
"Gue ingetin lu sekali lagi selagi gue masih kasih kesempatan sama lu. Lepasin Alea, atau kalau ga, gue bakalan bikin lu nyesel seumur hidup lu," ucap Ravka mulai tak sabaran.
Pemuda itu sudah tak tahan melihat perlakuan Rama pada istrinya. Ia sudah mulai gusar dan kehilangan kesabaran. Namun, Ravka masih menahan emosinya ketika melihat seseorang sudah hampir mendekati Rama dari arah belakang. Rama yang semakin menyeret Alea maju mendekati Ravka tak menyadari bahwa ada seorang petugas keamanan melangkah perlahan dari belakang pemuda itu.
"Ga semudah itu gue ngelepasin kalian. Menghiba dan merangkaklah ke kaki gue kalau mau jal*ng lu ini selamet," ucap Rama beringas.
"Apa lu sadar apa yang lu lakuin sekarang? Seteleh ini lu ga akan bisa kabur dan melarikan diri," ucap Ravka masih mencoba mengulur waktu.
"Peduli setan dengan semuanya. Hidup gue udah kepalang hancur. Biar sekalian kita hancur bareng-bareng," jerit Rama mulai hilang kendali. "Sepertinya lu kira gue ga serius. Oke, lu akan lihat seberapa seriusnya gue. Akan gue kasih kenang-kenangan di wajah cantik jal*ng lu ini. Biar seumur hidup lu akan inget dengan kesombongan lu sendiri," ucapan Rama membuat jantung Ravka seakan mau lepas dari tempatnya.
Tepat saat Rama mengarahkan belati ke wajah Alea, pukulan telak mengenai bahu kanan Rama. Membuat belati yang ditangannya terpelanting jatuh. Sayangnya ujung belati itu sempat menggores pipi kanan Alea.
"Akh .... " pekik Alea seraya memegang pipinya yang mulai meneteskan darah.
"Alea .... " Vika, Sasya, Irma dan Firda ikut menjerit kaget.
Sasya bahkan memalingkan wajahnya di balik tubuh Irma. Ia begitu ketakutan melihat belati yang mengarah ke wajah Alea. Tangis Sasya semakin menjadi-jadi. Vika bahkan membuka mulutnya spontan hingga menganga lebar lantaran begitu syok menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya. Sementara Firda ikut menahan napas saat pekikan Alea mengirimkan rasa sakit di jantungnya.
Secepat kilat Ravka maju ke depan menarik lengan Alea menjauhi Rama dan mendekap gadisnya erat. Di peluknya erat Alea dengan jantung yang masih berdebar kencang.
"Dasar baj*ngan. Gue ga akan ngelepasin lu," Desis Ravka masih memeluk Alea erat.
"No, bawa Alea ke Rumah Sakit sekarang," ucap Ravka dengan mata merah penuh kilatan amarah, menatap Rama yang sudah tak berdaya dibawah kungkungan petugas keamanan.
Dengan mudahnya petugas keamanan meringkus Rama. Meski pemuda itu bertubuh besar dan tegap, tapi ia tak berdaya menghadapi beberapa petugas keamanan sekaligus. Saat ini ia dipaksa berlutut dengan kedua tangan ditarik kebelakang oleh salah seorang petugas keamanan berpakaian casual.
"Dokter sedang menuju kemari, seharusnya tidak lama lagi dokter sudah sampai. Sebaiknya Alea ditangani disini terlebih dahulu baru kita membawanya ke Rumah Sakit," ucap Nino lugas.
Ravka melepaskan sedikit pelukannya pada tubuh Alea. Mengangkat dagu Alea dan menatap wajah istrinya yang tampak sayu. Ravka meraih sapu tangan di saku nya. Menyisir halus leher jenjang Alea yang terluka dengan sapu tangan itu. Alea terlihat berjengit menahan perih. Menghadirkan perih serupa di jantung Ravka. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada wajah Alea. Disingkirkannya tangan gadis itu yang menutupi wajahnya yang terkena sayatan belati. Diusapnya perlahan pipi cantik istrinya itu yang dipenuhi noda darah. Ia kemudian meraih tangan Alea, membawa tangan itu untuk memegang sapu tangan yang ia tempelkan di pipi Alea.
"Kamu tunggu sebentar disini," bisik Ravka di telinga Alea.
