Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 118# Api dan Air


"Hei, kok bengong?" ucap pemuda itu seraya melambaikan tangannya dihadapan Alea. "Aku nyariin kamu tiap hari loh disini. Tapi ga pernah liat kamu. Kemana aja, Non?" lanjut pemuda itu sok akrab dengan Alea.


Pemuda yang tak diketahui namanya oleh Alea itu bersikap tak tahu malu sama sekali, membuat gadis itu mencetak kerutan di keningnya dengan sangat dalam.


"Maaf Mas, mungkin anda salah orang," ucap Alea singkat.


"Oh ayolah, masa mau kenalan aja ga boleh? Aku udah merhatiin kamu lama loh. Hampir dua bulan ini aku terus nyari kamu disini. Sekarang aku ga akan sia-siain kesempatan untuk bisa kenal sama kamu," desak pemuda itu dengan seringai lebar berusaha memikat hati Alea.


Pemuda tersebut memiliki paras lumayan tampan, hingga membuat ia jadi merasa percaya diri mendekati sosok cantik seperti Alea. Wajah natural Alea, membuat pemuda itu langsung terhipnotis dan berusaha mengejar gadis itu. Sayangnya Alea bukanlah tipikal perempuan yang mudah untuk didekati, hingga membuat Ia semakin penasaran.


"Maaf yah, Mas. Tapi disebelah sana masih ada kursi yang kosong. Disini sudah ada yang menempati," ucap Alea sarkas seraya menunjuk kursi di belakang Sandra.


"Dendi," ucap pria itu seraya menyodorkan tangannya ke hadapan Alea.


"Eh Mas, punya kuping ga sih? Apa budeg?" ucap Tiara dengan suara keras menarik perhatian dua pemuda yang tengah berbicata seriua di meja sebelah.


Sontak Ravka bangkit dari kursinya menatap tajam kearah pemuda yang duduk di sebelah Alea.


"Ada apa ini?" tanya Ravka seraya melemparkan tatapan tajam pada pemuda yang masih menampilkan seringai lebar di bibirnya.


"Sorry Man, ga ada apa-apa kok, santai," ucap pria yang mengaku bernama Dendi tersebut.


"Ga ada apa-apa gimana? Ya jelas ada apa-apa lah!" ucap Ravka seraya menghampiri Alea.


Ravka lantas berdiri di antara kursi Alea dan kursi Dendi. Dengan tubuhnya, Ravka menutupi istrinya dari pandangan lelaki itu seraya meletakkan satu tangannya diatas meja.


"Ada keperluan apa anda dengan istri saya?" tanya Ravka dengan sorot mata menabuhkan genderang perang.


"Anda suaminya?" tanya Pemuda itu seraya mencebik tak percaya.


"Kalau tidak ada yang penting, sebaiknya anda pergi dari sini sekarang juga," ucap Ravka seraya mengepalkan tangan.


"Kalau ada yang penting berarti boleh dong saya berbicara sama gadis manis yang anda akui sebagai istri anda?" ucap pemuda itu tak merasa terintimidasi dengan nada bicara Ravka yang penuh penekanan.


Ravka langsung mencengkram kaos yang Dendi kenakan. "Dengar, aku tidak perduli seberapa pentingnya urusan mu dengan istriku. Mulai sekarang sebaiknya jangan pernah tunjukkan batang hidung mu di hadapan kami. Atau kau akan berhadapan langsung dengan ku," Ravka melepaskan cengkraman tangannya pada kaos Dendi dengan kasar.


"Kau sepertinya orang yang cukup percaya diri dengan kemampuan mu. Tapi sayangnya, kau tidak bisa memperlakukan gadis dengan baik," ucap Dendi dengan nada suara tenang seraya mengibaskan kaos yang tadi disentuh oleh Ravka seolah jijik akan bekas tangan Ravka yang menempel disana.


"Jaga bicaramu," sergah Ravka tak sabar.


"Bukankah selama ini kau hanya menyia-nyiakan gadis cantik itu?" ucap Dendi seraya berushaa mencuri pandang wajah Alea dibalik tubuh Ravka. "Aku selalu melihat bagaimana dia selalu berlari di belakang mu setiap hari, hanya untuk kau tinggalkan begitu saja. Itu artinya kau tidak menginginkan kehadirannya bukan?! So, seharusnya tidak akan jadi masalah jika aku ingin mendekati dan mengenalnya lebih dalam."


Wajah Ravka memucat saat tak bisa membalas ucapan pria kurang ajar di hadapannya. Bagaimana tidak, apa yang diucapkan oleh lelaki itu benar sepenuhnya. Membangkitkan sesal yang selalu ia tekan sedalam mungkin di hati.


