Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 54# Galau


Ravka berjalan diatas treadmill dengan kecepatan lima kilometer per jam. Biasanya kalau sedang banyak pikiran, ia akan menghabiskan waktu dengan berolahraga. Memindahkan kerja otak menjadi kerja fisik, cukup mengalihkan perhatiannya sejenak. Namun, kali ini tak bisa ia lakukan. Karena sudah hampir dua puluh empat jam ia sama sekali tak mengistirahatkan tubuhnya meski sejenak. Jadilah ia hanya berjalan santai diatas treadmill.


Ravka tak bisa tidur semalam suntuk. Bahkan, meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia masih belum dapat memejamkan matanya. Pikirannya berkelana kemana-mana.


"Apa sih yang dia lakukan sampai tak punya waktu memberi kabar sama sekali?" oceh Ravka kesal seraya memperhatian ponsel yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya.


Pikirannya mulai melantur kemana-mana. Ia membayangkan saat ini Alea tengah sibuk menikmati waktu berdua dengan Farash. Rasa frustasi yang dibalut emosi kembali menghiasi wajah pemuda itu, hingga ia membanting Iphone X yang tengah ia pegang sebagai pelampiasan.


"Whow... whow... whow... Kalem boss. Ada apa sih lu sampe marah gitu?" Sebuah suara mengalihlan perhatian Ravka.


Ia menoleh ke asal suara yang tiba-tiba menginterupsi kekesalannya.


"Ngapain lu kesini?" hardik Ravka demi melihat Nino berjalan santai ke arahnya.


"Nah gimana sih Boss? Bukannya lu yang nyuruh gue buru-buru kemari? Gue dari bandara langsung kemari tau," ucap Nino santai tak terprovokasi dengan kelakuan temannya itu.


"Gue nyuruh lu kesini tadi siang, bukan sekarang," Ravka membuang mukanya dari menatap Nino.


"Gue lagi di lombok man, mana bisa gue langsung datang kemari pas lu minta? Lagian gue kan udah bilang sama lu, weekend ini gue bakalan ada di lombok. Kalau bukan karena lu yang minta, ga bakalan gue ninggalin lombok secepat ini," oceh Nino ga kalah sewot.


"Emang kenapa sih lu nyuruh gue buru-buru kemari? Ada masalah apa lagi kantor?" tanya Nino lagi saat sudah berdiri dekat sisi Ravka. Tiba-tiba pemuda itu menangkap benda yang tadi dibanting Ravka begitu saja. "Tunggu... tunggu... jadi tadi yang lu banting itu Iphone lu?" Nino membelalakkan mata sejurus pada Iphone X Ravka sudah tergelatak di lantai dengan keadaan memprihatinkan.


Nino memghampiri Iphone tersebut dengan wajah yang turut berantakan. Ia mengambil ponsel tersebut seraya memperhatikan bentuknya serta mengutak atik ponsel tersebut.


"Ini sih ngerjain gue namanya. Kalau udah begini kan gue yang jadi ribet. Lu tau ga sih ada data penting dalem handphone lu? Ga bisa apa banting yang lain kek, Rav?" omel Nino tak dapat menutupi kekesalannya.


"Mau lu, yang gue banting?" sambar Ravka tak kalah kesal. Saat ini yang dia butuhkan adalah melampiaskan kemarahannya.


"Lu lagi kenapa sih? ada apa masalah apa sebenernya?" Nino mengerutkan dahinya.


Nino sangat mengenal Ravka luar dalam. Bertahun-tahun berteman dengan jenis manusia seperti Ravka memang harus banyak menyimpan ekstra kesabaran. Pria yang punya sifat yang berkebalikan dengan dirinya itu, tak dapat ditebak jalan pikiran dan tindakannya. Pria itu tak banyak bicara, tapi tindakannya bisa diluar nalar. Ravka suka bertindak impulsif jika sedang emosi.


"Udah ah, cabut yuk. Gue ganti baju dulu," Ravka mematikan mesin treadmill dan bersiap kembali ke kamarnya.


"Ngapain lu diem disitu?"


"Nungguin lu disini lah," jawab Nino enteng.


"Ikut gue," ucap Ravka membuat Nino reflek menggerakkan kakinya.


