Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 89# Bodyguard


Tak bersemangat Alea menjejakkan stiletto-nya di loby gedung BeTrust. Matanya melirik sebal pada seorang perempuan berwajah datar tanpa ekspresi yang sedari tadi mengikutinya.


Hari ini Alea berangkat ke kantor tanpa sang suami, lantaran beberapa hari ini Ravka memang terlihat sangat sibuk. Dia berangkat dari rumah bahkan saat sang surya baru menyembul malu-malu. Dan pulang ke rumah saat rembulan sudah naik sempurna. Jadilah ia sekarang memasuki gedung BeTrust melalui loby. Tak seperti biasanya yang masuk melalui pintu yang terletak agak tertutup dan terlindungi dari pandangan yang terletak di basement tempat parkir khusus direksi kantor.


"Debora, kamu jalannya jangan di belakang napa?" ucap Alea kesal pada perempuan berperawakan tinggi jangkung dengan kulit kecoklatan yang sedari tadi mengekori Alea.


Perempuan itu terlihat sudah cukup matang secara usia. Namun, ia bahkan meminta dengan hormat kepada Alea agar tak menyapanya dengan embel-embel kakak ataupun Embak. Ia minta dipanggil nama saja lantaran sikap profesionalisme yang dijunjungnya. Perempuan yang disapa Debora itu bahkan berkelakuan seperti orang yang bersuara emas saking jarangnya ia bicara. Ia hanya akan mengeluarkan suara jika ditanya, itupun hanya sepatah, dua patah kata. Membuat Alea lebih memilih untuk mendiamkannya saja.


"Aku ini bukan seorang putri yang harus dijaga bodyguard sepanjang waktu. Kamu bisa ga melunakkan sedikit sikap kakumu itu?" oceh Alea.


Alea sesungguhnya gadis yang sabar dan pandai mengontrol emosi. Ia hampir tidak pernah memperlihatkan raut kesal pada orang sekitar. Hanya saja ia sungguh malas jika melihat sikap Debora yang memperlakukannya secara berlebihan. Setidaknya ia berharap Debora bisa bersikap santai agar tak terlalu menarik perhatian.


"Mau aku ngomong kaya apa juga, tu embak-embak ga bakalan mau merubah sikapnya," sungut Alea lebih pada dirinya sendiri. Namun, ia yakin Debora bisa menangkap keluhannya.


"Kayanya aku meski niru sikap Mas Ravka sekali-sekali, buat gertak ini Embak-embak," Alea bergumam kecil agar tak dapat didengar oleh sang pengawal. Gadis itu menyeringai kecil dengan mata menyipit menyimpan rencana yang akan ia poles untuk menggertak Debora.


Alea kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimanapun ia harus membiasakan diri dengan keberadaan Debora yang sudah pasti menarik perhatian khalayak. Bagaimana tidak, gaya berpakaian dan jalannya saja sudah menunjukkan jati diri wanita itu dengan gamblang. Membuat sorot mata orang yang berlalu lalang, secara otomatis mengarah pada dirinya yang mendapat pengkawalan sang bodyguard. Setidaknya Alea harus bisa menahan diri sampai ia bisa membuat Debora menurunkan SOP-nya dalam menjaga client.


Tak butuh waktu lama untuk membuktikan apa yang dikhawatirkan oleh Alea. Semua mata yang berlalu lalang di loby gedung tertuju padanya. Hampir semua orang tiba-tiba menaruh hormat pada Alea. Mereka menganggukan kepalanya saat mata mereka bersirobok dengan Alea. Tidak ketinggalan menyapa gadis itu dengan tak kalah hormat.


"Pagi Bu .... " sapa salah seorang pegawai seraya menundukkan kepala saat kebetulan berpapasan dengan Alea.


"Pagi .... " jawab Alea seraya menyunggingkan senyum.


Alea tak sempat meluruhkan senyum di bibirnya, karena belum sempat meluruskan garis bibir yang melengkung, ia sudah kembali disapa oleh karyawan lainnya.


Alea menyadari sebagian besar diantara mereka mencuri-curi pandang pada wajahnya yang masih ditutupi perban. Entah karena penasaran akan insiden penyanderaan yang pastinya sudah tersebar luas, ataukah karena iba melihat wajahnya yang terluka. Alea tak memperdulikannya. Ia tak mau dipusingkan dengan urusan wajah. Ravka sudah meyakinkan dirinya untuk tak memikirkan perihal wajah, apapun nanti hasilnya. Entah meninggalkan bekas ataupun tidak, Alea percaya bahwa cinta Ravka tak sedangkal itu padanya. Membuat ia bisa melangkah percaya diri dengan, atau tanpa wajah yang sempurna.


