
"Kak Farash?!" Alea memutar kursinya menghadap kepada laki-laki yang sudah berdiri tepat di belangnya.
Dengan gerakan kikuk ia meneruskan kegiatannya membereskan meja kerja dan merapihkan barang-barang yang akan ia bawa pulang.
"Mau bicara apa Kak?" tanya Alea seraya melemparkan senyum.
"Aku antar kamu pulang ya. Kita cari cafe atau tempat nongkrong yang enak untuk bicara,"
"Maaf Kak, aku ga bisa. Aku harus langsung pulang," jawab Alea terbata-bata.
Gadis itu bingung harus memberi alasan apa agar Farash bisa memahami situasinya. Ia hanya ingin segera pulang ke rumah saat ini. Mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya. Ia juga tak mau kalau sampai ada yang melihat dan kembali membuat gosip antara ia dan Farash. Ditambah ultimatum yang disampaikan Ravka terngiang di kepalanya.
"Memangnya ada perlu apa kamu buru-buru? Lagipula dari kemarin kamu selalu menghindar setiap kali aku mau mengantarmu pulang. Memangnya apa yang kamu sembunyikan sebenarnya?"
"Maaf Kak, aku belum bisa menjelaskannya sekarang sama kamu. Tapi aku janji, aku akan cari waktu yang tepat agar aku bisa bicara sama kamu," Alea kembali melemparkan senyuman hangat. Berharap dengan begitu Farash dapat memahaminya dan tidak lagi mendesaknya.
"Yasudah kalau begitu kita bicara disini saja. Kebetulan sudah tidak ada orang lagi di ruangan ini. Jadi tidak ada alasan untuk kamu tidak menjawab pertanyaanku,"
"Bisa kita bicara lain kali saja?" Alea mulai merasa tak nyaman dengan karena Farash terus mendesaknya.
Bagaimanapun akan sulit sekali meyakinkan pria itu kalau sampai ia tahu kejadian sebenarnya. Bisa jadi Farash akan murka dan menyalahkan kedua orang tuanya. Alea tak mau kalau sampai itu terjadi. Ia harus membicarakan masalah ini perlahan. Hanya saja, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Kepalanya sudah dipusingkan dengan keanehan Ravka hari ini.
"Tidak ada lain kali. Aku mau kamu menjawab pertanyaan ku sekarang," ucap Farash tegas. "Aku akan to the point saja. Ada hubungan apa kamu sama Pak Ravka?"
"Kakak kenapa tiba-tiba nanya gitu sih?"
"Al, sikap Pak Ravka ke kamu udah nunjukin kalau ada sesuatu diantara kalian,"
"Kak, aku mohon jangan bicarakan ini sekarang,"
"Al, aku perlu tahu ada hubungan apa kamu sama Pak Ravka? Apa kamu tahu bagaimana aku selalu berusaha agar bisa kembali ke Jakarta? Semua itu hanya demi kamu, Al," Farash mulai menaikkan nada suaranya yang terdengar hampir seperti putus asa.
"Kak...." Alea tak dapat meneruskan ucapannya. Ia bingung bagaimana menanggapi pria di hadapannya ini.
"Aku menyesali bertahun-tahun waktuku terbuang sia-sia tanpa kamu," sorot mata Farash menyiratkan penyesalan yang teramat dalam.
"Kak aku mohon berhentilah,"
"Kali ini kamu tidak bisa mengehentikan ku, Al. Sudah cukup aku berkorban menahan perasaanku padamu. Aku sudah mencobanya selama ini. Tapi semua itu sia-sia, aku masih mencintaimu," ungkap Farash dengan segenap perasaannya.
Alea terpaku ditempatnya. Hatinya bergetar hebat saat mendengar pengakuan Farash. Tak dipungkiri, dia juga sempat merasakan hal yang sama bertahun silam. Tapi ia menyadari posisinya dan menekan perasaan itu sedalam mungkin. Mencoba membuang jauh angannya. Sampai akhirnya ia bisa meyakinkan diri bahwa rasa cintanya pada Farash hanya sebatas cinta adik pada sang kakak. Tak lebih dari itu.
Akan tetapi, pengakuan Farash kali ini menggoyahkan hatinya. Membangkitkan kenangan lama yang tersimpan jauh di dalam sana. Membayangkan seandainya ini terjadi bertahun yang lalu, mungkin tak seperti ini jalan cerita hidupnya.
"Kak, kamu lupa? kita itu saudara. Cinta kamu sama aku tak bedanya seperti cinta kamu sama Kania. Aku...."
