
Alex hanya diam membisu. Kepalanya terasa berdenyut saat ia mencoba mengkaitkan satu persoalan dengan persoalan lainnya. Dari sisi manapun tak akan ada yang percaya bila ia tak ada sangkut pautnya dengan segala yang sudah dibeberkan oleh Ravka. Namun, ia sungguh tak mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi dalam waktu singkat. Dan lebih parahnya, bersamaan. Tentu saja jika dilihat secara kasat mata, ini merupakan satu kesatuan utuh sebuah rencana besar.
"Kamu liat sendiri kan Mas?! Aku sudah menemukan semua bukti kejahatanmu. Mengakulah Mas, sebelum semuanya terlambat," ucap Ravka masih bersidekap ditempatnya berdiri.
Wajah Ravka tampak begitu puas membuat Alex tak dapat membantahnya. Ravka mengira kerja kerasnya terbayar sudah hari ini. Tanpa ia sadari bahwa keruwetan di perusahaan yang harus ia hadapi bahkan lebih besar dari yang ada di depan matanya.
"Kembalikan seluruh uang yang sudah kamu curi dari perusahaan. Dan selesaikan semua proyek yang sengaja kamu hentikan ditengah jalan,"
"Aku bersumpah, tidak pernah mengambil sepeserpun uang perusahaan yang bukan hakku," ucap Alex lantang.
"Mas .... berhenti bermain-main. Aku sungguh-sungguh lelah menghadapi ini semua," ucap Ravka gusar seraya meraupkan kedua belah tangannya pada wajahnya dengan kasar.
"Sumpah demi tuhan, aku sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Aku sama sekali tidak pernah memindahkan uang perusahaan ke rekening pribadiku. Aku juga tidak pernah memberi perintah menghentikan proyek-proyek yang sedang berjalan," ujar Alex bingung.
Saat ini ia seperti dihantam badai. Semua bukti mengarah padanya. Namun, ia sendiri tak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
"Lantas semua itu apa Mas? semuanya itu tanda tanganmu," seru Ravka dengan suara mulai meninggi.
"Apa kamu tidak melihat, semua ini ditandatangani hanya beberapa hari selang aku diangkat menjadi CEO resmi. Bahkan saat itu aku masih menikmati liburanku bersama Sherly,"
"Tenang Ravka. Berhenti menyudutkan Alex. Kita perlu mendengar penjelasan Alex," ucap Derry menengahi pertengkaran yang terus bergulir, "kalau kalian terus bertengkar, kita tidak akan menemukan solusi masalah ini. Ini masalah yang cukup serius Rav," imbuh Derry lagi.
Ravka menghenyakkan tubuhnya di sebelah Derry, berusaha menenangkan hati yang terlanjur mendidih.
"Sekarang bicaralah Lex, kami semua mendengarkan," ucap Derry masih berusaha meredam emosi yang bergejolak.
Bagaimanapun Alex sudah lama kehilangan sosok seorang Ayah. Disini, ia lah yang seharusnya berperan sebagai Ayah pengganti. Sudah sejak lama ia ingin mengambil peran itu. Namun, masa lalu yang rumit membuat dia urung menjadi sosok Ayah bagi keponakan satu-satunya.
Alex hanya tergugu di tempatnya. Otaknya tak dapat menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan segala yang sudah terjadi. Jangankan menjelaskan, ia pun butuh penjelasan saat ini.
Pemuda berkulit agak kecoklatan itu membuka mulutnya lebar, tapi tak sebersit kata yang meluncur dari sana. Ia kemudian mengatupkan mulutnya kembali dan mengulangi hal serupa tanpa ia sendiri sadari.
"Kenapa Mas? Kamu tidak bisa membantah bukan?!" Ravka lagi-lagi menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mengejek.
"A-aku .... aku akui," akhirnya sebuah suara dapat Alex loloskan dari bibirnya, "aku tidak punya jawaban untuk semua ini. Aku bahkan masih belum memahami apa yang sudah terjadi." Raut terkejut terpampang jelas di wajah Alex.
Pemuda itu benar-benar kelihatan syok mendapati segala kenyataan yang dilemparkan Ravka ke hadapannya.
"Baiklah, biar aku saja yang menjelaskannya," ucap Ravka tak sabar, "aku sudah muak dengan segala sikap kepura-puraanmu Mas," imbuh Ravka lagi.
Lelaki jangkung yang wajahnya sudah dicukur licin dari segala rambut halus disekitar wajahnya itu, tersenyum penuh arti. Ia sudah bertekad akan membuka kedok segala kelicikan Alex.
Ravka menjelaskan modus yang dilakukan oleh Alex berdasarkan dugaannya. Alex sengaja memindahkan sedikit demi sedikit uang cash yang dimiliki perusahaan ke rekening pribadinya. Meski akhirnya Ravka berhasil membekukan rekening itu, butuh waktu bagi Ravka agar bisa menarik kembali uang yang sudah dipindah bukukan. Disaat bersamaan proyek besar Dinata Group di berbagai daerah dihentikan paksa secara tiba-tiba, yang pastinya akan sangat berdampak pada perusahaan secara keseluruhan. Ditambah sekarang Alex berencana melakukan kerjasama bernilai ratusan juta dolar antara perusahaan paling berkembang milik Dinata Group yakni BeTrust dengan perusahaan fiktif. Hal ini tentu saja akan menimbulkan guncangan hebat pada Dinata Group.
