
"Pak Ravka .... " ucap Farash menggantung tak menemukan kata yang bisa ia ungkapkan kala melihat atasannya dengan wajah garang.
Apakah Pak Ravka suami Alea? - Batin Farash berkecamuk.
Pemuda itu baru menyadari bahwa kedekatan atasannya itu dengan Alea selama ini memang terlihat tak biasa. Tidak menutup kemungkinan hal itu memang benar adanya. Akan tetapi, di dasar hati terdalam, ia masih berupaya menyanggahnya. Tak percaya jika sosok yang menduduki hati Alea saat ini adalah seorang pria yang hampir sempurna dimata para wanita. Seorang yang sangat sulit untuk ia lawan meski mengerahkan segenap daya dan upaya.
"Aku masih menghormatimu karena istriku selalu mengatakan bahwa kau adalah Kakaknya. Jadi sebaiknya jangan bertindak melebihi batas toleransiku, atau aku tidak akan segan-segan menghajarmu," Ravka mendelik tajam pada pria dihadapannya.
Sejak tadi ia sudah menahan amarah saat lelaki dihadapannya itu mengungkapkan isi hati kepada istri tercinta. Ravka hanya ingin Alea menyelesaikan masalah diantara mereka tanpa ia turut campur. Namun, amarahnya seakan naik hingga ke ubun-ubun saat lelaki itu berniat menyentuh gadisnya.
"Kita pulang sekarang, Al," imbuh Ravka lagi. Sorot matanya masih menghunus tatapan setajam belati yang siap mencium anyir darah.
"Maaf Kak Farash, aku harus pulang sekarang," ucap Alea seraya menghampiri Ravka.
Ravka membalikkan tubuhnya begitu saja dan membiarkan Alea mengimbangi jalannya tergopoh-gopoh.
Sementara di belalang mereka, Farash masih tersentak dengan kenyataan yang menamparnya hingga terbangun dari mimpi yang kandas sebelum ia jejaki.
*******
Jantung Alea berdebar tak karuan seraya bersandar di balik pintu kamar mandi. Ia bingung menghadapi suaminya yang tampak murka sepanjang perjalanan pulang tadi. Ketegangan begitu terasa meski Ravka hanya diam membisu dibalik kemudi. Sementara Alea tak berani buka suara hingga mereka menginjakkan kaki di dalam kamar. Alea tak dapat membaca kepada siapa guratan kemarahan yang tercetak jelas diwajah suaminya itu tertuju. Apakah kepada Farash atau justru kepada dirinya. Membuat gadis itu memilih menenggelamkan diri di dalam kamar mandi. Menyegarkan tubuh seraya mencari jalan untuk mencairkan hati sang suami.
Perlahan Alea membuka pintu kamar mandi, seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Namun, hanya kesunyian yang ia dapatkan.
"Kemana Mas Ravka yah?" gumam Alea dengan suara lirih.
Kaki gadis itu melangkah perlahan menuju ruang fitnes yang terletak tak jauh dari kamar mereka. Beberapa bulan hidup bersama Ravka membuat Alea menyadari kebiasaan suaminya ketika sedang dirundung amarah. Laki-laki itu akan melampiaskan segala kekacauan yang melanda hati dengan berolahraga.
Benar saja, melalui dinding kaca transparan, Alea mendapati suaminya sedang bermandikan peluh di atas tredamil yang dipasang dengan kecepatan tinggi. Perlahan ia menggeser pintu itu menghampiri Ravka. Namun, pemuda itu sama sekali tak menggubris kehadiran Alea. Membuat gadis itu mematung cukup lama sembari memperhatikan Ravka.
"Mas, tolong jangan cuekin aku," ucap Alea saat melihat Ravka mematikan mesin treadmill.
Pemuda itu melewati Alea begitu saja, hingga membuat hati gadis itu serasa dipilin. Dia mengikuti langkah Ravka kembali ke dalam kamar mereka. Pemuda itu menghilang di balik pintu kamar mandi, membuat Alea menjatuhkan tubuhnya dengan keras ke atas tempat tidur.
Padahal aku udah sering diabaikan oleh Mas Ravka. Tapi kenapa sekarang rasanya sakit sekali? - Alea membatin seraya meremas dadanya berupaya meredakan rasa perih yang menghampiri.
Ia menyadari bahwa Ravka saat ini sedang diliputi kecemburuan yang berlebihan. Hanya saja ia tak menyangka kalau suaminya bisa kembali bersikap dingin padanya karena kecemburuan. Ia tak lagi mau mendapati sosok dingin Ravka setelah menyadari begitu hangat pemuda itu sesungguhnya.
Alea tersentak saat mendengar decitan pintu kamar mandi digeser. Ravka keluar dengan kepala basah dan wajah yang juga masih basah akibat guyuran air keran. Namun, pemuda itu masih mengenakan kaos nike yang menempel ketat ditubuhnya akibat peluh yang membanjiri. Pemuda itu kemudian melenggang santai menuju pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan balkon.
"Aku minta maaf Mas, kalau aku sudah membuat kamu marah," ucap Alea seraya memeluk Ravka dari belakang.
Alea begitu kalut ketika Ravka mengabaikannya. Hati gadis itu serasa diremas dengan keras. Gemuruh jantungnya berdetak kencang seolah sedang memukul-mukul rongga dadanya sekuat tenaga hingga membuat Alea tak sanggup menahan perihnya. Karena itulah ia bersikap impulsif. Memeluk suaminya agar melihat kepadanya. Melihat kegundahan hati karena sikap abainya.
"Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini," ucap Alea terisak dibalik tubuh tegap Ravka.
Ravka membalikkan tubuhnya hingga bersandar pada tepian dinding pembatas balkon.
"Tapi Mas, kita tidak bisa membiarkan masalah diantara kita berlarut-larut. Kamu mungkin marah dan kesal kepadaku, tapi alangkah baiknya jika kita membicarakannya. Menyelesaikan masalah ini dengan segera. Kita harus jujur terhadap satu sama lain, jika kita ingin rumah tangga yang kita bangun bisa berdiri kokoh," ucap Alea dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Ravka mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Alea. Menatap sayu gadis muda yang berpikiran dewasa. Alea benar, mereka harus saling terbuka satu sama lain. Karena hal itulah yang selama ini ia yakini. Keterbukaan dan kejujuranlah yang menjadi landasan dalam menjalin hubungan serius, terutama pernikahan.
Ravka menghela nafas panjang, melepaskan beban yang sedari tadi menghimpitnya.
"Apa kamu juga mencintainya?" tanya Ravka seraya menatap ke kedalaman mata istrinya.
"Mencintai siapa Mas?" tanya Alea memastikan, meski ia sebenarnya dapat menerka kemana pertanyaan Ravka berlabuh.
"Aku dapat melihat kesedihanmu ketika menatapnya. Apa kamu juga mencintainya? Merasa sedih karena tak dapat membalas cintanya secara terang-terangan?" cecar Ravka.
Pemuda itu mendengar hampir seluruh percakapan mereka. Ia bahkan mendengar saat Alea mengatakan mencintai suaminya pada Farash. Hanya saja, menyelisik dari sifat Alea yang begitu baik, Ravka mengambil kesimpulan sendiri. Alea bisa saja mengatakan hal itu bukan dari dasar hatinya, melainkan sebuah kewajiban karena status yang disandangnya.
"Aku akui, kalau aku memang sedih melihat Kak Farash seperti tadi," ucap Alea menghadirkan perih mengiris di jantung Ravka.
Pemuda itu memejamkan mata, menahan gejolak yang menyerang jiwa. Rasa marah, frustasi dan kecewa bercampur jadi satu. Menghadirkan kesakitan mendalam di hatinya.
"Tapi bukan karena aku mencintainya Mas," ucap Alea cepat menyadari perubahan raut wajah Ravka. "Aku sedih melihat Kak Farash kecewa dan terluka. Apalagi itu karena aku. Sehingga tak dapat menghiburnya dan menghapus luka di hatinya," ucap Alea dengan wajah sendu.
"Sejak kecil dia sudah menjagaku dengan sangat baik. Menghiburku setiap merasa sedih, serta menjadi teman dalam setiap suka dan dukaku. Tapi aku tak dapat melakukan hal yang sama kepadanya. Karena akulah yang menjadi penyebab luka itu,"
"Dia begitu memiliki arti dalam hidupmu," dengus Ravka menahan sesak. "Tak mungkin kalau kamu tidak memiliki sedikit perasaan cinta padanya,"
"Dulu aku memang pernah menyimpan rasa cinta untuk Kak Farash. Tapi itu dulu. Jauh sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah membunuh rasa cinta itu,"
Ravka kembali memejamkan matanya. Apa dia harus kehilangan wanita yang sudah merebut hatinya. Bahkan ia tak pernah merasakan cinta mendalam pada seorang wanita seperti ia mencintai istrinya. Bahkan rasa cintanya kepada Sherly tak pernah sedalam ini. Apa ia sanggup melepaskan perempuan yang ia cintai? Merelakan perempuan itu mengejar cintanya yang lain? Pikiran Ravka berkecamuk.
"Sekarang kamu punya kesempatan untuk meraih cintamu kembali. Perasaan cinta yang sudah coba kamu enyahkan kini bisa bersemi lagi," ucap Ravka bergetar menahan perasaan yang bertentangan dengan ucapan yang keluar dari bibirnya.
"Tak mungkin aku bisa menghadirkan cinta untuknya, saat hatiku sudah dipenuhi oleh pria lain," ungkap Alea dengan wajah tersipu malu.
Rasa risih menggelayuti saat ia harus mengungkapkan isi hati. Namun, ia harus menuntaskan kesalah pahaman diantara mereka. Alea tak akan membiarkan sedikit celah keraguan menggerogoti pernikahannya. Ia berharap Ravka dapat melihat kesungguhan dan ketulusannya.
"Seluruh rasa cinta dan hatiku sudah aku berikan untukmu, Mas. Tak ada ruang tersisa untuk pria lain bisa memasukinya," tambah Alea saat melihat wajah datar Ravka.
Sebersit senyum ragu terulas dibibir Ravka. Hatinya menghangat seketika, mendengar ucapan Alea.
"Apa sedikitpun hatimu tak bergetar mendengar pengakuannya?" tanya Ravka ragu.
Alea menggelengkan kepalanya penuh keyakinan sembari mengulas senyum dari dasar hati dengan wajah sembab yang terlihat kontras.
"Aku mencintai suamiku, dan itu cukup untuk ku. Aku tak membutuhkan pria lainnya dalam hidupku,"
Seketika itu juga Ravka menghujani wajah Alea dengan ciuman bertubi. Dimulai dengan mencium kedua mata sembab gadis itu dengan lembut, beralih ke hidung, kening, pipi kanan, pipi kirinya kemudian dakhiri dengan ciuman panas di bibir Alea. Mlumat habis bibir mungil itu kedalam hasrat yang menggebu.