Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 78# Kerjasama


"Bisa kau perjelas ucapanmu barusan?" seru Ravka saat menyadari begitu mudahnya Farash mengakhiri pembicaraan yang sudah mendidihkan hatinya.


"Bagaimanapun hubungan saya dengan Alea sudah terjalin sejak kami kecil. Tentu saja saya tidak ingin menghancurkannya begitu saja. Saya hanya ingin memastikan kalau Alea berada di tangan yang tepat. Dan untuk saat ini, saya bisa mempercayai anda, Pak Ravka. Karena itu saya bersedia mendukung anda," jelas Farash yang sudah kembali menggunakan sapaan formal kepada Ravka.


"Tetapi, apa aku bisa mempercayaimu?" ujar Ravka penuh ironi.


"Saya tidak bisa memaksa Pak Ravka untuk percaya kepada saya. Tapi satu hal yang perlu Bapak ketahui, saya juga tidak suka terlibat dalam hal ini. Saya sangat mengerti sekali, apa yang sudah saya lakukan bisa sangat merugikan perusahaan. Tetapi karena ini atas persetujuan CEO BeTrust sendiri, saya bersedia melakukannya," Farash menghela nafas pelan sembari menata kembali, kata perkata yang akan ia lontarkan dihadapan Ravka.


"Kalau bisa memilih, saya akan memilih untuk tidak turut campur dalam kepentingan pribadi direksi perusahaan. Tapi sayangnya saya sudah terlanjur terlibat. Jadi mau tidak mau saya harus menentukan sikap. Dan saya lebih memilih untuk membela kepentingan anda selama itu tidak bertentangan dengan kepentingan perusahaan." imbuh Farash dengan rasa percaya diri.


Pemuda itu sudah berhari-hari mengalami dilema saat terpaksa membuat laporan palsu yang bertentangan dengan nurani. Ia sempat menolak perintah dari direktur keuangan kepadanya. Akan tetapi, pada waktu itu Alex sendiri yang berbicara di hadapannya. Membuat Farash terpaksa menyetujui perintah tersebut.


"Baiklah, saya akan mempercayai kamu,"


"Tapi ada satu hal lagi Pak," potong Farash.


"Apa lagi?" Ravka mengernyitkan dahi tak suka.


"Saya tetap akan memanipulasi data sesuai dengan apa yang sudah saya lakukan,"


"Apa maksudmu, ha .... " nada suara Ravka meninggi. "Kau mencoba mempermainkan aku?"


"Maaf Pak .... Seorang pria dilihat bagaimana dia memegang janjinya. Saya sudah berjanji akan membuat laporan manipulatif sesuai dengan permintaan Pak Alex dan Pak Bambang. Dan saya akan tetap menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Tapi saya akan tetap mendukung anda. Saya hanya diminta untuk membuat laporan manipulatif. Tapi tidak diminta berjanji untuk menyembunyikannya dari siapapun. Jadi jika anda membutuhkan apapun mengenai hal ini, saya bersedia melakukannya," ucap Farash membuat Ravka menyunggingkan bibirnya.


"Tak kusangka kau orang yang cukup cerdas. Kau bisa berfikir cepat untuk menemukan solusi dari masalahmu. Aku tahu kemana jalan fikiranmu itu. Dan harus aku akui, kau mendapatkan respect dari ku,"


"Terimakasih untuk pujian anda, Pak," ujar Farash seraya tersenyuman tipis. "Saya hanya mencoba untuk bersikap realistis. Seperti yang Pak Ravka katakan, saya hanya pion disini. Meski saya hanya menjalankan perintah, saya bisa saja menjadi orang yang ditumbalkan. Tentu saja saya tidak akan mau menjadi kambing hitam. Karena itu saya menyimpan semua bukti yang diperlukan. Termasuk rekaman percakapan antara saya, Pak Bambang, dan Pak Alex,"


Ravka terlihat menegakkan tubuhnya, tertarik mendengar bukti yang dimiliki oleh Farash. Pria dihadapannya ini memang tak bisa disepelekan. Untung saja ia mengesampingkan ego untuk melampiaskan amarah pada Farash atas kejadian sore kemarin. Bagaimanapun ia mempercayai istrinya, dan itu lebih dari cukup. Ia juga tahu bahwa ia tak bisa memutuskan dengan paksa hubungan Alea dengan orang-orang yang sudah terlebih dahulu ada dalam kehidupan istrinya sebelum bertemu dengannya.


