
"Alea .... " teriak Farash yang baru saja membelah kerumunan. "kamu tidak apa-apa?" tanya Farash khawatir.
Alea mengangkat kepalanya dari dekapan sang suami. Melihat Farash yang tersengal dengan nafas tidak teratur.
"Aku baru mendapat kabar apa yang terjadi sama kamu," ucap Farash saat Alea masih diam di bawah rengkuhan Ravka.
Alea melepaskan pelukkan Ravka. Menghadiahkan senyum yang bergetar di bibirnya.
"Aku tidak apa-apa, Kak," ucap Alea mencoba menenangkan diri dari keterkejutan atas kejadian yang baru saja ia alami.
Farash tidak berani menunjukkan kepedulian yang lebih dari itu kepada Alea. Meski hatinya ingin sekali merengkuh gadis itu dan memastikan kondisinya baik-baik saja. Namun, kehadiran Ravka diantara mereka cukup membuatnya tahu diri sampai dimana batasannya. Ravkalah yang lebih berhak mengkhawatirkan Alea dan memastikan kondisinya baik-baik saja. Ia harus cukup puas dengan pernyataan Alea mengenai kondisinya.
"Oh iya, tolong Kak Farash jangan katakan apa-apa pada Kania. Aku tidak mau dia jadi kepikiran kalau sampai mengetahui hal ini,"
"Kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan mengatakan apa-apa pada Kania. Kamu tidak perlu memikirkan hal lain dulu saat ini. Pikirkan saja dirimu sendiri," ucap Farash yang sudah memahami betul karakter Alea yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Rav, dokter sudah datang. Sebaiknya Alea diperiksa dulu oleh dokter," ucap Nino di sebelah Ravka.
"Bawa dokter itu ke ruangan gue. Setelah itu lu beresin cecunguk itu. Gue ga mau lagi berurusan dengan baj*ngan itu. Kalau sekali lagi gue ngeliat muka dia, gue ga bakalan kasih ampun dia," ucap Ravka seraya menggertakkan giginya.
Nino memganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang harus ia perbuat. Setelah itu ia meninggalkan Ravka yang masih mendekap Alea.
"Ayo kita temui dokter," ucap Ravka lembut yang diangguki oleh Alea.
Farash hanya bisa mematung ditempatnya, menatap nanar kepergian Alea dan Ravka dari hadapannya.
Saat Ravka berjalan memggandeng Alea, para pegawai yang tengah berkerumun bergerak teratur memberi jalan pada keduanya seperti dikomando. Tanpa berkedip mereka melihat Ravka menggandeng Alea hingga menghilang dibalik pintu elevator.
Setiap pasang mata yang melihat apa yang baru saja terjadi, turut mengalami keterkejutan seolah mereka yang baru saja menjadi korban. Bukan hanya kejadian penyanderaan yang membuat mereka terperangah, tapi apa yang baru saja mereka ketahui mengenai salah satu direktur di perusahaan itulah yang membuat mereka tak dapat mengedipkan mata. Tak terkecuali pria dan wanita.
Kasak kusuk kembali memenuhi loby gedung hingga mereka dibubarkan oleh petugas keamanan.
"Yang barusan itu beneran Pak Ravka sama Alea?" ucap Firda masih dengan mulut terbuka lebar.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Firda. Semua masih berkutat dengan pikiran masing-masing. Syok menerjang isi kepala mereka setelah melihat apa yang baru saja terjadi. Belati tajam mengkilat yang menempel di leher Alea dan menggores pipi gadis itu seolah masih berseliweran di pelupuk mata. Belum lagi mereka menyaksikan bagaimana Ravka menghajar penjahat itu membuat bulu kuduk meremang.
"Sebaiknya kita juga kembali ke ruangan kita," ucap Vika kepada ketiga orang rekannya.
Setelah kejadian siang itu, seisi gedung BeTrust hanya membicarakan masalah tersebut. Sayangnya apa yang mereka bicarakan hanya akan menjadi memori di dalam kepala. Saat petugas keamanan membubarkan mereka, satu persatu ponsel mereka diperiksa. Jika ada yang kedapatan merekam dan mengambil gambar kejadian tersebut langsung dihapus dari memori ponsel.
