
Duh .... kenapa aku sampe lupa sih? - Rutuk Alea dalam hati seraya menekan lift menuju lantai dua puluh delapan.
Sejak tadi pagi pikiran Alea disibukkan angka-angka manipulatif yang dia buat bersama Vika. Setelah mendapat kesempatan ia langsung mendatangi Farash, hingga melupakan permintaan Ravka untuk selalu meluangkan waktu makan siang dengannya ketika ia sedang berada di kantor. Alea benar-benar melupakan Ravka tadi.
Gadis itu terus merutuki kebodohannya sampai ia tiba di lantai tempat ruang kerja suaminya berada. Ia melirik jam dipergelangan tangan yang menunjukan masih ada sisa waktu untuk makan siang bersama. Bergegas ia menghampiri meja Bella sekretaris Ravka. Ada perasaan canggung saat hendak menanyakan keberadaam Ravka, tapi ia juga tak mungkin langsung menyelonong masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
"Maaf Mba, Mas Ravka ada di dalam?" tanya Alea membuat Bella menengadahkan kepala dari burger yang tengah dinikmatinya.
Kesibukan hari ini membuat Bella sedari tadi tak sempat meluangkan waktu makan siang di luar kantor. Jadilah ia hanya meminta OB kantor membelikan makanan ringan yang mengenyangkan untuk perutnya. Bella menyelisik Alea dengan seksama lantaran gadis dihadapannya itu memanggil atasannya dengan sebutan Mas.
"Pak Ravka ada di dalam. Ada perlu apa Mbak?" tanya Bella masih sambil menautkan alisnya penuh tanya akan sosok Alea.
"Aku mau ketemu," ucap Alea singkat.
"Maaf Mbak, untuk sekarang Pak Ravka tidak bisa ditemui. Dia baru saja menerima tamu dan minta untuk tidak diganggu selama tamunya masih ada di dalam," jelas Bella.
"Yaudah deh Mbak kalau begitu. Makasih yah," Alea memaksakan senyum menutupi kekecewaannya.
"Ada yang perlu saya sampaikan kepada Pak Ravka?" tanya Bella lagi.
"Ga usah deh Mbak, ga apa-apa," ucap Alea seraya berlalu dari hadapan Bella.
Bella hanya mengedikkan bahu tak acuh pada Alea yang berlalu pergi dari hadapannya.
Sementara Alea memasuki lift dengan langkah gontai. Semangatnya seolah luruh ditelan rasa bersalah karena sudah melupakan Ravka. Hatinya berkecamuk, merasa khawatir Ravka kecewa dan marah. Dihelanya nafas perlahan mengembalikan suasana hati agar lebih baik.
"Loh Al? kamu udah balik?" tanya Vika heran lantaran Alea baru saja meninggalkan meja kerjanya dengan berlari, tapi sekarang gadis itu kembali dengan tertunduk lesu.
Vika memperhatikan Alea seksama, melihat bagaimana gadis itu seperti kehilangan semangatnya. Pikiran Vika sudah berlarian kemana-mana. Membayangkan Alea terkena masalah di kantor. Sejak tadi Vika merasa heran, apa yang telah dilakukan Alea hingga ia sampai diminta menghadap Direktur Operasional. Tak mungkin rasanya, bolos kerja tiga hari sampai diminta menghadap seorang Direktur.
"Lu ga apa-apa, Al?" tanya Vika khawatir saat tak mendapat respon dari Alea.
Alea hanya menggelengkan kepalanya lemah. Gadis itu menduduki kursinya dengan lunglai.
"Al, lu beneran ga apa-apa kan?" tanya Vika memastikan keadaan gadis dihadapannya yang masih tertunduk lesu. "Emang tadi diapain sama Pak Ravka?" tanya Vika lagi.
"Ga ketemu sama orangnya, kata sekretarisnya dia sedang nerima tamu,"
"Syukurlah kalau begitu, seenggaknya lu masih ada kesempatan mempersiapkan diri menghadapi big boss," ucap Vika menghembuskan nafas lega. "Eh, tapi lu tau ga bikin salah apa sampai dipanggil keruangan Pak Ravka?"
Dihadapkan pertanyaan seperti itu, Alea jadi bingung sendiri. Ia tentu saja tahu kenapa ia sampai dipanggil kesana. Karena ia melewatkan jam makan siang bersama suaminya itu. Akan tetapi, tak ada yang tahu status ia dan Ravka. Membuat hati kecil Alea menciut. Baru kali ini ia merasa ingin diakui sebagai istri oleh Ravka.
Padahal sebelumnya ia merasa bersyukur tak ada yang tahu tentang statusnya itu. Namun, semakin hari perasaannya semakin menuntut lebih dari apa yang ia dapatkan. Kedekatannya degan Ravka akhir-akhir ini menimbulkan sisi posesifnya sebagai seorang istri.
"Udah ga usah dipikirin. Lu kerja aja sebaik mungkin, pasti semua masalah bisa terlewati," nasehat Vika saat melihat Alea masih asik dengan kebisuannya.
Vika berpikir sikap Alea tersebut lantaran shock diminta menghadap salah satu direktur di BeTrust, membuat wanita itu merasa prihatin dengan Alea.
