia berusaha menetralkan degup jantung yang kian berpacu semakin kencang. Membuat kata-kata yang sudah dilafalkannya berulang kali, tersendat di tenggorokan. Sudah puluhan kali ia menghadapi lawan bisnis dan juga investor demi memenangkan sebuah tender besar. Tak sekalipun ia merasa gentar. Bahkan rasa gugup pertama kali menghadap investor besar, tak ada bandingnya dengan kegugupan yang menyergapnya kali ini.


Lelaki bertangan dingin di dunia bisnis itu, selalu memperlihatkan keyakinannya dengan angkuh. Menahbiskan diri sebagai pebisnis andal yang tak dapat dipandang sebelah mata. Namun, kali ini, entah kemana perginya semua nyali yang dimiliki. Bibirnya kelu saat hendak memulai kata. Membuatnya tegugu, hingga ribuan tanya menggelayut di sorot mata gadisnya.


"Silahkan," seorang pelayan mengantarkan hidangan pembuka yang menggugah selera.


Menjeda kata yang memang tercekat


di tenggorokan, tak dapat diperdengarkan dengan lancar.


Mereka menikmati hidangan pembuka yang di tata sedemikian rupa mirip aneka terumbu karang di lautan. Alea menyantap dengan khidmat menu yang diberi nama Diver Scallops, kerang berwana putih dengan tekstur sedikit kenyal disajikan bersama aprikot dan alomnd vinaigrette yang di tata dalam piring saji dibuat semirip mungkin dengan terumbu karang di lautan.


"Al, ada yang mau kusampaikan," ucap Ravka tampak serius sesaat setelah Alea meletakkan peralatan makannya di atas piring tanda ia sudah menyelsaikan santapannya.


Tak butuh lama bagi pasangan itu menghabiskan makan mereka yang memang disajikan dalam porsi kecil.


"Ada apa, Mas? Kamu membuatku penasaran," ucap Alea dengan kening yang berkerut.


"Would you be mine for ever and ever? Holding hands until we grow old together," bisik Ravka lembut seraya menatap tajam wajah terperangah di hadapannya.


"Hiduplah bersama ku sampai kita menutup mata. Bersama selamanya, membangun keluarga kecil kita dengan anak-anak kita nanti," lanjut Ravka sejurus kemudian.


Pandangan mata Ravka masih memaku tatapan mata istrinya yang sudah berkaca-kaca. Menatapnya dengan intens seraya mengirimkan segenap perasaan yang membuncah melalui sorot mata teduh menenangkan.


Mulut Alea tergugu tak dapat mengucap kata. Ia tak menyangka akan mendapat ungkapan mendalam yang dilontarkan oleh suaminya. Membuat lidahnya kelu dengan mata nyaris menumpahkan perasaan bahagia yang memenuhi relung jiwa.


Baru saja ia akan memulai kata, dua orang penyelam terlihat berenang ke arah dinding kaca di sebelah tempat duduk Alea.


Keduanya kemudian membentangkan sebuah spanduk di hadapan Alea persis. Sebuah spanduk yang membuat air mata gadis ayu itu meleleh tak terbendung saat meresapi kata yang ditorehkan di atas spanduk tersebut.


"JADILAH IBU BAGI ANAK-ANAK KU"


Alea mengangkat kedua tangan dan mendaratkannya di depan bibir merekah. Menutupi mulut yang tak mampu terkatup, memaknai tulisan yang berayun oleh riak air yang terpampang di hadapannya.


Ravka mengelurakan sebuah kotak kecil berbungkus beludru berwarna biru dongker dari dalam sakunya. Membuka kotak itu perlahan dan menyodorkannya di hadapan Alea. Kegugupan masih terpampang jelas di mata Ravka dengan suara masih terdengar bergetar.


"Pernikahan kita bukan terjadi karena kita menginginkannya. Keterpaksaan membuat kita terjebak dalam ikatan ini. Tapi sekarang aku menginginkan kamu menjadi istri ku untuk selamanya. Aku ingin melakukannya dengan benar. Memulainya sesuatu yang baru dengan cara yang benar. Anggap saja ini lamaranku yang terlambat," ungkap Ravka sungguh-sungguh.


Kesungguhan itu telah menyentuh hati Alea hingga kedua manik hazel itu tak dapat menghentikan tangis haru yang semakin menderas. Keterkejutan yang menyergapnya, membuat Alea mematung.


"Ayolah, Kak, sampai kapan kamu akan membuat Mas Ravka menunggu? Terima saja," suara Kania menelusup di telinga Alea dari punggungnya.


Alea memutar kepala memperhatikan adik sepupunya itu sudah berdiri di belakangnya. Ditemani oleh teman-teman Ravka yang juga sudah bersorak sorai menyemangatinya menerima lamaran Ravka yang terlambat tapi terasa manis menyentuh kalbu.


Alea tak menyadari sejak kapan mereka semua sudah memadati restoran dan menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh Ravka. Ia kembali berbalik menghadapa suaminya yang masih menunggu dengan tatapan penuh tanya.


"Aku mau, Mas. Tentu aku bersedia menemani mu dalam suka dan duka seumur hidupku." Alea mengangguk dengan penuh semangat hingga melakukannya berulang kali.


Sebuah senyum menghiasi bibir Ravka dengan tatapan yang menacair. Ditarikanya jemari Alea dan memasangkan sebuah cincin berlian ke jari manis Alea. Selama ini mereka tak pernah menggunakan cinci pasangan setelah menikah. Hanya sebuah pernikahan dengan prosesi ijab qabul yang tak terlalu diperdulilan oleh keluarga gadis itu. Pun dengan keluarga Ravka yang hanya merasa bahwa menikahkan mereka adalah sebuah bentuk tanggung jawab, tapi dengan keterpaksaan. Sehingga menganganggap hal diluar keabsahan sebuah pernikahan menjadi tak penting lagi.


Tepukan bergemuruh di dalam restoran tersebut. Disambut dengan suara merdua yang mangalunkan sebuah balada dari group band lawas, Platters yang berjudul With this rings, menambah syahdu suasana. Restoran yang sejatinya memang hanya menampung enam belas pengunjung itu, kini juga terdapat enam belas orang di dalamnya. Rombongan Ravka dan Alea beserta Dimas yang mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Ravka mewujudkan bulan madu romantis yang telah dirancangnya, beserta group musik kecil yang menyempurnakan lamarannya yang agak terlambat.


With this ring i' promise i'll always love you, always love you


sepenggal lirik dari lagu yang mengiringi lamaran Ravka seolah menjadi bait yang mewakili isi hati lelaki itu pada Alea. Sebuah janji yang ia yakini tak akan lekang oleh waktu. Bersama mengarungi hidup penuh liku bersama gadis solehah yang mendampingi akan menambah warna di hidupnya.


**********************************************


yuk kepoin juga karya ini yah...