Tak hanya petugas keamanan yang bersikap taktis menangani kejadian yang baru saja terjadi di lingkungan BeTrust. Departemen Corporate Comunication tak kalah cepat dalam mengambil tindakan. Mereka langsung mengambil tindakan pencegahan agar berita yang baru saja terjadi tak sampai tersebar keluar lingkungan kantor terutama media. Setidaknya, jika tak ada bukti fisik yang lolos saat kejadian tadi, akan lebih mudah bagi mereka untuk meredam isu yang nantinya merebak diluaran sana. Bahkan saat kejadian tengah berlangsung tadi, ada beberapa orang yang ditarik dari kerumunan tanpa disadari oleh sebagian karyawan yang berkerumun, lantaran mereka kedapatan akan melakukan siaran langsung saat Alea tengah ditawan.
********
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Ravka dengan suara berat saat dokter selesai memeriksa dan membersihkan luka Alea.
"Lukanya tidak terlalu dalam jadi tidak perlu dijahit. Dengan perawatan intensif, lukanya akan segera sembuh. Luka dibagian leher itu akan lebih mudah sembuh dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Hanya saja luka dibagian wajah harus ditangani langsung oleh dokter bedah. Saya sarankan untuk menemui dokter bedah plastik agar peremajaan jaringan kulit dibagian wajah bisa maksimal dan mudah-mudahan tidak akan menimbulkan bekas luka permanen," jelas dokter bernama Lisa tersebut dengan tenang.
"Apa betul tidak akan menimbulkan bekas luka Dok?" tanya Alea khawatir.
"Sepertinya yang terluka hanya dibagian jaringan epidermis saja, sehingga akan lebih mudah pulih. Tetapi, setiap orang memiliki kondisi kulit yang tidak sama. Untuk itu saya sarankan agar Ibu menemui dokter bedah plastik. Karena dia yang lebih memahami bagaimana menangani luka di wajah dan leher Ibu agar tidak sampai menimbulkan parut. Lagipula sekarang sudah canggih, Bu. Ada berbagai metode yang bisa dijalankan untuk menghilangkan bekas luka. Apalagi luka Ibu tidak terlalu dalam. Jadi saya rasa tidak perlu terlalu khawatir. Saya ada beberapa rekomendasi dokter yang cukup ahli dibidangnya," ucap Dokter itu seraya merapikan peralatan yang tadi sempat digunakannya.
"Ini saya resepkan salep antibiotik untuk dioleskan pada luka agar luka tetap lembab, dan beberapa vitamin untuk membantu proses peremajaan kulit," ucap dokter tersebut seraya menyerahkan selembar kertas pada Ravka. "Tapi saya rasa anda tidak perlu menebusnya. Kalau setelah ini anda menemui dokter bedah, tentunya anda akan mendapat resep baru," imbuh dokter itu lagi dengan senyum manis di bibirnya.
"Terimakasih Dok," ucap Ravka tulus.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Ini beberapa kartu nama Dokter Bedah yang mungkin bisa anda temui," ucap Dokter tersebut seraya menyerahkan sejumlah kartu nama yang ia ambil dari dompet phone card yang berada di dalam tas tangannya.
"Bel, tolong kamu cari tahu tentang Dokter Bedah yang tertera di kartu nama ini. Buat janji sekarang dengan dokter yang terbaik diantara yang terbaik," titah Ravka pada sekretarisnya.
"Baik Pak," ucap Bella.
Ravka lalu kembali melangkah memasuki ruangannya dan menghampiri sang istri yang duduk termenung di sofa dalam ruangannya.
"Hei .... kenapa kamu cemberut,"
"Bagaimana kalau luka diwajahku tidak bisa hilang, Mas?" ucap Alea dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak dengar yang tadi dokter katakan? Lukamu pasti baik-baik saja. Sekarang Bela sedang membuat janji dengan Dokter Bedah yang tadi direkomendasikan oleh Dokter Lisa. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Setelah ini kita akan langsung menemui Dokter," ucap Ravka seraya mengelus punggung tangan istrinya.
