Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 44# Mati karena Malu


Ravka mengendurkan cengkraman tangannya pada lengan Alea saat menyadari gadis itu meringis kesakitan.


"Maaf," ucap Ravka kemudian mengalihkan genggaman tangannya pada jemari Alea.


Hati Alea diliputi kehangatan saat menyadari pria yang tengah menariknya ini mengucapkan kata maaf. Baru kali ini ia mendengar pemuda itu berucap maaf pada dirinya.


Sembari mengiringi langkah suaminya, Mata Alea tertuju pada jemari tangannya yang saling bertautan dengan jemari tangan pemuda itu. Menghadirkan gelenyar yang menggetarkan jiwa. Gadis itu seperti dapat merasakan aliran darah yang menjalar di pipinya, ketika menyadari betapa lembutnya jari tangan Ravka menggenggam tangannya.


"Masuklah," ucap Ravka setelah membuka pintu mobil untuk Alea.


Tanpa menunggu lama, Ravka melajukan mobilnya keluar gedung perkantoran BeTrust. Alea duduk diam di kursi penumpang. Matanya mencuri-curi pandang pada Ravka yang duduk di balik kemudi mobil.


Meski pria disampingnya itu sudah bersikap lembut, tapi aura kelam kemarahan masih tampak melingkupinya. Beberapa hari terakhir, sikap Ravka sudah lebih baik kepadanya. Akan tetapi, sekarang pria itu tampak seperti awal-awal pernikahan mereka penuh dengan aura mencekam.


Tiba-tiba ucapan Vika tadi siang melintas begitu saja di benaknya. Wajahnya memerah seketika saat membayangkan trik untuk meredakan kemarahan sang suami. Pikirannya membayangkan tubuh berotot suaminya. Tubuh yang memang banyak digilai kaum hawa. Dengan bahunya yang bidang juga perut rata dengan kotak-kotak yang menggoda untuk disentuh.


kenapa aku jadi mikirin omongannya Mbak Vika sih. Kacau.... kacau.... - Alea menghentakkan kepala ke kiri dan kanan dengan keras secara berulang, berupaya menghalau pikirannya yang melantur.


"Kamu kenapa?" tanya Ravka heran saat sudut matanya menangkap kelakuan Alea yang Aneh. Tanpa tedeng aling, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh.... ? Ga... Aku... ga apa-apa kok Mas," ucap Alea terbata.


"Kamu sakit?" tanya Ravka seraya mengulurkan tangan kirinya menyentuh dahi Alea. Memeriksa suhu tubuh gadis itu tatkala melihat wajah Alea memerah.


Kening Ravka mengerut saat menyadari suhu gadis itu sepertinya normal-normal saja. Ravka menolehkan kepalanya melihat Alea sekali lagi. Ternyata wajah gadis itu semakin memerah. Dengan cepat Ravka menepikan mobilnya.


Sementara disampingnya, Alea meraskan jantungnya berdetak tak karuan saat jemari Ravka mendarat di keningnya. Selain Farash ia hampir-hampir tak pernah bersentuhan dengan lelaki, selain jabatan tangan. Saat pikirannya terseret oleh ucapan Vika, laki-laki itu malah menyentuh keningnya dengan lembut. Membuat Alea jadi salah tingkah.


Duuh kenapa aku jadi deg-degan gini yah? Tenang Alea, tenang. Tarik nafas pelan-pelan, hembuskan - Alea berucap dalam hati seraya memejamkan mata. Ketika membuka matanya, ia baru menyadari kalau Ravka sudah menepikan mobilnya.


"Loh Mas? Kenapa berhenti?" tanya Alea heran.


Ravka kembali mengulurkan tangannya menyentuh dahi gadis itu lebih lama. Kali ini ia membandingkannya dengan dahinya sendiri. Alisnya kembali bertautan saat meyakini suhu tubuh gadis itu tak berbeda dengan suhu tubuhnya.


"Tapi ga panas?" gumam Ravka yang masih dapat ditangkap oleh Alea. "Kamu kenapa?" tanya Ravka yang sudah meutar tubuh sepenuhnya menghadap Alea.


"Aku? Aku kenapa?" Alea balik bertanya.


"Wajah kamu udah kaya kepiting rebus. Kamu sakit?" tanya Ravka dengan kekhawatiran yang tidak ditutupinya.


"Eh... aku ga apa-apa kok Mas," jawab Alea seraya menggigit bibir bawahnya.


Gadis itu tampak semakin gugup mendapati perhatian Ravka. Spontan dia memegangi kedua pipinya. Menepuk-nepuk pipinya perlahan. Kulitnya yang putih bersih memang mudah sekali merona. Apalagi saat dia sedang tersipu malu ditambah salah tingkah. Tak ayal kulitnya memerah seperti kepiting rebus.


Rasa panas yang menjalar di pipinya sudah cukup memberitahu Alea semerah apa kulitnya saat ini. Ia berusaha memikirkan hal lain untuk menghindari rona malu yang terus menjejak di wajahnya.


"Aku betul-betul tidak apa-apa Mas. Mungkin hanya kelelahan saja. Cuaca di luar juga tadi sangat panas. Jadi kurasa karena itu mungkin wajahku sedikit memerah. Sebaiknya kita segera pulang saja, supaya cepat sampai di rumah dan bisa segera beristirahat," Alea bicara panajang lebar.


