Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 140# Membopong


Alea menatap keindahan warna biru jernih yang membentang sejauh mata memandang. Airnya cukup tenang tanpa ada gelombang besar yang menghempas. Negara yang mewajibkan seluruh warganya beragama islam ini, memang merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol. Suatu pulau koral yang terbentuk dari batu karang bersusun melingkar yang memerangkap laguna di dalamnya.


Laguna inilah yang tengah dipandang oleh Alea. Air laut dengan jutaan biota yang hidup didalamnya, dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dari koral sehingga terhalang dari gelombang besar samudra. Membuat laguna cukup aman dari gulungan ombak untuk di eksplor oleh para wisatawan.


Gadis itu duduk santai di teras sebuah villa yang dibangun dari kayu di atas laguna. Cuaca sedang teriknya, hingga ia mengurungkan niat untuk menuruni tangga di ujung teras. Tangga yang akan membawanya langsung menyentuh air laut dan bermain-main disana.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Ravka sembari membaringkan tubuh di kursi santai yang tengah diduduki oleh Alea.


Pemuda itu melipat kedua tangan dan meletakkannya di bawah kepala sebagai pengganti bantal.


"Aku sedang menimbang-nimbang, apa aku akan membiarkan matahari membakar kulitku atau harus bersabar untuk bermain-main di bawah sana." Tunjuk Alea pada jernihnya laut dengan ikan-ikan kecil hilir mudik menggelitik hati seolah mengajak berenang bersama mereka.


"Apa kamu berani berenang di laut saat tengah hari seperti sekarang? Teriknya matahari bisa ngebuat kulit kamu melepuh bukan hanya terbakar," jelas Ravka menekan keinginan Alea untuk berenang saat cuaca sedang tak bersahabat seperti saat ini, "Dari pada bermain-main dengan ikan, lebih baik bermain-main dengan ku disana. Aku kegerahan," ucap Ravka menunjuk sebuah bath up di balik pintu kaca.


Alea baru menyadari kalau Villa yang sedang mereka tempati ini memang di design khusus sebagai pilihan tepat untuk berbulan madu. Bahkan bath up yang seharusnya diletakkan di ruang tertutup dalam kamar mandi, justru diletakkan di ruang terbuka yang dapat diakses oleh penghuni kamar lain saat seseorang memutuskan untuk mandi. Tak memberikan ruang bagi Alea memiliki area privacy di hadapan sang suami selama mereka menempati kamar ini.


"Ini masih tengah hari, Mas," sambar Alea seraya mencebik.


"Emang ada larangan buat mandi tengah hari? Mandi saat cuaca sedang panas-panasnya malah enak, Al. Bikin seger," ucap Ravka santai.


"Yakin cuma mandi doang?" Alea menaikkan sebelas alisnya.


Ravka terkekeh melihat wajah mengejek yang Alea perlihatkan. Tanpa aba-aba, pria itu menarik Alea ke dalam pelukannya. Membalikkan posisi hingga istri mungilnya itu berada di bawah kungkungannya. Dengan mata coklatnya, pemuda itu menatap tajam wajah gadis yang sudah tersipu malu hingga mengirimkan getaran yang mampu membuat degup jantung keduanya bergemuruh seirama. Menghentakkan dada dengan dentuman keras.


"Kamu menggodaku?" Ravka mengerling jahil seraya tersenyum smirk bak kriminal yang siap melaksanakan rencana jahatnya. "Apa kamu tahu, dari semalam suami mu ini sudah menahan diri untuk tidak melahapmu," imbuh Ravka lagi dengan hasrat bergejolak yang tidak ingin ia tutupi.


Alea seketika mendorong sang suami yang sedang tidak awas, sehingga memberi celah baginya untuk lari.


"Aku mau bersiap-siap, Mas. Sudah mau jam tiga. Kamu bilang kita akan pergi sebelum jam lima, nanti sore," teriak Alea sembari berlari memasuki kamar.