"Kalau sampai berita ini tersebar ke publik, hanya ada satu kemungkinan yang pasti. Saham Dinata Group akan merosot tajam. Jika ini sampai terjadi, seluruh investor akan ketar ketir dan menarik sahamnya. Yang bertahan juga tak akan tinggal diam begitu saja. Sementara di dalam manejemen perusahaan pun sudah carut marut. Saat itulah kamu bisa menjalankan segala tujuan yang sudah kamu rencanakan dengan matang. Apa ada kesalahan dari yang aku sampaikan?" Ravka mengakhiri penjelasannya panjang lebar.
Alex membulatkan matanya menyadari sebesar apa dampak yang terjadi kalau sampai ia melakukan kesalahan yang ia anggap begitu sepele. Sudah jelas, siapapun orang di balik semua ini mengincar dirinya untuk dikambing hitamkan. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa seraya memijat pangkal hidungnya. Dadanya berdebar menahan emosi yang kian memuncak. Alex tak pernah menyangka telah terjadi hal sebesar ini di depan batang hidungnya tanpa ia sadari. Hanya ada satu orang yang bisa ia menjelaskan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Ia harus meminta penjelasan dari Sherly dengan segera.
"Aku harus mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi disini. Aku tidak bisa membiarkan seseorang menggunakan ku sebagai tameng rencana busuknya," ucap Alex cepat.
Baru beberapa langkah Alex beranjak dari tempatnya, Ravka sudah menarik lengan pemuda itu dan mendaratkan satu pukulan keras pada wajah sang Kakak.
Pekikan terdengar dari Erica maupun Dilla yang terkejut menyaksikan Ravka yang menghantam Alex dengan telak. Alex tersungkur dengan darah mengucur dari bibirnya. Cepat-cepat pemuda itu menahan laju darah yang keluar dari sudut bibir menggunakan punggung tangannya.
"Ravka jangan keterlaluan kamu," jerit Erica tak terima melihat anak semata wayangnya dihajar tiba-tiba.
Tergopoh-gopoh Erica menghampiri Alex. Namun, saat hendak menolong putranya, Alex mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat untuk tak didekati oleh Ibunya sendiri. Sementara Derry sudah menahan tubuh Ravka untuk menghentikan amarahnya yang sudah tak terkendali.
"Aku berani bersumpah demi apapun, kalau aku sama sekali tidak tahu soal ini. Aku justru baru mengetahui hal ini dari kamu Ravka. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha mencari bukti bahwa aku sama sekali tidak terlibat dalam konspirasi ini," ucap Alex sembari berusaha bangun dari lantai.
Alex tampak kepayahan saat berusaha bangkit. Ia mencoba bertumpu pada sebelah lututnya dengan ditopang tangan kanannya. Sebelah tangannya yang lain masih memegang bibirnya yang pecah dan terasa perih.
"Bulshit .... Aku tidak percaya padamu Mas," seru Ravka dengan kasar, "aku tahu kamu sudah merencanakan ini semua termasuk menjebakku dengan Alea saat di kamar hotel. Dengan begitu kamu bisa mengambil kesempatan untuk menikahi Sherly dan menjadi CEO. Setelah itu kamu bisa dengan bebas menjalankan rencana busukmu itu. Katakan apa yang sebenarnya menjadi tujuanmu, ha? Jika yang kamu inginkan adalah menguasai perusahaan, aku akan memberikannya padamu dengan sukarela. Tak perlu kamu berbuat sampai sejauh ini," Dada Ravka naik turun menahan amarahnya.
Kalau saja Ayahnya tak menahan dirinya, sudah pasti Ravka akan kembali melayangkan tinju ke wajah lelaki yang selama ini begitu ia hormati.
"Meski aku kesulitan mencari buktinya, tapi aku yakin kamulah dalang penjebakan aku dan Alea. Mengaku saja Mas," jerit Ravka lagi.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan Ravka. Bukan aku yang ingin menikahi Sherly. Tapi ia sendiri yang datang padaku, meminta untuk dinikahi demi menutup malu keluarga," balas Alex tak kalah sengit.
"Apa kamu tahu ha? kalau bukan Mama yang memaksaku untuk menggantikan posisimu demi menyenangkan hati Kakek, aku tidak akan pernah mau menikahi Sherly. Aku melakukan semua ini demi keluarga kita. Bukannya berterimakasih atas pengorbananku, kamu justru menghujatku!" lanjut Alex dengan berapi-api.
"Kamu bohong Mas," sambar Ravka cepat.
"Untuk apa aku berbohong Rav? Aku memang bukan lelaki kebanggaan keluarga seperti dirimu. Aku memang terbiasa hidup bebas dan urakan. Tapi bukan berarti aku tak punya hati, tak memikirkan keluarga ini sama sekali,"
"Cukup, hentikan pertengkaran kalian yang tak ada habisnya. Bagaimanapun kalian bersaudara. Setidaknya kalian masih bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," potong Kakek Bayu menengahi pertangkaran kedua cucu lelakinya.
"Untuk saat ini, aku belum bisa membicarakan ini Kakek," ucap Alex dengan sorot mata sendu, "aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu, sebelum membicarakan ini semua. Aku mohon Kakek bisa mengerti. Beri aku waktu hingga esok pagi. Setelah itu kalian bisa melakukan apa saja yang kalian inginkan terhadapku," tambah Alex dengan sorot mata memancarkan permohonan.
"Baiklah .... Lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Tapi sebelum rapat direksi dimulai esok hari, Kakek harap kita sudah bisa membicarakan ini," ucap Kakek Bayu memutuskan memberi apa yang menjadi permintaan Alex, kesempatan untuk membuktikan kebenarannya.
Ia harus bersikap adil pada kedua cucunya. Jika dulu ia memutuskan untuk mempercayai Ravka, maka kali ini ia akan memberikan hal yang sama pada Alex. Sebuah kepercayaan.
**********************************************
sambil nunggu up bisa di intip dulu yah karya sahabatku...