"Kau tidak tahu apa-apa. Jadi jangan sok tahu. Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu, jauhi istriku," ucap Ravķa seraya menuding wajah Lelaki itu dengan telunjuknya.


"Kita pulang sekarang, Al," ucap Ravka meraih tangan Alea dan menggenggamnya erat. "No, bereskan semuanya," lanjut Ravka seraya menggiring Alea segera berlalu dari hadapan lelaki itu.


"Oh, jadi namanya Al? Nama yang cantik, secantik orangnya," senyum Dendi puas bisa mengetahui nama gadis yang selalu memenuhi ruang mimpi.


Nino mematri wajah lelaki itu lamat-lamat ke dalam memori di kepalanya. Setidaknya ia harus punya kuda-kuda menghadapi lelaki ini kalau ternyata ia betul-betul nekad.


"Kalau mereka memang ditakdirkan untuk bersama, tentu mereka tak akan terpisahkan. Tapi kalau mereka memang tak berjodoh lagi, kau tidak bisa menyalahkan jodoh sejati yang menantinya," ucap pria itu lagi.


"Kau memang gila," balas Nino seraya berlalu menghampiri tukang bubur Ayam.


Setelah mebayar sejumlah uang pada tukang bubur ayam, Nino menghampiri Tiara dan Sandra yang sudah menunggunya untuk kembali ke rumah.


***********


"Siapa lelaki itu?" tanya Ravka kasar pada Alea saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Aku tidak kenal, Mas."


"Oh ya?! Tapi sepertinya ia justru mengenalmu dengan sangat baik." Gigi Ravka bergemeletuk dengan Rahang yang mengeras.


"Mas, mana mungkin dia bisa mengnalku dengan sangat baik? Bahkan namaku saja dia tidak tahu," ucap Alea mencoba bersabar mengjadapi kecemburuan sang suami.


"Tapi dari mana dia bisa tahu kalau aku pernah mengabaikanmu?" cecar Ravka lagi.


"Mas, semua orang yang punya mata bisa melihat bagaimana dulu sikapmu terhadapku," ucap Alea seraya menghela nafas.


"Jadi karena sikapku itu membuat siapapun jadi berhak mendekatimu, begitu?!"


Alea menghampiri sang suami, kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang pria terkasih yang sedang diliputi emosi membara. Alea membenamkan wajahnya pada dada bidang Ravka seraya berbisik lembut. "Mas, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk berhenti mendekatiku. Tapi aku sudah pasti, akan menjauhi pria manapun yang mendekatiku."


Ravka masih menggemertakkan giginya menahan deru nafas yang memburu. Alea mengangkat kepala, menatap Ravka dengan sorot mata penuh cinta. Hatinya diliputi kehangatan saat melihat kecemburuan nyata di wajah lelaki itu. Baru kali ini ia merasa begitu bahagia dicemburui oleh suaminya.


Di rengkuhnya wajah Ravka ke dalam genggaman tangan, lalu berjinjit berusaha menyejajarkan wajahnya dengan wajah lelaki itu. Alea agak menarik wajah Ravka mendekat padanya. Dengan ragu-ragu Alea mengecup bibir Ravka dan membiarkan bibir mereka saling menempel agak lama sebelum melepaskannya.


"Mas, aku hanya cinta sama suamiku. Seberapa banyak pria yang datang, tak akan membuatku berpaling dari kamu," ucap Alea dengan kesungguhan tercetak jelas di wajah.


Wajah tegang Ravka mengendur seketika, senyum tipis menggantikan kilatan emosi yang sudah mulai memudar. Ravka kemudian menatap wajah cantik di hadapannya. Wajah cantik dengan senyum tulus yang terurai di sana, mampu meluruhkan emosi yang menguasai jiwa.


"Maafkan aku Al, aku tidak bisa menguasai emosiku. Aku bahkan melampiaskan kekesalan ku padamu," ucap Ravka merasa bersalah.


"Itulah fungsinya suami dan istri, Mas. Ketika aku menjadi api, kamu yang akan menjadi air. Saat ini aku ingin menjadi es yang mendinginkan hatimu yang tengah panas. Selama kita saling percaya dan menjaga kepercayaan itu, semua pasti akan baik-baik saja. Tak akan ada seorangpun yang mampu menjadi orang ketiga dalam hubungan kita," ucap Alea sembari mengembangkan senyum yang menghangatkan hati Ravka.


Ravka merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya sebelum melabuhkan bibirnya pada setiap sudut wajah istrinya. Mulai dari Dahi, berpindah ke mata kanan dan kiri, kemudian turun ke hidung, lalu menyentuh pipi kanan dan kiri sampai akhirnya ia menyecap bibir gadis itu dengan sepenuh hati.


**********************************************


boleh intip karya yang ini juga yah. siapa tau suka...