Alea meneruskan pekerjaannya dengan tak bersemangat. Kepalanya terus memikirkan suaminya. Perasaan khawatir akan kemarahan dan kekecewaan Ravka terus berkelabat dibenaknya. Menghadirkan segala gundah dihati Alea. Ditambah tak sekalipun Ravka menghubungi Alea, membuat hati Gadis itu semakin tak karuan.
Alea akhirnya menarik nafas panjang, kemudian menyalakan komputernya untuk memulai pekerjaan yang sudah ia tinggal selama tiga hari kemarin. Berkutat dengan data-data yang harus dirampungkan cukup mengalihkan perhatian Alea dari memikirkan Ravka, hingga ia tenggelam dalam keasikan menarikan jemarinya di tools komputer.
"Al, lu masih banyak kerjaan? gue bantuin sini," sapa Vika mengusik konsentrasi Alea.
"Ga kok Mbak, tinggal dikit," ucap Alea mengangkat kepalanya dari layar komputer di hadapannya.
"Yakin ga mau dibantu?" tanya Vika memastikan yang dibalas gelengan kepala oleh Alea sembari tersenyum.
"Yowes, gue minta jemput suami gue sekarang kalau gitu," ucap Vika seraya meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi suaminya.
Alea kembali menenggelamkan diri dengan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit. Tak lama ia sudah merapikan meja kerjanya dan menyimpan barang-barangnya.
"Al, lu lembur hari ini?" tanya Vika membuyarkan lamunan Alea.
"Ga kok Mbak, ini udah kelar. Paling ada beberapa aja yang belum selesai. Tapi besok juga bisa kok ngelanjutinnya,"
"Yaudah kalau begitu kita pulang yuk,"
"Duluan deh Mbak. Aku masih nunggu suami aku dulu nih. Belum kasih kabar pulang bareng apa enggaknya,"
"Yaudah gue turun duluan deh kalau begitu, mau nungguin jemputan di lobi aja. Ga mau ikut turun bareng nih?" tanya Vika lagi.
Lagi-lagi Alea menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Vika. Pikirannya kembali dipenuhi oleh Ravka yang tak memberi kabar seharian ini membuat gadis itu kembali kehilangan asa.
Sepeninggalan Vika, Alea menelungkupkan kepalanya diatas meja kerja. Sebuah notifikasi di layar ponselnya membuat Alea menegakkan tubuh dengan segera. Penuh semangat ia membuka pesan dari Ravka. Namun, suaminya itu malah menyuruhnya pulang ke rumah sendiri menggunakan taxi. Membuat semua semangat yang dimiliki menguap diseret matahari yang mulai beranjak ke peraduannya. Gadis itu memang rapuh hatinya dan gampang terbawa perasaan. Membuat ia tak bisa mengenyahkan pikiran akan Ravka yang mungkin menelan kekecewaan padanya. Tak bersemangat Alea turun ke loby kantor dan berniat mencari taxi di depan gedung kantor.
"Mbak Vika, kok masih disini?" tanya Alea yang melihat Vika tengah berdiri di depan meja keamanan gedung di loby gedung BeTrust.
"Suami aku tadi kejebak macet deket kantornya. Mungkin bentar lagi nyampe. Kamu udah dijemput?"
"Disuruh pulang naek taksi sama suamiku," ucap Alea mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah yuk aku temenin nyari taksi di depan," tawar Vika.
"Makasih yah Mbak," ucap Alea dengan senyum sumringah.
Alea memang tengah butuh teman ngobrol agar dapat mengalihkan pikirannya dari sang suami. Mereka berbincang sembari berjalan keluar area komplek perkantoran BeTrust.
Saat ini memang tengah jam sibuk di pusat kota, sehingga sulit sekali mendapatkan taksi yang tidak berpenumpang. Cukup lama mereka menunggu di pinggir jalan, hingga sebuah mobil menepi di depan kedua perempuan yang tengah asik mengobrol santai.
Vika menaikkan kedua alisnya, mengaduk memori di kepala saat melihat mobil yang berhenti tepat dihadapan mereka. Dia seperti mengenal mobil tersebut, tapi ingatan akan mobil itu terselip di bagian terdalam cerebrum-nya.
"Al, kok kamu belum pulang?" tanya Ravka yang sudah berdiri tepat disamping Alea dan Vika.
"Lagi nungguin taksi, Mas,"
"Yaudah ikut aku aja. Tapi aku ga langsung pulang, aku masih ada janji temu sama seseorang," ucap Ravka.
"Yaudah ga apa-apa Mas, aku ikut," senyum cerah menghiasi wajah Alea.
Ravka kemudian beranjak ke sisi mobilnya. Membukakan pintu untuk Alea.
"Mbak, aku duluan yah. Ga jadi naek taksi," ucap Alea dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
Belum sempat Vika menjawab, sebuah klakson mobil mengagetkannya. Ia melihat mobil suaminya sudah berhenti tepat di belakang mobil Ravka.
"Eh iya, hati-hati Al," ucap Vika menelan kembali pertanyaan yang hendak dilontarkannya.
Setelah Alea memasuki mobil, Ravka menutup pintu sisi penumpang. Ia sempat melemparkan senyum pada Vika sebelum memutar menuju sisi pintu mobil untuk pengemudi.
Vika berjalan menghampiri mobil yang dikendarai suaminya dengan kerut di keningnya. Kepalanya mulai menyatukan puzzle-puzzle gambaran sosok Alea di kantor beberapa minggu belakangan.