
Alea duduk santai di dalam kamar. Ia rindu akan suasana kantor yang menyita waktu, hingga tak menyisakan ruang bagi Alea untuk memikirkan segala masalah yang menghampiri. Diam sendiri di dalam kamar seperti ini, membuat Alea mau tak mau harus memikirkan soal Farash. Tadi saat di meja makan, Alea menyadari kalau suaminya sedang menyindirnya soal Farash. Siapa lagi orang yang masih berusaha mendekatinya selain Farash, pikir Alea.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Alea tentang Farash. Bergegas Alea bangkit dari sofa dan menghampiri pintu kamar.
"Sandra? Tiara? " sapa Alea kaget saat melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
Alea memperhatikan Sandra yang tertunduk dalam. Sementara Tiara berdiri di belakang adiknya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ayo masuk," ucap Alea seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Alea mendahului kedua adik iparnya masuk ke dalam kamar. Baru saja ia membalikkan badannya menghadap Sandra dan Tiara, gadia itu dikejutkan dengan sikap Sandra yang langsung memeluknya.
"Maaf.... Maaf kan sikap ku selama ini terhadap Kak Alea," ucap Sandra terisak.
Sandra sedikit membungkukkan badan dan membenamkan kepalanya di leher Alea. Gadis itu masih sesenggukan menahan tangis yang semakin hebat. Sebenarnya Sandra sudah bisa menguasai diri setelah kejadian semalam. Namun, setelah itu ia justru diliputi rasa bersalah pada Alea.
"Sudahlah Sandra, jangan menangis. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku bisa mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu," ucap Alea seraya mengelus punggung Sandra dengan lembut.
"Tapi aku sudah bersikap jahat sama Kak Alea. Bahkan aku tidak menghiraukanmu saat di Cisarua kemarin, tapi Kak Alea masih perduli padaku. Kakak sampai terluka hanya demi menolongku," ujar Sandra di sela-sela tangisnya.
"Tentu saja aku perduli padamu. Bagaimanapun, kamu itu adalah adiknya Mas Ravka yang berarti kamu adik ku juga," ucap Alea lembut diteling Sandra.
Dari nada suaranya saja, Sandra bisa merasakan bahwa Alea berbicara dengan senyum tulus yang sampai ke dalam hati gadis itu. Ia kemudian melepaskan pelukannya pada Alea. Gadis itu masih tertunduk malu dihadapan Kakak ipar yang pernah ia hina. Namun, justru perempuan inilah yang menolongnya dari kehinaan yang hampir saja menggapainya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai dinodai oleh kekasih pujaan yang ia rasa begitu sempurna. Seorang pria tampan dan berpendidikan yang lahir dari kalangan kelas atas. Kalangan yang berasal dari lingkungan yang Sandra anggap sepadan dengannya, tapi sayangnya tak memiliki moral yang sepadan dengan kesempurnaan duniawi yang melekat padanya.
"Aku benar-benar mohon maaf Kak. Aku menyesal telah menilai seseorang dengan cara yang salah. Aku melihat seseorang hanya sebatas kemilau materi yang mengelilinginya. Membagi mereka dengan dua bagian, kaya dan miskin. Sepadan dan tidak," ujar Sandra masih tertunduk malu.
"Kemarilah," ucap Alea seraya menarik tangan Sandra mengajak gadis itu untuk dusuk di tepi ranjang. "Kamu masih sangat muda. Jadi wajar kalau masih melakukan kesalahan dalam tahap pembelajaran hidup. Yang terpenting adalah, kamu menyadari kesalahanmu,"
"Aku juga minta maaf kak, karena sempat meragukan Kak Alea," ucap Tiara yang berdiri tak jauh dari Sandra dan Alea.
Tiara tidak tahu apa yang terjadi dengan pernikahan Kakaknya dengan gadis dihadapannya ini. Ia hanya menyadari ada hal yang tidak semestinya, menyertai pernikahan mereka. Namun, melihat sikap Ravka dan orang tuanya di meja makan tadi membuat semua dugaannya tak terbukti adanya. Bahkan ia melihat gadis yang tengah duduk membelai tangan Sandra itu terlihat sebagai gadis yang tulus. Sehingga tak layak bagi kakak iparnya menerima sikap tidak hormat dari dirinya.