Nino berdiam diri di depan pintu Ravka saat pemuda itu memasuki kamarnya.


"Ngapain lu di luar?" teriak Ravka dari dalam kamar.


"Yah nungguin lu lah,"


"Biasa juga lu maen nyelonong aja ke kamar gue," ucap Ravka lagi.


"Ya bedalah Rav, kan sekarang kamar ini punya lu bedua Alea," jawab Nino dengan sedikit meninggikan suaranya juga.


"Udah masuk aja, orangnya juga ga ada,"


Nah ini dia kayanya masalahnya. Tapi masa iya gue disuruh balik dari lombok cuma buat ngurusin masalah dia sama Alea? Kalo emang iya, gue kudu naik gaji ini - ucap Nino dalam hatinya seraya memasuki kamar Ravka.


"Tunggu disini gue mandi bentar," ucap Ravka.


Nino memperhatikan kamar Ravka yang tak terlalu banyak berubah. Masih dengan nuansa rastik menjadi pilihan untuk interior kamar. Ia hanya melihat ada tambahan lemari di sudut kamar berisi tas dan sepatu perempuan berjejer rapi di dalamnya. Juga sebuah meja rias lengkap dengan peralatan kecantikan disana.


"Alea kemana Rav?" tanya Nino saat Ravka sudah keluar dari kamar mandi.


"Ngapain lu nanya-nanya dia?" ucap Ravka seraya membongkar bajunya di lemari.


Sudah lama dia tak memilihkan sendiri bajunya. Biasanya sehabis mandi dia akan langsung memakai baju yang sudah disiapkan Alea di tempat tidur. Istrinya itu selalu tahu baju apa yang cocok dia kenakan untuk setiap acara. Membuat mood Ravka semakin berantakan. Apapun yang ia lakukan di dalam rumah sejak kemarin malam, pasti akan selalu membuat ia teringat gadis itu.


"Yaelah Rav, nanya doang. Kangen dikit boleh lah," goda Nino.


"Mau cari mati lu?" Ravka menaikkan sebelah alisnya memandang Nino tajam seraya menarik baju dari dalam lemari secara sembarang untuk dia kenakan.


"Emang kemana sih dia?"


"Pulang ke rumah Pamannya,"


"Lu ngusir dia?" Nio mendelik kaget.


"Ngaco lu. Siapa yang ngusir dia? Kata Mama dia kangen rumah,"


"Ooh.... Terus yang bikin lu uring-uringan sampe emosi itu apa sih sebenernya? Bukannya biasa yah seorang istri pulang dan menginap di rumah orang tuanya. Orang adek gue yang udah nikah aja, sering banget nginep di rumah kok,"


"Ga ada,"


"Ohh ayolah Boss. Lu ga ngaca, ngeliat tampang lu sendiri? Berantakan abis. Gue rasa belakangan ga ada masalah serius di kantor," ucap Nino.


Wajah Ravka memang tidak bisa dibilang sebagai penampilan terbaiknya. Lingkaran hitam terlihat di sekeliling matanya. Untung saja dia selalu mencukur kumis dan jenggotnya setiap hari, jadi kalau cuma melewati ritualnya itu satu hari akan tetap tampak kelihatan bersih.


"Bawel lu. Udah lu temenin gue aja deh. Kita keluar kemana kek malam ini,"


"Gue itu tau elu Rav. Lu kalau ada masalah itu mesti diselesa-in. Kalo ga, mood lu ga bakal balik sebelum masalah lu selesai. Ga ada gunanya lu cuma hangout, ga nyelesein masalah. Dan itu artinya gue bakalan tetep jadi samsak elu," sembur Nino.


"Sok tau Lu," ucap Ravka menghempaskan tubuhnya diatas kasur setelah mengenakan kaos oblong dan celana denim yang tadi diambilnya di dalam lemari.


"Emang gue tau. Gue kenal lu bukan setahun dua tahun Rav. Belasan tahun. Udah sih ngomong aja, pasti masalah Alea yah? Dia pergi ga ngomong ke elu emang?" tebak Nino tepat sasaran.


"Dia udah minta izin ke nyokap. Dia juga udah wa gue mau nginep di rumah Bibinya sampai minggu sore," jawab Ravka santai seraya mengenakan baju.


