
"Kamu mau makan apa?" tanya Ravka seraya melajukan mobilnya ke luar area Rumah Sakit.
"Hmmm .... " gumam Alea bingung tak mengerti kemana arah pembicaraan sang suami.
"Mumpung kita masih di luar, mending sekalian kita cari makan yuk. Lagi pula kita kan ga pernah makan di luar," ucap Ravka dengan sangat lembut.
"Aku lagi ga nafsu makan Mas," balas Alea malas.
Rasa lapar pun sepertinya enggan mengusik gadis itu saat ini. Mungkin cacing di perutnya bisa merasakan ketegangan yang dialami oleh Alea, hingga tak ada satupun cacing di perut Alea berdemo minta segera diberi makan.
"Kamu dari tadi siang belom makan, kan?! Tadi juga cuma sempat minum teh manis panas. Jadi sekarang kamu harus makan," titah Ravka tak mau dibantah.
"Kenapa ga di rumah aja, Mas?"
"Karena kalau di rumah kamu pasti tambah ga selera makan. Aku yakin, sekarang semua orang pasti sedang menunggu kita di rumah," ujar Ravka yang sudah bisa membayangkan akan seheboh apa saat mereka tiba di rumah nanti.
Ravka sangat yakin, jika yang dibutuhkan Alea saat ini adalah sesuatu yang bisa mengalihkannya dari ingatan akan kejadian beberapa jam lalu. Ia masih bisa mengingat bagaimana tubuh istrinya itu bergetar di dalam pelukannya saat ia membawa gadis itu ke ruang kerjanya. Pun dengan wajahnya yang pucat pasi saat itu, membuat Ravka sempat panik. Beruntung saat tiba di ruangan, sudah ada dokter yang langsung memeriksa kondisi Alea dan membuat Ravka agak tenang.
"Terserah Mas Ravka aja deh," ucap Alea dengan enggan.
Entah mengapa semangat yang sudah mulai mengalir dalam darahnya luruh seketika setiap mengingat kejadian di kantor tadi siang. Meski pikirannya sempat teralihkan karena keberadaan Ravka yang tak beranjak sedikitpun dari sisinya sejak tadi siang, tapi tak dipungkiri rasa takut masih meremas jantungnya dengan kencang.
Seperti saat ini, bayangan belati tajam serta suara Rama masih terus terngiang di telinganya. Membuat Alea meringis ngeri di tempat duduknya. Sekuat tenaga ia menahan rasa takut yang memenuhi rongga dada. Dengan segera dia mengalihkan pikirannya pada sikap manis Ravka yang penuh perhatian.
Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika mengingat betapa lembut dan perhatiannya Ravkaa hingga menghadirkan kedamaian yang mengenyahkan segala takut yang menyergap.
"Mas, kita ke McD aja yuk," ucap Alea spontan.
"McD? kok McD sih?"
"Aku tiba-tiba kepengen makan sundaes-nya McD. Udah lama banget ga makan sundaes di McD," ucap Alea yang memang sangat menyukai es krim dari restoran cepat saji asal amerika tersebut.
Waktu kecil, ketika ia tengah bersedih atau kecewa, Ayahnya selalu membelikannya sundaes McD. Setiap selesai melahap es krim kesukaannya itu, hatinya pasti kembali ceria dan senang. Hanya itu kenangan manis yang dia ingat dari Ayahnya. Bagaimana orangtuanya itu selalu berusaha membuatnya tersenyum dan bahagia. Sejak kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya, kebiasaan menikmati es krim sundaes produksi restoran cepat saji itulah yang menjadi penghibur di kala hati sedang gundah. Alea menyunggingkan senyum di bibir seraya menolehkan pada Ravka yang masih menatap lurus jalanan yang membentang di depan.
"Makasih yah Mas," ucap Alea tiba-tiba seraya memperhatikan dengan seksama wajah putih bersih di hadapannya.
"Makasih untuk apa?" tanya Ravka yang juga turut menyunggingkan senyuman di bibir.