"Kita anggap saja yang kemarin-kemarin sebagai kesalahpahaman saja. Jadi kita tak perlu membahasnya lagi. Setuju?" usul Alea seraya melemparkan senyuman termanis.
Tiara dan Sandra menganggukkan kepala berbarengan seraya membalas senyum tulus Alea. Dari luar kamar tampak Dilla mengulas senyum menyaksikan pemandangan di dalam kamar putranya. Tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan dalam keluarga kecilnya. Melihat anak-anaknya bahagia itu sudah cukup bagi wanita paruh baya itu. Ia patut bersyukur mendapatkan menantu yang memiliki hati seluas samudra.
"Kamu ternyata ada disini San?" sapaan Dilla memecah keharuan yang melingkupi semua orang di dalam kamar.
Mendengar suara ibunya, Sandra cepat-cepat menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Mama baru saja mau mencari kamu. Ayo kita ke dokter sekarang. Mama sudah buat janji temu untuk kamu dan Alea," lanjut Dilla seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar Alea.
"Mama akan lebih tenang kalau Dokter yang mengatakan seperti itu. Lagipula Mama khawatir dengan luka Kakakmu itu," tunjuk Dilla pada Alea.
"Iya sepertinya Kak Alea memang terluka cukup parah," jawab Sandra tak enak hati.
"Aku tidak apa-apa kok. Kalian saja yang terlalu khawatir. Sebentar lagi juga lebamnya akan hilang," seru Alea.
"Sudahlah, kalian tidak usah beralasan. Ayo siap-siap kita berangkat. Sekalian nanti kita ke dokter kandungan yah Al," ucap Dilla menghadirkan kerutan di dahi Alea.
"Buat apa Ma?" tanya Alea heran.
"Yah kita konsultasi aja. Supaya kamu bisa mempersiapkan diri. Mama kan sudah pengen cepat-cepat punya cucu,"
Sontak saja wajah Alea memerah menahan malu. Punya anak sama sekali belum pernah terpikirkan oleh gadis itu. Bahkan ia masih merasa canggung dan malu saat berdekatan dengan Ravka. Jantungnya saja seperti selalu mau lepas dari tempatnya setiap kali Ravka menyentuhnya. Bagaimana kalau lebih dari itu? bisa-bisa ia mati terkena serangan jantung saking gugupnya.
"Wah, aku juga udah ga sabar Ma pengen punya keponakan unyu," ucap Tiara.
"Aku juga pengen punya keponakan lucu dan imut. Tapi nanti Mama sama Papa pasti ga sayang aku lagi kalau udah punya cucu," sambar Sandra mulai melepas kecanggungannya.
"Kamu tuh ya, belom apa-apa udah cemburu aja sama anak kecil," Tiara menyentil dahi adik bungsunya itu.
"Sakit tahu Kak," Sandra memberengut seraya menggosok dahinya.
Ketiga orang ibu dan anak itu terus saja bersenda gurau soal anak Ravka dan juga Alea, tanpa menyadari bahwa yang dibicarakan sudah tertunduk menahan malu.
"Yasudah ayo kita berangkat. Nanti keburu siang," ucap Dilla.
"Aku ganti baju dulu deh Ma," jawab Alea yang masih mengenakan pakain formil untuk ke kantor.
"Baiklah Mama, tunggu disini aja yah. Kamu ikut Ra?" tanya Dilla pada Tiara.
"Ga deh Ma, aku ada janji ketemu klien soalnya,"
"Tapi habis dari dokter, Mama pengen ngajak Sandra sama Alea shopping loh. Mama udah lama ga shoping, tangan Mama udah gatel,"
"Aku nyusul deh nanti, habis ketemu klien. Kayanya seru kalau kita belanja bareng," ucap Tiara sumringah.
Sementara di luar kamar, Sherly tampak geram menyaksikan ke empat orang yang kelihatan hanyut dalam canda tawa. Ada sesal yang menggelayuti hatinya saat melihat Alea dihujani cinta oleh keluarga Ravka. Padahal selama ini ia selalu berusaha menanamkan perasaan benci akan kehadiran Alea pada keluarga itu.
Aku tidak bisa menganggap remeh gadis kampungan itu - Desis Sherly seraya berlalu dari sana.