Ravka membiarkan istrinya melarikan diri seraya mengulas senyum kemenangan. Kemenangan tertunda yang akan ia raih sebentar lagi. Kali ini ia tak mau menahan diri. Dia hanya perlu bersabar, membiarkan Alea bersiap untuk melemparkan diri padanya. Pemuda itu sudah dapat menebak, bahwa setelah ini Alea pasti akan mandi sebelum bersiap-siap menuju makan malam romantis yang sudah ia persiapkan dengan matang.


Tak perlu lama menunggu, dari luar kamar, Ravka memandang liuk gemulai Alea berjalan menggunakan bathrobes berwarna putih bersih yang membalut tubuhnya dengan sempurna, tanpa sedikit celah yang memperlihatkan kulit mulus nan cantik gadis itu. Dengan segera Ravka menyembunyikan tubuhnya agar tak dapat dilihat oleh gadis yang membuatnya semakin menggila.


Alea menyalakan keran untuk menampung air di dalam bath up. Lalu menuangkan bubble bath yang beraroma menyegarkan seraya mengaduk lembut hingga menghasilkan busa yang memenuhi bath up. Gadis itu tampak menoleh ke kiri dan kanan sebelum melepas bathrobes dan membiarkan tubuhnya terekspos tanpa sehelai benang melekat disana. Dengan tergesa Alea menggantung bathrobes tersebut di kapstok yang menempel pada dinding di dekat bath up.


"Aw .... " jerit Alea kaget saat baru saja hendak memasukkan kaki ke dalam bath up.


********


"Al, cepatlah sedikit," omel Ravka tak sabar saat melihat gadis itu masih mematut diri di depan cermin.


"Jangan mengomel padaku, Mas. Salahin diri kamu sendiri. Aku sudah memperingatimu tadi," balas Alea sembari mendelik tajam.


Ravka tampak gusar melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengh lima lewat. Menejer restoran yang ia pesan, sudah mewanti-wanti agar Ravka sudah tiba disana sebelum pukul lima sore. Begitupula dengan Dimas yang sudah beberapa kali mengingatkan Ravka agar tidak terlambat tiba di restoran, supaya rencana yang sudah tersusun dengan rapi dapat berjalan lancar dan sempurna.


"Aku rasanya ingin memanggulmu dan membawamu keluar dengan segera," Ravka mendengkus seraya membuang muka menahan kesal.


Alea sama sekali tak menggubris suaminya yang memperlihatkan kekeselan dengan sangat gamblang. Ia masih memoles lipstik di bibir untuk menyempurnakan penampilannya.


"Buat aku ga masalah tuh, kalau kamu mau menggendongku," balas Alea santai seraya menaikkan kedua alisnya. "Setelah ini, ingatlah untuk bisa menempatkan diri agar tau waktu. Ada konsekuensi jika kamu tak mau mendengarkan ucapan istrimu sendiri." Alea meletakkan kedua tanggannya di pinggang setelah selesai memoles lipstik dan memastikan tak ada lagi yang terlewat dari penampilannya.


Tanpa berniat membalas ucapan sang istri, Ravka menarik tangan Alea. Membawa gadis yang tampak menawan itu agar segera berlalu dari kamar menuju restoran yang masih berada di dalam lingkup resort.


"Mas, kenapa harus buru-buru sih?" ucap Alea yang tertatih mengimbangi langkah cepat suaminya.


"Lagian makan malam kok sebelum jam lima sih Mas? Itu namanya petang bukan malam," sewot Alea kesal diajak berjalan cepat.


Mendengar istrinya tak berhenti menggerutu, membuat Ravka akhirnya melakukan apa yang sempat terlontar dari mulutnya.


"Mas, jangan gila kamu," teriak Alea saat Ravka benar-benar membopong gadis itu di bahunya.


Alea memukul pundak suaminya seraya tergelak melihat tingkah Ravka yang kesal karena celotehnya. Namun, gadis itu tak mendapat respon dari sang suami. Ia justru mendapati tatapan orang-orang yang menahan senyum saat berpapasan dengan mereka. Melihat itu, Alea akhirnya menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya menahan malu sembari terus tertawa geli.


*********************************************


oh ya ini request kak chubby yah.. maaf lupa, baru keinget mau nyelipin foto ini