Kekhawatiran masih menggelayut di hati Ravka akan kondisi istrinya. Namun, kemarahan juga sudah tak dapat lagi dibendung pemuda itu. Ia melepas pelukannya pada Alea perlahan. Menggeserkan tubuh mungil yang sedang bergetar itu kepada teman-teman Alea.
"Tolong jaga Alea," ucap Ravka pada Vika.
Perlahan tapi pasti, pemuda itu menghampiri Rama yang sudah tak berdaya. Diraihnya kerah baju pemuda yang masih memasang tampang menantang.
"Lepaskan baj*ngan ini," titah Ravka pada petugas keamanan yang masih memiting Rama. "Apapun yang terjadi tak seorang pun diantara kalian yang boleh ikut campur antara saya dengan baj*ngan ini," imbuh Ravka lagi.
Seringai lebar menghiasi wajah Rama. Ia tak menduga lelaki itu begitu mudah diprovokasi. Rama memiliki tubuh bugar dengan otot kuat yang terlatih. Dengan rasa percaya diri, Rama membayangkan akan dengan mudah menghajar Ravka. Namun, khayalan Rama tinggalah angan semata.
Sesaat setelah Petugas keamanan melepaskan pitingannya pada tubuh Rama, Ravka langsung melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh. Membuat tubuh Rama limbung menyentuh lantai. Belum sempat Rama bangkit dari jatuhnya, Ravka kembali menghantamkkan tinjunya pada wajah Rama hingga beberapa kali. Tak cukup sampai disitu, saat Rama seolah tak lagi mampu bangkit berdiri, Ravka menendang perut pemuda itu dengan pantofel yang melekat dikakinya. Satu, dua tendangan tak membuat hati Ravka puas. Ia terus menghajar Rama meski pemuda itu sudah mengaduh memohon ampun sembari memegang perutnya yang sudah kesakitan. Darah mengucur dari bibir Rama yang robek, pelipis dan juga hidungnya. Wajahnya sudah terlihat babak belur. Namun, tak seorangpun di tempat itu ada yang berani melerai Ravka.
"Pak, kenapa diam saja? Hentikan Mas Ravka. Kalau tidak Rama bisa meninggal," ucap Alea panik pada salah seorang petugas keamanan di dekatnya.
"Maaf bu, kami tidak berani," ucap petugas keamanan itu yang diangguki oleh rekannya yang lain.
Semua orang di ruangan itu mengernyit takut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ravka. Pemuda itu seolah kesetanan menghajar Rama membabi buta.
"No .... Lakukan sesuatu No," ucap Alea semakin panik.
Nino segera menghambur menghentikan Ravka. Menarik pemuda itu menjauhi Rama. Namun, Ravka sudah tak dapat dihentikan lagi.
"Lepasin gue," seru Ravka seraya mendorong tubuh Nino.
"Mas aku mohon berhentilah," Jerit Alea ketika melihat Ravka mendekati Rama kembali.
Ravka menghentikan langkahnya ketika mendengar jeritan Alea. Ia kemudian membalikkan tubuhnya. Memperhatikan Alea yang sudah menghamburkan air mata. Dihampirinya gadis itu dan dibawanya Alea ke dalam rengkuhannya.
"Aku tidak mau kamu jadi pembunuh, Mas. Hentikan Mas, aku mohon," isak Alea di balik dada suaminya.
"Maaf sayang, aku minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol emosiku dan membuatmu ketakutan. Maaf sudah membuatmu melihatku yang seperti ini," ucap Ravka seraya membenamkan bibirnya di puncak kepala Alea.
Ravka kemudian mendararkan kedua telapak tangannya di wajah Alea. Menangkup kedua pipi gadis itu dan mengusap air mata yang masih mengalir deras. Pun dengan hidungnya yang juga mengalir air. Tanpa rasa jijik Ravka mengelap hidung Alea dengan punggung tangannya. Ravka kemudian menyapukan bibirnya pada dahi Alea, lalu mencium pipi gadis itu yang masih ditempeli dengan sapu tangan yang tadi ia berikan.
"Maaf sayang, maaf .... " ucap Ravka sekali lagi.
**********************************************
Doa kan daku tak ada halangan malam ini buat up satu part lagih... tapi ga janji yah... diusahakan...