"Kenapa ga ngomong langsung ke elu? kenapa lewat wa?" tanya Nino heran yang dijawab Ravka dengan mengesikkan bahunya.


Sebenernya itu juga yang menjadi pertanyaan Ravka hampir dua pulu empat jam ini. Bagaimanapun buruknya sikap ia kepada Alea, gadis itu akan selalu meminta izin darinya langsung jika akan melakukan sesuatu. Namun, kali ini istrinya itu hanya mengiriminya pesan singkat. Membuat Ravka diterpa galau tiada tara. Pemuda itu bisa meyakini bahwa kepergian Alea ada hubungannya dengan pertemuan dia dengan Yuri kemarin, tapi ia tak tahu apa yang memicu gadis itu pergi dari rumah. Apakah sekedar ingin menenangkan diri atau justru sedang mengambil langkah seribu untuk menjauh dari dirinya? Semakin ia memikirkannya semakin membuat perasaan Ravka tak karuan.


"Terus lu jawab apa?" tanya Nino kepo.


"Emang gue harus jawab apa?"


"Maksud lu? lu diemin gitu wa dia? ga lu bales?" Nino kembali terperangah dengan kelakuan minus sobatnya itu.


"Hmmm," suara deheman Ravka seolah memukul gendang telinga Nino.


"Ish.... Lu tu kalo urusan bisnis nomor satu, kuliah lulusan Harvard, tapi kalau urusan cewe kenapa IQ lu jadi jongkok?" ledek Nino.


"Maksud lu apaan ngatain gue IQ jongkok?"


"Gue kasih tu lu yah, cewek itu kalau kirim pesan ga dibales berasa ga dianggep. Dia bakalan mikir lu itu ga perduli sama dia,"


Emang iya apa cewek begitu? Perasaan selama ini ga gitu?! - pikir Ravka dalam hatinya. Para gadis akan selalu mengirimi nya pesan hingga berpuluh kali jika ia tak membalas. Bahkan mereka akan berusaha terus untuk menghubunginya via suara. Tapi, sesungguhnya dia bukan tak mau membalas pesan Alea, apalagi kalau sampai dibilang tak perduli. Hanya saja dia tidak mengerti bagaimana harus membalas pesan gadis itu. Berkali-kali dia mencoba mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya, tapi akan selalu berakhir sama. Di hapus, tanpa dikirimkan.


"Lu jangan samain Alea sama cewek-cewek yang selalu ngejar-ngejar elu. Dia itu spesial,"


"Martabak kali spesial," sambar Ravka sewot.


"Gue serius. Lu ga bakalan ngedapetin Alea neror lu lewat telpon kaya cewek-cewek kecentilan yang selama ini selalu berusaha ngedektin elu, paham," ucap Nino mulai menyadari mengapa Ravka membanting telponnya barusan.


"Gue kasih tau elu ya. Buang gengsi lu jauh-jauh kalau elu bener-bener suka sama Alea. Jangan sampai dia keburu disambar cowo laen," imbuh Nino lagi.


"Kenapa lu jadi nasehetin urusana asmara gue? Udah yuk, cabut," Ravka mulai jengah mendengar ocehan Nino tentang Alea.


Ravka menyambar kunci mobilnya di nakas sebelah tempat tidur. Baru saja hendak beranjak dari sisi tempat tidur, suara pintu dibuka membuat Ravka menoleh siapa yang berani memasuki kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Kak, ayo ikut aku cepat," Tiara tergesa-gesa menyeret Ravka dengan wajah panik.


"Ara apaan sih? Ngomong yang bener,"


"Udah ga ada waktu buat ngomong. Ini masalah genting. Ini soal Sandra. Buruan ayo," ucap Tiara membuat Ravka menautkan kedua alisnya.


Sementara Nino tampak mengekori. Ketegangan Tiara menular pada pemuda itu. Ia sangat tahu sekali kalau Tiara memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan Ravka. Ia adalah sosok perempuan yang kuat dengan kontrol emosi yang tinggi. Beda halnya dengan si bungsu Sandra yang manja dan masih bergantung pada orang tua dan kedua kakaknya. Jadi kalau sampai gadis itu panik, tentulah ada hal genting yang sedang terjadi.