
Alex membuka file yang baru saja dilemparkan Ravka di hadapannya. Wajahnya kian memucat seiring dengan lembar berganti lembar yang sudah ia baca. Pria itu sekali lagi memeriksa dengan teliti tinta yang tergores diatas tumpukan kertas putih tersebut. Begitu pula dengan beberapa lembar foto yang membuat matanya kian membulat terperangah.
Mulut Alex gagu, seolah lidah di dalamnya menjadi kelu. Hingga ia tak mampu berucap barang sepatah kata. Tenggorokannyapun seolah mengering seketika. Bahkan ia tak mampu menelan ludahnya sendiri.
"I-ini .... Ini tidak mungkin Rav," akhirnya ia dapat meloloskan suara melalui batang tenggorokannya dengan terbata, setelah lama teredam dalam diam.
"Apanya yang tidak mungkin Mas? kau kaget aku bisa menemukan bukti segala kecuranganmu?" desis Ravka menahan murka seraya bersedekap di hadapan Alex.
"Ta-tapi ini .... ini benar-benar tidak mungkin," gumam Alex lebih kepada dirinya sendiri.
Pemuda itu sungguh-sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Banyak sekali ketidak sesuaian antara akta notaris pendirian perusahaan dengan SIUP perusahaan tersebut. Tak harus lulus perguruan tinggi jurusan hukum untuk menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan pendirian perusahaan yang sedang dibelanya. Bahkan dengan sangat jelas ia dapat menangkap bahwa pendirian perusahaan tersebut sangat tergesa-gesa. Belum lagi foto-foto kantor yang sama sekali tak mencerminkan adanya kegiatan perkantoran aktif. Bahkan IMB kantor tersebut bukanlah izin untuk mendirikan sebuah tempat usaha, melainkan tempat tinggal pribadi.
Bagaimana mungin selama ini ia tak pernah mencari tahu mengenaiboerusahaan itu, bahkan untuk hal sekecil ini. Tak salah bila Ravka menuduhnya mendirikan perusahaan fiktif untuk mencurangi perusahaan milik keluarganya. Namun, apakah sepicik itu dirinya di mata Ravka?
Sementara Erika tampak syok menyaksikan reaksi Alex seperti orang yang tersudut dan merasa bersalah. Erika menarik paksa dokumen dari tangan Alex dan memeriksa dengan mata kepalanya sendiri, apa yang tertera di dalam lembaran-lembaran kertas itu.
"Hanya dengan ini kamu mengira aku berniat menghancurkan perusahaan? Apa di mata mu aku sama sekali bukan bagian dari keluarga ini, hingga kamu bisa menuduhku sekeji itu?" Alex menatap Ravka yang masih berdiri tak jauh dari posisi duduknya dwngan tatapan nanar.
Ia tak punya bukti mengelak dari tuduhan Ravka. Justru kesalahannya lah yang sudah melewati detail kecil tapi sangat fatal, hanya demi menyenangkan istrinya. Namun, apa pantas ia dihakimi sedemikian rupa?
"Aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu Mas? Apa kamu sama sekali tak menganggap hubungan kekeluargaan diantara kita. Darah yang mengalir di tubuh kita itu berasal dari darah yang sama. Hubungan darah kita sangat kental, tapi mengapa kamu begitu tega mau menghancurkan perusahaan keluargamu sendiri?"
"Hhhhh .... " Alex tersenyum kecut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ravka.
Tak menyangka bahwa Ravka bisa selantang itu menuduhnya dihadapan orang tua dan kakek mereka.
"Aku memang meminta bagian analys memalsukan data demi membantu perusahaan kenalanku. Tapi aku sungguh tak pernah berniat mengahancurkan perusahaan keluarga," ucap Alex dengan mata nyalang.
Ia benar-benar tak terima dituduh seperti itu oleh adik sepupu yang tumbuh dalam satu atap yang sama semenjak mereka remaja. Meski mereka tak pernah dekat layaknya saudara, bukan berarti selama ini ia abai terhadap keluarganya.
