
Sorak sorai dari para tamu undangan membahana setelah pasangan di depan sana mempertontonkan kemesraan saat berdansa. Nampak jelas dari sorot mata serta gesture tubuh keduanya yang memperlihatkan begitu banyak cinta yang mereka miliki untuk satu sama lain.
Wajah Alea terlihat begitu bersinar penuh kebahagiaan dengan jantung yang bergemuruh melihat wajah-wajah yang memberi mereka tepukan semangat. Wajah-wajah perempuan yang tersenyum melemparkan tatapan penuh kekaguman pada dirinya semakin membuat gadis itu seolah merasa diterbangkan ke awang-awang.
"Cium ... cium ... cium ... " teriak serombongan orang dari meja yang berisikan teman-teman Ravka.
Hanya dalam hitungan detik, teriakan itu memantik gema suara yang semakin bertambah ramai.
Semu merah muda tak dapat Alea elakkan menjalar di pipi ketika mendengar teriakan para tamu undangan yang meminta Ravka mencium dirinya. Ravka mendaratkan bibirnya di puncak kepala Alea demi meredam suara teriakan.
"Yah ... " Berbagai nada kecewa ditunjukkan saat Ravka hanya mendaratkan ciumannya di kepala Alea.
Namun, MC dengan sigap menengahi keriuhan dengan meminta para tamu turut turun melantai menemani pasangan yang tengah berbahagia. Rossa kembali mendendangkan sebuah lagu miliknya sendiri. Begitu nada dimainkan, Ravka kembali membawa Alea meliukkan tubuhnya seirama dengan alunan lagu yang dibawakan oleh Rossa.
Beberapa teman Ravka beserta tamu undangan turut meramaikan acara dengan ikut berdansa. Setelah beberapa lagu selesai dinyanyikan oleh Rossa, mereka menghentikan sesi dansa.
"Hi, Bro selamet ya." Dandi yang pertama kali menghampiri pasangan pengantin tersebut seraya menyorongkan tangannya.
"Gila boleh ditiru nih, anti mainstream banget lu. Honeymoon dulu baru resepsi," kekeh Dandi menarik sahabatnya itu ke dalam rangkulannya.
Ines yang berada disebelahnya juga turut memeluk Alea seraya memberikan ucapan selamat. Teman-teman yang lain turut mengerubungi mereka. Memberikan ucapan selamat pada Ravka dan Alea seraya melemparkan ledekan seperti biasanya.
Suasana yang hangat dan mencair terus memenuhi udara di acara resepsi tersebut. Setelah beberapa saat bercengkrama, sahabat-sahabat Ravka lembali ke meja mereka masing-masing untuk bersiap menyantap hidangan yang sudah dipersilahkan untuk dicicipi. Ucapan selamat terus berdatangan dari para tamu undangan yang menghampiri mereka.
Setelah itu, Ravka mengajak Alea menyambangi satu persatu meja rekan bisnis yang berkontribusi penting bagi perusahaan. Mengenalkan permaisuri hatinya pada rekan-rekan bisnis secara personal. Membawa gadis itu pada perbincangan cepat sekadar berbasa basi.
"Mas, kenalkan ini Mbak Vika sama suaminya. Dia yang paling sering men-transfer ilmu dan membantuku di kantor." Kali ini giliran Alea mengenalkan teman-temannya pada Ravka.
"Selamet yah, Pak," Vika menyodorkan tangannya pada Ravka.
"Kalau di luar kantor, tidak perlu memanggil, Pak. Teman Alea berarti teman saya juga," ucap Ravka seraya menyambut uluran tangan Vika yang dibalas wanita itu dengan sikap canggung. Disusul suami Vika yang juga menyodorkan tangannya pada atasan istrinya.
"Saya Sasya, Pak. Satu divisi juga dengan Alea," Sasya sigap mengenalkan diri sebelum diperkenalkan.
"Dasar lu, Sya, udah ada yang nyegel ga usah ganjen," celetuk Vika yang duduk di sebelah kanan Sasya.
"Paham Mbak. Kan gue inisiatif biar Pak Ravka inget sama gue. Siapa tau Pak Ravka niat ngenalin gue ke adeknya gitu," cengir Sasya tetap dengan gaya blak-blakannya.
"Ngaco lu, jangan norak deh. Ngejatohin cewek-cewek di divisi kita aja lu. Tar yang ada, Pak Ravka ngirain divisi kita isinya cewek ganjen semua kaya elu," sambar Firda yang duduk di sebelah kiri Sasya sembari menarik tangan gadis itu.
"Emang nih Sasya, selalu ga tau tempat ih," ujar Vika menambahkan.
"Udah ga apa-apa, santai aja. Tapi adik saya dua-duanya cewek. Masih mau dikenalin?" jawab Ravka santai dengan ekspresi yang datar.
