Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 66# Bersabar


Dada Alea tak berhenti bergemuruh. Baru kali ini ia keluar dari gedung bioskop, tapi tidak mengetahui apa yang ia tonton. Pikirannya melayang pada apa yang Ravka lakukan di dalam sana. Ada perasaan menari-nari di hatinya mengingat setiap sentuhan lembut yang Ravka berikan.


"Makan yuk, aku laper," ucap Ravka dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya sejak keluar dari gedung bioskop.


Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan istrinya, seolah gadis itu bisa menghilang jika ia melepaskan tautan jemari mereka.


"Emang kamu belum makan, Mas?"


"Belum, dari kantor aku langsung kesini,"


"Kamu nyampe sini aja udah malem Mas, kenapa ga makan dulu sih tadi?"


"Tadi aku buru-buru kesininya. Jadi ga kepikiran makan. Habis aku udah kangen sama kamu,"


"Ish .... jago gombal sekarang," ucap Alea mencebik. Namun tak urung bibir mungilnya tetap menerbitkan senyum disana.


"Orang kangen kok dibilang gombal. Jadi mau makan dimana? Aku beneran laper nih,"


"Terserah Mas Ravka aja deh, aku ngikut. Aku kan ga suka pilih-pilih makanan, jadi bebas mau makan dimana,"


"Berhubung sekarang kita lagi nge-date ala pacaran remaja, gimana kalau kita makan di pinggir jalan aja. Anak remaja kan kere ga punya uang, jadi makannya di pinggir jalan, irit," ucap Ravka santai.


"Masa anak konglomerat ga punya uang," sindir Alea tak percaya.


"Ih seriusan. Dulu waktu sekolah aku tuh kere, ga punya uang. Kalo kepengen sesuatu aku harus kerja dulu biar bisa punya uang. Kadang kerja di tempat Papa, kadang di tempat Kakek. Makanya dulu tuh aku pelit sama cewek. Ngapain capek kerja uangnya dikasih buat mereka," Ravka tergelak teringat masa-masa sekolah yang selalu indah untuk dikenang.


"Masa sih Mas kamu pelit sama cewek?" Alea menaikkan dua alisnya bersamaan.


Selama beberapa bulan memperhatikan sikap Ravka, dia sepertinya bukan orang yang pelit. Justru sangat dermawan. Bahkan Bi Mimah suka bercerita bagaimana Ravka selalu membantu setiap pekerja di rumah yang sedang kesulitan keuangan. Bahkan beberapa anak sopir dan asisten rumah tangga yang bekerja untuk mereka, dibiayai sekolahnya oleh Ravka.


"Iyalah pelit. Ngapain baik sama cewek-cewek yang ngedekatin kita karena ada maunya. Lagian mereka juga berasal dari keluarga berada, masa perlu apa-apa minta aku? Uang saku mereka aja kadang lebih gede dari gaji aku,"


"Kamu punya banyak mantan pacar yah, Mas,"


"Hmmm .... lumayan lah kalo dibandingin sama cewek yang ga pernah pacaran sama sekali,"


"Apa sih, kok malah nyindir aku," ucap Alea cemberut.


"Tapi aku suka kok. Berarti kamu masih orisinil," ledek Ravka.


"Ish .... emang aku barang, orisinil?" Alea memajukan bibirnya kesal.


"Kamu tuh kalo bibirnya manyun gitu kaya minta disosor tau ga," ucap Ravka seraya mendekatkan wajahnya kepada Alea.


"Apa sih Mas, ini tempat umum tau," seru Alea seraya memundurkan kepalanya menjauhi Ravka.


"Kamu tuh lucu banget sih, diledekin dikit aja mukanya udah kaya kepiting rebus," Ravka tergelak memperhatikan Alea.


"Au ah nyebelin banget. Udah pelit, demen ngeledek lagi," ucap Alea semakin cemberut.


"Enggak dong. kamu kan istri aku, jadi aku ga bakalan pelit sama kamu. Kamu mau apa aja aku beliin deh. Sebongkah berlian juga aku beliin sekarang, kalau kamu mau,"


"Makin cinta kan aku sama kamu. Dibeliin berlian ga mau, malah minta makan doang,"


"Siapa bilang ga mau? Aku ga maunya sekarang. Kalo sekarang maunya makan. Kalo nanti mah mau lah, siapa yang ga mau berlian," ujar Alea cuek.


Ravka tergelak mendengar perkataan Alea yang semakin membuatnya jatuh hati. Gadis itu sama sekali tidak berpura-pura jaim. Namun, terlihat jelas kalau dia juga bukan perempuan matre. Alea terlihat semakin menggemaskan dengan gaya sok cueknya dimata Ravka. Dikecupnya pipi Alea karena saking gemasnya ia pada istrinya itu.


"Mas .... malu, ini ditempat umum," ucap Alea terperanjat kaget.