"Bagaimana, apa sekarang masih terasa perih?" ucap Ravka seraya mengelus lembut perban yang menutupi leher istrinya.
Alea hanya menggelengkan kepalanya. "Sama sekali ga sakit lagi kok, Mas," jawab Alea kemudian.
"Yang disini apa masih sakit?" tanya Ravka seraya mengalihkan elusan tangannya pada pipi Alea.
Alea kembali menggelengkan kepalanya. Namun, wajah gadis itu masih murung dan tampak seperti sedang meringis ngeri.
"Lantas kenapa wajahmu terlihat murung, Al? Apa kamu masih syok dengan kejadian tadi?"
"Aku .... aku hanya khawatir dengan kondisi Rama, Mas,"
"Untuk apa kamu memikirkan baj*ngan itu? Dia bahkan pantas mendapatkan lebih dari itu. Aku akan membuat dia mendekam dipenjara atas semua perbuatan yang dia lakukan," suara Ravka tiba-tiba menjadi tinggi.
"Tapi .... bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Rama?" tanya Alea dengan nada khawatir yang begitu kentara.
"Aku bahkan akan lebih senang jika sesuatu terjadi padanya. Seharusnya sejak awal aku tidak pernah membiarkan dia lolos begitu saja," desi Ravka geram. "Maaf Al, ini semua terjadi karena aku terlalu meremehkan orang gila itu sehingga kamu harus mengalami ini semua," ucap Ravka menahan geram seraya mengelus lembut pipi Alea.
"Aku ga apa-apa Mas," ucap Alea sendu.
Ia tak dapat menepis pikiran buruk apa yang akan menimpa sang suami karena kejadian tadi. Bagaimana kalau Ravka juga diseret ke penjara gara-gara itu? pikir Alea terbang kemana-mana. Dengan tiba-tiba gadis itu memeluk suaminya erat. Rasa takut hal buruk menimpa Ravka membuat ia bersikap impulsif.
"Hei .... ada apa Al?" tanya Ravka membalas pelukan istrinya. "Tenanglah sekarang sudah tidak apa-apa. Mulai sekarang aku akan menjagamu lebih ekstra,"
Pemuda itu mengira Alea masih ketakutan atas kejadian yang baru saja menimpanya. Ia mengelus lembut punggung istrinya. Berusaha menenagkan gadis itu di dalam pelukannya.
"Tapi Mas, bagaimana dengan kamu? Kamu sudah memukul orang sampai seperti itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Rama dan justru kamu yang harus mempertanggung jawabkan kejadian tadi?" tanya Alea khawatir.
"Hei .... dengarkan aku baik-baik. Semua bisa ditangani oleh Nino. Percayakan semua padanya. Tidak akan terjadi apa-apa dengan ku. Hmmmm?"
"Tapi aku sungguh-sungguh khawatir, aku tidak mau kalau kamu sampai terseret masalah karena kejadian ini. Aku tidak mau kalau kamu .... " Ravka menempelkan tunjuknya di bibir Alea.
Membuat gadis itu menghentikan racauannya seketika. Ravka menarik dagu Alea, menatap ke kedalaman mata kekasih hatinya. Ada begitu banyak kekhawatiran yang tercetak jelas di manik mata gadis itu. Diulasnya senyuman manis di bibir, mencoba menenangkan Alea melalui bibir yang merekah.
"Dengar, tidak akan terjadi apa-apa denganku. Buang semua pikiran buruk di kepalamu ini," seru Ravka seraya mengusap lembut kepala Alea. "Aku janji semua akan baik-baik saja," Ravka memindahkan usapannya tangannya, menyusuri tulang pipi Alea dengan jemarinya. Mengirimkan kedamaian yang menyejukkan hati bagi istrinya hingga ia bisa meredakan kekhawatiran yang menggelayut di hati.
**********************************************
Maaf yah semalem ga jadi doble up.. tapi ini aku bikin lebih panjang dari biasanya yah... lebih dari 1500 word loh..
sambil nunggu up selanjutnya boleh mampir kesini yah.. ceritanya seru n bikin greget..