"Pagi Pak," sapa Alea riang pada penjaga keamanan gedung yang berjaga di depan pintu lift.


Alea menguraikan senyum yang sama seperti biasanya sebelum ia memasuki lift tersebut. Petugas keamanan yang sedang memunggungi Alea, seketika memutar tubuhnya menghadap orang yang menyapa. Ia terlihat langsung gelagapan mendapati Alea sedang berdiri di sebelahnya.


"Pagi Bu," jawab petugas keamanan itu sembari membungkukkan badannya.


"Ah Pak Irfan, emang aku udah kelihatan kaya Ibu-ibu yah?" Alea mencoba memecah suasana canggung sembari menunggu pintu lift terbuka.


"Maaf bukan begitu Bu .... saya .... " Irfan tampak salah tingkah.


"Sudah .... sudah .... Aku bercanda doang kok, Pak. Ga usah dipikirkan," Alea mengibaskan tangannya dihadapan petugas keamanan tersebut. Seulas senyum mengembang di wajah Alea sebelum ia melangkah memasuki lift di ikuti oleh Debora dengan ekspresi wajahnya yang tak berubah sama sekali.


Alea meluruhkan senyum yang menggelayut di bibirnya. Senyum itu kini berubah menjadi lengkungan masam. Apa yang ia pikirkan tak meleset sedikitpun. Suasana kantor jadi berubah, membuat gadis itu salah tingkah.


Ah .... mudah-mudahan orang satu tim ku tak merubah sikapnya. Kalau mereka juga seperti Pak Irfan, bisa-bisa aku ga betah kerja di kantor ini - pikiran Alea melayang pada wajah-wajah rekan kerja yang satu ruangan dengannya.


Menghadirkan degupan jantung yang kembali menghantam dada saat ia sudah berada tepat di depan pintu ruang kerjanya.


"De, kamu tunggu disini saja," ucap Aela seraya menunjuk sofa di depan pintu kaca.


Di balik pintu kaca itu adalah ruang kerja Alea. Dimana ia dan rekan satu tim dari divisi Analys Bussines menghabiskan delapan jam waktu mereka untuk mengotak-atik data.


"Maaf Non, tapi kalau dari sini saya tidak bisa melihat Non Alea dengan jelas," bantah Debora.


"Di dalam ruangan itu isinya semua temanku. Jadi ga ada yang akan menyakitiku. Lagian tadi kamu liat sendiri kan bagaimana sikap orang-orang di kantor ini? Ga akan ada yang berani macem-macem," ucap Alea tak sabaran.


"Tapi Non .... "


"Ga ada tapi-tapi .... " potong Alea cepat. "Pokonya kamu tunggu disini. Ga ada yang bisa keluar masuk ruangan ini sembarangan. Hanya yang punya akses ke dalam ruangan ini saja yang bisa masuk. Jadi kalau ada yang berusaha masuk paksa, baru kamu boleh waspada. Ngerti?" Tegas Alea.


Gadis muda itu memutuskan tak akan bersikap lemah lembut untuk menghadapi Debora. Ia perlu mengimbangi kedisplinan pengawalnya itu dengan sikap tegas.


"Baik Non," jawab Debora seraya menundukkan kepala.


Perempuan itu melirik Alea sekilas. Tak menyangka kalau Nona muda yang harus dijaganya itu bisa bersikap keras juga. Dari awal ia dikenalkan dengan majikan baru nya itu, gadis mungil berparas ayu itu terlihat lembut dan baik hati. Meski masih muda, ia terlihat dewasa. Tak mengeluh apalagi marah-marah seperti Nona muda yang lainnya. Debora mengira ia beruntung mendapat Nona muda yang lebih penurut dan tak merepotkan untuk dikawal. Apalagi ia mendapat tugas lebih berat dibanding pengawal lainnya. Karena gadis inilah, ia dan ke-lima pengawal lainnya mendapat pekerjaan dengan gaji sepadan. Nyatanya gadis dihadapannya itu sama saja, tak terima diawasi setiap saat.