"Berarti kalau bukan ditempat umum boleh dong kalau lebih dari cium?" bisik Ravka menggoda di telinga Alea.


Lagi-lagi wajah gadis itu kembali memerah. Aliran darah dapat Alea rasakan menjalar perlahan di kedua pipinya. Pria itu memang selalu bisa membuat istrinya membisu, tak berani berkata-kata.


********


Ravka membuka matanya perlahan. Seulas senyum ia tepis saat melihat wajah cantik yang masih terlelap damai dalam pelukannya. Semalam wajah cantik istrinya itu hampir saja membuat Ravka tak dapat menahan diri. Sikap canggung menggemaskan yang Alea perlihatkan semakin membuat Ravka penasaran untuk mereguk lebih dari yang sudah ia dapatkan. Namun, ia tak ingin terburu-buru. Ia sangat menyadari gadis dihadapannya ini masih minim pengalaman. Begitu pula dengan dirinya.


Meski mereka menikah karena sebuah insiden memalukan di kamar hotel, tapi Ravka meyakini kalau tak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Karena kalau terjadi sesuatu, ia pasti menyadarinya. Sementara waktu itu, ia sepertinya hanya tertidur berpelukan dalam kondisi yang memalukan.


"Aku beruntung banget bisa ngedapetin kamu. Gadis penyabar berhati lembut," ucap Ravka seraya membelai pipi Alea dengan punggung tangannya.


Ia sebenarnya sudah tak sabar ingin mereguk kenikmatan yang dikatakan orang sebagai surga dunia. Namun ia harus bersabar. Alea adalah gadis yang harus ia perlakukan dengan lembut penuh kehati-hatian karena istrinya itu adalah gadis yang istimewa.


Apalagi ia sendiri belum berpengalaman menghadapi wanita. Tak bisa dipungkiri ciuman adalah hal lumrah bagi seorang Ravka. Akan tetapi, ia tak pernah sampai melewati batasnya. Meski dia berasal dari keluarga yang berpikiran terbuka dan moderen, tapi keluarganya juga masih menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran yang didukung dengan pengetahuan agama. Sehingga ia masih memegang batas norma-norma dalam pergaulan pria dan wanita yang belum terikat pada pernikahan. Meskipun ia menyadari kadangkala ia belum seluruhnya menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupannya sehari-hari. Terlebih dimasa remaja yang masih jauh dari nilai islami.


"Al, bangun yuk. Udah subuh," bisik Ravka di telinga Alea.


Sudah beberapa hari ini Ravka selalu membangunkan sang istri. Mengajak Alea untuk menghadap Sang Maha Pencipta bersama. Ada perasaan bahagia disaat ia bisa menjalankan tugasnya sebagai imam gadis yang kini mulai memenuhi seluruh relung hatinya. Dikecupnya sudut bibir Alea saat gadis itu masih asik dengan mimpinya.


"Hmmm," gumam Alea yang marasa geli dengan kecupan Ravka.


"Bangun, Al. Mau sampai kapan kamu asik dengan pangeran mimpimu? Disini sudah ada pangeran yang jauh lebih tampan," ujar Ravka percaya diri.


Dikecupnya sekali lagi bibir Alea. Kali ini lebih dalam dan lama hingga gadis itu menggeliat di dalam pelukannya. Seketika Ravka melepaskan pelukannya saat menyadari gerakan Alea justru membangunkan sesuatu yang mendesak dibawah sana.


"Hmmm... pagi Mas," Alea membuka mata seraya melemparkan senyum manis kepada suaminya.


Tanpa menjawab sapaan Alea, pemuda itu tiba-tiba meloncat dari tempat tidur dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Menyisakan tanya dalam benak Alea.


Alea kemudian tak mengindahkan perasaan hati yang bingung melihat tingkah suaminya. Ia segera bangkit dari tidurnya bersiap memulai harinya yang semakin terasa indah dan menyenangkan. Gadis itu merapihkan tempat tidurnya sembari bersenandung riang. Wajahnya tak henti menerbitkan senyum mengalahkan cerahnya mentari pagi saat teringat pacaran remaja ala Ravka semalam.


"Al, mandi dulu gih. Habis itu kita sholat subuh berjamaah," ucap Ravka lembut setelah keluar dari kamar mandi.


Wajah pemuda itu kini sudah dihiasi senyum manis berbeda saat tadi Alea baru bangun tidur.


Ah... mungkin tadi hanya perasanku saja. Pasti tadi aku belum sepenuhnya sadar - ucap Alea dalam hati saat melihat tak ada perubahan sikap Ravka pagi ini dengan sikapnya semalam. Masih lembut menyentuh kalbu.


Bergegas Alea memasuki kamar mandi bersiap memulai aktivitasnya seperti biasa. Ia sudah tak sabar menyambut pagi. Karena hari ini Ravka sudah memperbolehkannya untuk bekerja.