"Bisa kau perlihatkan bukti itu?" tanya Ravka antara percaya dan tidak.


"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Aku tidak mungkin menyimpan hal sepenting itu di kantor," jawab Farash santai.


Sebuah ketukan di pintu menyela pembicaraan kedua pria tersebut. Membuat keduanya terdiam sampai seseorang melenggang masuk setelah dipersilahkan oleh Ravka. Nino memasuki ruangan Ravka dengan beberapa buah map di tangannya. Ia sudah tau kalau saat ini Ravka sedang berbicara dengan Farash di dalam ruangan kerja Ravka. Karena itu dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan. Nino meletakkan map-map tersebut di atas meja dihadapan atasannya itu.


"Ini semua yang berhasil saya kumpulkan, Pak," ucap Nino sopan.


"Terimakasih No. Oh iya nanti malam kamu ke rumah. Kita harus membahas masalah ini dengan Kakek. Kita akan atur strategi menghadapi Mas Alex. Lagipula, Kakek bisa memberikan masukan kepada kita siapa direksi yang sungguh-sungguh loyal kepada perusahaan,"


Sepertinya aku tidak salah menentukan dimana aku harus berpijak. Ternyata Pak Ravka mendapat dukungan langsung dari Tuan Bayu. Mungkin Pak Alex memang punya rencana berkhianat pada perusahaan - Farash berucap dalam hati.


"Farash, kau juga nanti malam datanglah ke rumah ku. Bawa semua bukti yang kau miliki. Aku harap kau bersungguh-sungguh ketika mengatakan akan mendukungku,"


"Baik Pak," jawab Farash seraya menganggukkan kepala.


"Kau sudah bisa kembali ke ruanganmu. Aku sangat berterimakasih dengan dedikasimu kepada perusahaan karena bersedia membantuku," ucap Ravka bersungguh-sungguh.


"Kalau begitu saya permisi," Farash sekali lagi menganggukan kepalanya sebelum berlalu dari hadapan Ravka dan Nino.


"No, gimana janji temu dengan Pak Hendra hari ini?" tanya Ravka setelah Farash benar-benar menghilang dari hadapan keduanya.


Meski ia mencoba untuk mempercayai Farash, tapi loyalitas pemuda itu belum teruji. Jadi dia tak mungkin mengungkapkan strategi yang sudah ia siapkan, ke sembarang orang terkecuali Nino dan Kakek Bayu.


"Setengah jam lagi adalah jadwal ketemu dengan Pak Hendra, Rav. Gue udah buat janji dengan Pak Hendra di restoran dekat Kelapa Gading. Untuk saat ini gue rasa kita tidak bisa mendatangi Pak Hendra di firma. Tapi kita juga tidak bisa menyuruh dia ke kantor. Karena seperti kata elu, kita tidak boleh terlihat sedang berhubungan intens dengan pengacara,"


"Oke Boss,"


*********


"Duluan yah Al," ucap Vika seraya beranjak dari kursinya.


"Tunggu Mbak, aku ikut dong," ucap Alea menghentikan langkah Vika.


Tadi pagi Ravka memang sudah mengatakan mereka tidak bisa makan siang bersama, lantaran suaminya itu harus keluar kantor saat jam makan siang. Tentu saja kesemoatan ini akan dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh Alea untuk mengakrabkan diri dengan staff lain di dalam ruangannya.