"Tapi kita ini bersaudara Kak. Itu kenapa Paman dan Bibi selalu berusaha menjauhi kita. Karena mereka tidak mau kalau sampai kita melewati batas,"
"Kamu tidak perlu lagi membela orang tua ku. Sejak awal mereka memang sudah tidak bersikap adil padamu. Lagipula tidak ada hubungan darah diantara kita yang bisa menghalangi aku untuk mencintai kamu. Orang tua kita hanya saudara tiri. Diantara mereka saja tidak ada hubungan darah, apa lagi kita. Jadi tidak ada salahnya aku mencintaimu," ungkap Farash dengan penuh keyakinan terpancar di kedua sorot matanya.
Sorot mata yang membuat Alea gamang. Baru kali ini Farash dengan beraninya mengatakan perasaannya secara gamblang. Dulu pernah sekali pemuda itu mencoba mengutarakan perasaannya secara tersirat. Namun, Alea menyadari posisinya dan mematahkan hati mereka berdua dengan penolakannya. Tapi kali ini Farash terlihat berbeda. Terlihat dewasa dan lebih yakin akan perasaannya sendiri.
"Maaf Kak, tapi aku tidak mencintaimu," jawab Alea dengan bibir bergetar.
"Aku tahu kamu bohong. Kania sudah mengatakannya padaku dari satu tahun yang lalu perasaanmu sesungguhnya. Itu sebabnya aku sekarang ada disini. Kembali ke Jakarta hanya untuk kamu,"
Tapi semua sudah tak lagi sama seperti setahun yang lalu Kak. Bagaimana aku harus mengatakannya padamu? - Alea hanya bisa menggigit bibirnya sebagai jawaban atas pernyataan Farash.
Perasaan gugup menyergapnya. Dia tak boleh hanyut pada bayang masa lalu. Semua tak lagi sama. Ia kini sudah menikah dan harus menjaga hati hanya untuk seseorang yang berhak mendapatkannya. Seseorang yang sudah sah secara agama untuk memiliki ia seutuhnya tanpa terbagi, termasuk hatinya.
Cukup lama mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sampai sebuah suara membuat Alea terlonjak kaget.
"Alea, sudah waktunya jam pulang kantor. Ayo kita pulang sekarang," ucap Ravka dengan penekanan pada setiap katanya.
"Tapi Mas, aku..."
"Aku bilang sekarang," ucap Ravka tegas membubgkam mulut Alea seketika.
Pemuda itu mengatupkan rahangnya, hingga giginya beradu di dalam sana. Sorot matanya menghujam tajam tepat kearah kedua bola mata Farash. Seolah serigala yang menandai daerah kekuasannya.
Ia melewati Farash begitu saja hingga menyenggol bahu lelaki itu. Ditariknya lengan Alea dan membawa gadis itu menjauh dari Farash. Alea segera menarik tasnya diatas meja dan mengikuti langkah Ravka. Gadis itu sempat menolehkan wajahnya hingga beradu pandang dengan Farash. Lirikan mata sendu sempat ditangkap oleh Alea menghiasi wajah pria yang pernah memporak porandakan hatinya. Sesungguhnya ia tak tega meninggalkan Farash begitu saja tanpa penjelasan. Akan tetapi Ravka tak memberinya kesempatan.
"Shhh...." Alea meringis saat genggaman tangan Ravka semakin kencang mencengkram lengannya.
Langkah pemuda itu yang lebar dan cepat, juga cukup membuat Alea kepayahan mengimbanginya. Sehingga tak ada jeda bagi Alea untuk memikirkan Farash yang masih mematung di tempatnya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ravka yang terus berjalan dengan aura kemarahan yang dapat menembus ke dalam hati Alea. Memgirimkan sinyal waspada dalam diri gadis itu.
**********************************************
Hallo readers ku tersayang.. salam muach... muach... buat kalian semua...
Btw jangan kendor yah like n komen nya.. biar authornya juga semangatnya ga kendor.. heheheeee.. like n koment tiap part dong 😍😍😍.. hehheee author banyak mau nya yah..
tapi ga maksa kok.. pokoknya kalian udah mau baca karya aku aja aku udah seneng banget..
btw kenapa Ravka dan Aleanya ga selalu ada tiap part karena emang gitu alur yang udah author susun.. sebelum nulis aku tuh usah nyusun alurnya sampe endingnya seperti apa.. nah udah gitu baru nulis merangkai kalimatnya yang rada susah.. isi kepalanya udah jauh kemana-mana.. tapi jari-jarinya yang belum lihai..
Dan satu lagi.. aku tu tipenya kalu nulis kayanya, alurnya emang lambat deh.. pengennya dibikin hanyut dulu sebelum sampai klimaksnya.. tapi kalau belum berhasil yah maklumin aja yah.. masih tahap belajar ini..
yasudah deh.. Happy reading aja yah.. see u later... luv u all