Hal yang selalu tak bisa Alea hindari adalah meracau saat ia sedang salah tingkah. Perlahan ia menata hati dan pikirannya agar bisa menormalkan degup jantungnya.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Ravka Lagi.


"Iya Mas, aku tidak apa-apa kok," ucap Alea yang sudah mulai menguasai diri.


Rona merah wajahnya mulai memudar. Membuat pria dihadapannya semakin memperdalam kerutan di dahinya.


"Atau jangan-jangan kamu sedang membayangkan sesuatu sampai membuat muka mu memerah seperti itu?" seru Ravka membuat Alea membeku.


"Sepertinya kamu tadi memang sedang memikirkan seauatu ya?!" Ravka menaikkan sebelah alisnya kesal saat mendapati wajah Alea menegang.


"Hm? tidak kok Mas, aku tidak memikirkan apa-apa," Alea memggeleng panik.


"Tidak usah bohong. Kamu pasti memikirkan ucapan pria itu," seru Ravka ketus.


Wajah khawatir yang diperlihatkannya tadi kini berganti dengan geraman kesal.


"Pria mana? Aku tidak mengerti maksudmu Mas," ucap Alea seraya mengernyit.


"Pria yang kamu akui sebagai Kakakmu. Tapi bisa-bisanya dia malah menyatakan cinta. Aku heran? Kakak seperti apa yang menyatakan cinta pada adiknya," ucap Ravka sarkas. "Asal kamu tahu. Aku juga mencintai adik-adik ku. Tapi tidak pernah terfikir untuk menyatakan cinta pada mereka," Ravka menatap tajam Alea.


Gadis itu mengkerut di tempatnya saat melihat raut wajah mengintimidasi yang dilayangkan Ravka padanya. Ia tak menyangka bahwa Ravka mendengar semua ungkapan Farash. Wajah Alea melemas tak enak hati. Tak seharusnya ia membiarkan Farash berbicara seperti itu di lingkungan kantor. Untung saja Ravka yang mendengarkan pengakuan Kakak sepupunya itu. Ia tidak tahu apa yang bakal terjadi esok hari kalau karyawan lain yang memergoki mereka berdua tadi.


"Maaf Mas, aku tahu tidak seharusnya Kak Farash berbicara seperti itu di lingkungan kantor,"


"Jadi maksudmu, kalau di luar kantor itu tidak jadi masalah?" Ravka mendekatkan wajahnya pada wajah Alea. Menggeram kesal dihadapan gadis itu. Membuat Alea bergidik ngeri melihat perubahan wajah Ravka yang semakin menggelap menahan marah.


"Bukan seperti itu maksudku," ucap Alea terbata.


"Jadi seperti apa maksudmu, ha?"


"Aku rasa Kak Farash hanya salah mengartikan perasaannya sendiri. Meskipun kita tidak ada pertalian darah. Tapi sejak kecil, kita sudah dibesarkan bersama sebagai saudara. Jadi..."


"Jadi karena itu dia tidak merasa bersalah mengungkapkan cinta pada istri orang lain?"


"Bukan begitu Mas. Kak Farash tidak tahu kalau aku sudah menikah,"


"Kamu mengakuinya sebagai Kakakmu, tapi kamu tidak memberitahunya kalau kamu sudah menikah?"


Alea tergugu dicecar pertanyaan bertubi oleh Ravka. Pertanyaan yang memojokkannya, hingga tak mampu berkata-kata. Bibir Alea kelu tak dapat menemukan kata yang dapat membungkam serangan Ravka.


"Aku memang sudah berniat untuk memberitahu Kak Farash, Mas," ucap Alea kemudian.


"Hanya sekadar Niat?" Lagi-lagi Ravka melemparkan tatapan dengan sebelah alis terangkat. Ekspresi yang membuat pemuda itu tampak menakutkan berkali lipat dari biasanya.


"Tentu saja aku akan segera memberitahu Kak Farash," sambar Alea cepat.


"Sebaikanya seperti itu," seru Ravka kemudian memalingkan wajahnya. Ia kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


Alea menghembuskan nafas lega, ketika suaminya kembali fokus pada kemudi mobil. Gadis itu melemparkan tatapan ke segala arah asal tak mengikuti godaan untuk melirik pria yang masih tampak kesal di sebelahnya. Ia kemudian membiarkan isi kepalanya mencerna sikap Ravka yang terlihat aneh belakangan ini.


**********************************************


Hallo ha... author mau menjawab pertanyaan yang mungkin banyak mengganggu pikiran para readers ku tercinta..


kok part Alea n Ravka nya dikit banget di awal cerita? Kok ga di kasih tau gimana Alea mencoba mengambil hati Ravka?


Nah jadi gini yah.. Ravka itu karakternya ga banyak omong.. langsung action.. udah gitu awal cerita kan Ravka tuh benci dan ga perduli sama Alea. dia ceritanya selalu mengabaikan Alea. Jadi kalau dibikin part mereka berdua pasti isinya narasi sama monolog Alea doang.. jadi pasti bakalan ngebosenin.. makanya gimana alea ngambil hati Ravka aku masukin dikit2 kaya menyiapkan semua kebutuhan Ravka dan ngejalanin tugasnya sebagai istri walau Ravka sikapnya kejam... biar bisa dapet gambarannya gimana alea ngedeketin Ravka..


Nah pokoknya begitulah ya... semoga menjawab kegalauan hati kalian.. wkwkwkkkk...


Jangan lupa like n komennya yah.. muach.. muach.. muach...


Happy reading...