"Lu mau ikut ke kantin?" tanya Vika tak percaya.


"Iya Mbak,"


"Tumben lu ikut kantin. Biasanya lu langsung ngeloyor pergi kalau sudah masuk jam makan siang," vika menaikkan sebelah alisnya curiga.


"Lagi ga bawa bekal Mbak," cengir Alea ditempatnya.


Gadis itu meraih dompet di dalam tas tangannya, kemudian menyambar ponsel diatas meja. Vika masih memasang tampang curiga melihat Alea. Ia baru menyadari setiap Alea menghilang di waktu jam makan siang, ia selalu pergi dengan sekantong pepper bag. Membuat Vika curiga kalau suami Alea sesungguhnya adalah orang yang juga berkerja di gedung yang sama dengan mereka.


"Jangan-jangan lu biasanya kabur ketemu suami lu tiap hari?" tanya Vika yang dibalas senyuman oleh Alea.


"Suami lu siapa Al? Jangan bilang kalau dia .... "


"Mbak hayuk buruan. Udah laper nih," sambar Sasya memotong ucapan Vika.


"Eh .... iya Sya. Ayok jalan. Sekalian nih, Alea juga ikut makan bareng,"


"Asik dong. Jadi gue bisa nanya-nanya elu deh," cengir Sasya melihay Alea.


"Yang ada aku yang nanya-nanya Mbak Sasya. Aku kan baru dikantor ini,"


"Tapi elu lebih pengalaman soal asmara ketimbang gue. Jadi lu tuh bisa jadi suhu gue juga selain Mbak Vika. Secara yah nih, Mbak Vika kadang kurang ngerti gejolak jiwa anak muda," kekeh Sasya yang langsung mendapat toyoran di kepala oleh Vika.


"Mbak Irma sama Mbak Firda ga ikutan, Mbak?" tanya Alea pada Sasya.


"Bentar lagi juga nyusul katanya. Kita duluan aja yuk. Udah laper gue,"


Ketiganya kemudian berjalan menuju loby gedung sembari bercanda. Kantin kantor memang terletak di sudut belakang komplek perkantoran BeTrust. Sehingga mereka harus rela mengantre panjang untuk menaiki lift bergantian dengan karyawan dari divisi lain. Gelak tawa membahana mengikuti ketiga perempuan beda usia tersebut sembari menunggu giliran mereka memasuki elevator.


Ketiganya masih asik bercengkrama saat berada di dalam lift hingga mereka menghambur keluar lift. Belum sampai pintu loby gedung, tiba-tiba sebuah jeritan mengagetkan banyak orang yang berlalu lalang di loby gedung.


Seorang berpakaian hitam-hitam dengan topi menutupi sebagaian wajah orang tersebut menarik lengan Alea dengan paksa, sehingga gadis itu menjerit kaget.


**********************************************


Hallo ha... malem teaders ku tercinta...


Sekali lagi mohon maaf kalo ga bisa up date rutin.. tapi bener deh sebisa mungkin aku up date.. mudah2an bacanya sampe note aku yah, jadi bisa memaklumi diriku yang mungkin tak bisa memenuhi keinginan kalian untuk up date sesering mungkin. Tapi aku juga sangat menghargai kalian yang sudah bersedia membaca karyaku dan mendukung aku entah itu dengan like, komen, dan juga vote. Juga dengan kritik dan saran dari kalian yang memang tujuannya adalah supaya aku semakin baik dalam penulisan..


Do'akan saja aku bisa membagi waktu antara real life dengan ngehalu.. jadi semuanya ga ada yang terbengkalai. Karena aku juga punya kewajiban di real life yang ga mungkin dikesampingkan.. Tapi juga berusaha untuk memenuhi harapan kalian up date sering dan banyak.. sekali lagi makasih banyak buat pengertiannya... sekarang aku ga pernah nulis dibawah 1200 words loh.. malah nulis 1300 - 1500 tiap partnya..


Happy reading all....