"Lagipula, Dinata Group adalah perusahaan yang besar. Perusahaan ini tak akan hancur dalam sekejap hanya karena bekerjasama dengan perusahaan yang kamu katakan fiktif," ucap Alex meragu.
Ia sendiri tak menyangka bahwa perusahaan yang disodorkan oleh Sherly adalah perusahaan yang bisa dikatakan sebagai perusahaan ilegal. Atau sesungguhnya perusahaan itu hanyalah perusahaan fiktif? pikiran Alex mulai berkelana.
Ia harus menanyakan langsung kebenarannya pada Sherly secepatnya.
"Perusahaan memang tidak akan hancur dalam sekejap hanya dengan bekerjasama dengan perusahaan fiktif buatanmu," bibir Ravka menyunggingkan senyum miring. "tapi hancur karena serangkaian rencana busukmu."
"Hentikan omong kosong mu Ravka," sentak Alex mulai tak dapat menahan diri.
"Kamu yang harusnya hentikan segala sandiwaramu Mas. Sebaiknya kamu mengakuinya, sebelum aku membeberkan segala kebusukanmu lebih detail."
Alex seketika bangkit dari duduknya. Tangannya terkepal dengan emosi menyelubungi seluruh jiwa.
"Cukup Alex. Kakek tidak mau ada baku hantam di ruangan ini," Hampir saja Alex melayangkan tinjunya pada Ravka jika saja Kakek Bayu tak bersuara menghentikan tindakan Alex.
"Ravka sudah keterlakuan kek," sergah Alex dengan jeritan tertahan.
"Aku bicara seperti ini punya bukti Mas," ketus Alex dengan suara tak kalah melengking.
Ravka berbalik badan berjalan menuju lemari kayu jati berukir rumit yang terletak di sudut ruangan. Ravka kemudian membuka pintu kaca lemari tersebut dan mengambil dua buah map berisi berkas yang keliahatan lebih tebal dari map yang sebelumnya sudah ia berikan pada Alex. Pemuda itu kemudian berjalan berbalik arah menuju kakak sepupunya yang masih berdiri dengan nafas terengah-engah menahan segala emosi yang sudah membuncah di dada.
"Lihat ini," ucap Ravka seraya menyentakkan dua buah map tersebut ke dada Alex yang diterima kakak sepupunya itu dengan gelagapan.
Alex meletakkan salah satu map tersebut di atas meja yang langsung disambar oleh Derry yang juga sudah sangat penasaran, kemana persoalan ini bermuara. Alex dengan segera menghenyakkan tubuhnya kembali ke atas sofa agar memudahkannya memeriksa berkas yang diberikan oleh Ravka.
Matanya semakin nyalang melihat angka demi angka yang tertera di dalam berkas tersebut. Tenggorokannya tercekat setiap kali melihat tanda tangan yang di bubuhkan di setiap lembar kertas tersebut. Wajahnya merah padam seakan tak terima dengan segala goresan tinta yang ditangkap oleh indra penglihatannya. Pun dengan Derry yang duduk diseberangnya membelalakkan mata melihat apa yang sudah tersuguhkan dihadapannya. Tatapannya saling lempar pada Dilla yang semakin memperdalam kerutan di dahi.
Sementara Erika seolah lunglai tak bertenaga saat ia turut memelototkan matanya pada apa yang sedang dilihat oleh Alex. Angka-angka fantastis yang cukup membuat setiap orang dalam ruangan itu berpikiran negatif pada putra semata wayangnya.
Setelah selesai dengan satu berkas ditangannya, Alex meraih satu lagi map yang sudah lebih dulu diletakkan oleh Derry setelah selesai melihatnya. Tangan Alex bergetar saat ia mulai membuka file tersebut. Entah informasi seperti apalagi yang sedang bersiap menyambutnya. Ia tak dapat menerka apa yang lebih parah dari segala informasi yang baru saja ditangkapnya dari satu bundel berkas yang ia telah ia baca terlebih dahulu.
"Apa ada penjelasan yang masuk akal atas semua yang sudah terjadi, Alex?" suara Kakek Bayu memecah kesunyian yang timbul setelah semua orang di dalam ruangan hanyut dalam diam.