"Makasih karena kamu bersedia menjadi suamiku yang sesungguhnya. Bersedia menemenaiku dan menjagaku," ucap Alea lembut.
Ravka melepaskan sebelah tangannya dari kemudi mobil, meraih tangan Alea dan membawa tangan itu ke bibirnya. Dikecupnya tangan Alea dengan segenap hati, membalas ucapan terimakasih yang dilayangkan istrinya.
Alea memperhatikan tangan Ravka yang masih tak melepaskan tautan jemari mereka. Tangan yang sedari tadi selalu merengkuhnya dan membuat Alea nyaman. Mengusir segala takut yang mendera. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana lembutnya tangan itu menyentuh kulitnya.
"Kamu yakin mau ke McD aja? Itu junk food loh Al," ujar Ravka setelah melepaskan genggaman tangannya pada Alea.
"He ehm .... " jawab Alea sembari mengangguk cepat. "Aku bosen sama menu-menu restoran. Tiap hari menu di rumah juga seperti makanan resto. sekali-sekali makan junk food ga pa-pa lah Mas,"
"Yaudah deh, as your ask princess. kita makan junk food hari ini," ucap Ravka seraya membelai pipi mulus istrinya. Menerbitkan senyum manis di bibir Alea untuk kesekian kalinya mendengar ucapan dan perlakuan Ravka padanya.
Ravka membalas senyuman sang istri. Ia sama sekali tak berniat membantah permintaan istrinya. Hari ini tugasnya adalah membuat Alea merasa nyaman dan memenuhi semua permintaan gadis itu. Agar senyum tetap menghiasi wajah cantik Alea. Wajah yang bisa dengan mudahnya menularkan senyum yang sama dari lubuk hati terdalam.
"Ngeliatinnya biasa aja dong. Aku jadi ga konsen tar nyetirnya," ucap Ravka saat sang istri masih tak mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda itu.
Alea masih menatap Ravka begitu intens. Mematri wajah itu di hati terdalam. Membuat dada Ravka membumbung bangga hingga mampu membuat jiwanya terbang melayang.
Beruntung, tak membutuhkan waktu yang lama membelah jalanan ibu kota, Ravka sudah mendapati salah satu gerai McD dan memutar mobilnya memasuki pelataran parkir restoran cepat saji itu. Sehingga ia bisa mengalihkan perhatian sang istri dari wajahnya. Tak sulit memang mencari sebuah gerai restoran cepat saji yang sudah terkenal seantero dunia itu di kawasan Jakarta Selatan.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berjalan bergandengan tangan memasuki restoran cepat saji yang menyatu dengan sebuah mall di bilangan Cilandak. Ketika berjalan, Alea sangat menyadari tatapan yang dilayangkan oleh sebagian pengunjung Mall yang lain pada dirinya. Tatapan yang membuat hatinya kembali merasa dipilin. Sangat tak nyaman rasanya. Sebagain besar mereka mencuri-curi pandang pada wajahnya yang dibalut perban. Sebagaian lagi menatap dengan terang-terangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka, tapi Alea tak menyukainya. Ia seolah disadarkan bahwa ia sama sekali tak pantas bergandengan tangan dengan sosok sesempurna Ravka.
"Jangan perdulikan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Mereka punya hak untuk menentukan jalan pikiran mereka sendiri dan berkubang di dalamnya meski itu keliru. Tapi kita juga berhak untuk tidak memperdulikan apa yang orang lain pikirkan. Karena diantara kita hanya ada aku dan kamu, tidak ada mereka," ucap Ravka saat menyadari Alea mulai menundukkan wajah, menatap ujung sepatunya yang bergesekan dengan lantai.
**********************************************
Maaf yah...beneran belom fit aku.. jangan bilang pendek.. aku maksain buat up ini... ga tau kenapa belom bisa dipakai mikir banyak nih kepalanya.. masih suka muter-muter..
tar kapan udah enakan aku nulis panjang lagi...