Sontak semua orang di meja tersebut terbahak termasuk suami Vika serta teman kencan yang di ajak oleh Firda. Tak terkecuali Irma yang sedari tadi memilih diam. Sementara Sasya langsung memasang tampang cemberut. Alea melanjutkan mengenalkan Firda serta Irma, termasuk menyapa sebentar beberapa rekan kerja pria yang menempati meja di sebelah rombongan Vika.
"Kamu kecapean ya?" tanya Ravka lembut seraya mengusap peluh yang mulai menjejak di wajah Alea.
"Lumayan, tapi ga apa-apa kok, Mas. Rasa capeknya setimpal dengan bahagia yang aku rasain," ucap Alea yang tak menyurutkan senyum di wajah, meski sudah melewati hampir dua jam lamanya menyapa para tamu.
Ravka turut membalas senyum istrinya dengan senyum yang sama seraya menggandeng gadis manis berlesung pipi itu menghampiri keluarga mereka.
"Kamu mau aku bawakan makan apa, Mas?" tanya Alea sesaat setelah mereka mendudukkan tubuh di kursi dekat meja yang ditempati para orang tua.
Kelelahan tentu saja menghadirkan dahaga serta membuat para cacing di perut mulai meronta. Sebagai seorang istri, Alea dengan sigap melayani suaminya.
"Udah duduk aja, kamu juga pasti capek. Mumpung kita ini lagi menjadi Raja dan Ratu, kita bisa minta para dayang membawakan apa yang kita inginkan," celetuk Ravka dengan suara yang sengaja ia keraskan agar dapat di dengar oleh para gadis yang duduk di meja sebelah.
"Kok perasaan aku jadi ga enak gini yah?" sahut Tiara seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Kalo udah sadar buruan ambilin aku sama Alea makanan dan minuman," sambar Ravka cepat.
"Ogah, Sandra aja sana. Kan kamu yang paling kecil. Jadi kamu yang harusnya di suruh-suruh," seru Tiara seraya menunjuk ke Sandra.
"Ga bisa gitu dong. Kenapa harus aku? Kakak juga bisa kan?!" elak Sandra.
"Dua-duanya. Sana buruan, laper nih. Tanggung jawab loh ya, kalau Ratuku ini sampe pingsan kelaperan," seru Ravka.
Tiara berdecak mendengar ancaman Kakak lelakinya. "Kenapa jadi kita yang harus tanggung jawab?" protes Tiara.
Namun, tak urung Tiara bangkit juga dari duduknya untuk mengambilkan makanan yang diminta oleh Kakaknya. Sebelum meninggalkan meja, ia sempat menyambar tangan Sandra agar mengikutinya.
Kedua orang tua mereka hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya yang meski terlihat selalu bertengkar, tapi mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Kakek sudah tua, sudah tidak punya energi sebanyak kalian para anak muda. Jadi kalian lanjutkan saja berpestanya. Kakek, mau langsung pulang ke rumah saja," ucap Kakek bayu.
"Kalau begitu biar aku temani Ayah kembali ke rumah," tawar Erica yang sudah mulai memperbaiki hubungan antar menantu dan mertua.
"Aku rasa, yang tersisa disini juga para anak muda. Jadi sebaiknya kami juga ikut pulang," ucap Derry menimpali.
"Saya rasa ucapan Pak Derry benar. Saya juga meminta izin undur diri. Biarkan anak muda menghabiskan waktu bersenang-senang disini," ucap Paman Alea dengan tutur kata lembut merendah di hadapan keluarga suami Alea.
"Baiklah kalau begitu. Kami pulang dulu yah, Rav, Al. Bersenang-senanglah kalian," ucap Derry seraya membantu Ayahnya untuk bangkit dari duduknya.
Sepeninggalan para orang tua, mereka bercengkrama hingga para tamu undangan satu persatu turut meninggalkan tempat resepsi. Namun, tidak dengan sahabat-sahabat Ravka, juga beberapa teman Alea. Setelah tak ada lagi undangan yang menghampiri Ravka dan Alea untuk beramah tamah, mereka melanjutkan pesta dengan bercengkrama menghabiskan waktu hingga langit cerah mulai menggelap.
Alea menatap senja yang hanya menampilkan warna kelabu di atas sana. Namun, tidak dengan hatinya. Di dalam sana penuh warna bak disiram berjuta kelopak bunga nan indah. Ada banyak rupa yang kan hadir menemani hari-hari yang akan ia lalui. Namun, ia percaya semua yang terjadi atas izin Sang Maha Kuasa. Ia hanya harus menjalani takdirnya dengan penuh suka cita. Mencari keindahan di balik kepahitan, hingga merasakan manis memeluk nadi di setiap desah nafasnya.
---------- THE END ----------