Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 47# Gamang


"Bagaimana Kakek? Apa keadaan perempuan itu sudah membaik?" tanya Ravka kepada pria yang sudah cukup berumur dihadapannya.


"Menurut Dokter Ares kondisinya sudah jauh lebih baik. Kakek rasa sudah saatnya kita mempertemukan mereka," ucap pria yang sudah uzur tersebut membuat Ravka tersentak.


Akhir-akhir ini Ravka sudah menyerah pada hatinya. Ia tak lagi berkeras untuk menolak kehadiran gadis yang membuatnya begitu terpesona. Selama ini ia selalu berusaha menyangkalnya, membentengi diri dengan rasa benci dan dendam yang membaur menjadi satu dalam jiwa. Akan tetapi, kepolosan dan ketulusan gadis itu menghadirkan kegamangan dalam diri Ravka hingga ia tak menyadari entah sejak kapan, gadis itu menancapkan eksistensinya dalam hati Ravka. Ia tak dapat menampik bahwa gadis itu sudah menyentuh hatinya, menyelusup kesana hingga membuat Ravka frustasi.


Sudah satu minggu belakangan Ravka menikmati kedekatan mereka. Ada saja yang ia lakukan agar Alea selalu berada dalam radar pandangannya. Ravka bahkan rela membatalkan semua pertemuan bisnis saat jam makan siang, hanya demi bisa menikmati kebersamaan dengan gadis itu di ruangannya.


"Apa menurut Kakek, ini waktu yang tepat?" tanya Ravka tak yakin.


Ia masih ingin menikmati kebersamaan dengan Alea. Namun, jika apa yang dia takutkan selama ini terbukti, tentu akan mengubah semua jalan cerita hidupnya dengan gadis ayu yang menghiasi harinya. Tapi ia juga tak bisa mengulur waktu lebih lama. Ia tak mungkin terus berada dalam kegelisahan tiada tara. Antara mengikuti kata hati atau logika.


"Kakek rasa ini saat yang tepat. Semakin kita menemukan sedikit saja titik terang, kita akan semakin cepat menyelesaikan masalah ini," ucap Bayu yang tampak memahami apa yang menjadi kegelisahan cucu kebanggaannya itu.


"Aku rasa Kakek benar. Semakin lama kita mengungkap kasus ini, maka akan semakin menjadi benang kusut yang akan sulit terurai," ucap Ravka memasrahkan hatinya.


Ia harus menyiapkan diri dengan segala kemungkinam terburuk yang terjadi. Toh ia sudah pernah meraskaan hancur satu kali, saat Sherly tak mempercayainya dan memutuskan untuk menikahi kakaknya sendiri. Namun hingga saat ini ia masih baik-baik saja, bahkan jauh lebih bahagia. Ia mencintai Sherly, tapi selalu merasa risih dengan sikap manja dan kekanak-kanakan wanita itu. Belum lagi dengan sifatnya yang suka mengatur. Sangat berbeda saat ia bersama Alea. Gadis itu mampu menyejukkan hati dan membuatnya nyaman. Hingga ia tak menyadari, hatinya sudah dipenuhi oleh gadis yang kini menjadi istrinya. Namun, ia tak bisa memperlihatkan isi hati yang sebenarnya, hingga ia memastikan sesuatu dengan mata dan kepalanya sendiri. Tapi apakah kali ini ia bisa mengatasinya, jika semua tak berjalan seauai kehendak hati?


"Kau bawalah dia kemari. Saat ini Dokter Ares sedang membawa gadis itu menuju kesini. Kakek rasa tak lama lagi mereka akan tiba," ucap Kakeknya membuat Ravka kembali tersentak pada kenyataan.


Ia seolah antara siap dan tidak akan tibanya hari ini. Namun, tak urung Ravka mengiyakan perintah Kakeknya. Ia meninggalkan ruang kerja Bayu dengan langkah gontai. Mempersiapkan hati dengan segala kemungkinan yang akan terjadi hari ini.


******


"Mas, kamu dari mana? Aku sudah siapkan air untuk kamu mandi, aku rasa airnya sudah mulai dingin. Kamu mandilah cepat, aku akan siapkan makan malam," celoteh riang Alea.


Alea sudah tak lagi merasa takut saat berbicara dengan suaminya. Ia merasa sikap Ravka akhir-akhir ini sudah mulai menghangat. Menularkan kehangatan serupa dalam hatinya.


"Tunggu Al," Ravka menggenggam tangan Alea. Menghentikan gerakan gadis itu yang hendak melangkah keluar kamar.


Dibaliknya tubuh Alea menghadap kepadanya. Dia menatap tajam wajah cantik yang melebarkan senyum dihadapannya. Ravka kembali gamang, menatap tajam mata jernih yang sedang balas menatapnya. Mencari kebenaran kedalam mata itu. Ia pernah mendengar, bahwa mata adalah jendela jiwa. Kamu bisa berbohong, tapi matamu tidak.


Ravka menatap Alea dengan seksama. Apakah gadis sepolos ini hanya sedang memainkan sebuah drama? Kalaupun iya, tentu dia akan sukses besar menjadi seorang artis peran. Tapi binar di salam mata Alea membuat Ravka meyakini bahwa istrinya ini tak sekalipun mengenakan topeng kepalsuan. Bahkan kini pipinya sudah dipenuhi rona merah muda saat ia menatapnya semakin intens. Rasanya tak mungkin kalau rona merah muda yang menjalar di pipinya hanya sebuah kepalsuan belaka. Ravka mengangkat tangannya, menyibak rambut yang jatuh di pipi Alea, menyelipkannya dibalik telinga. Lalu menangkup pipi istrinya dengan telapak tangan. Perlahan, Ravka mengusap rona di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Mengirimkan gelenyar pada Alea hingga membuat gadis cantik itu semakin tersipu malu.


"Mas, ka-kamu kenapa?" tanya Alea serak menutupi kegugupannya saat melihat raut wajah Ravka yang dipenuhi ekspresi tak terbaca.


"Kamu kenapa tidak nafsu makan? Apa ada masalah di kantor?" tanya Alea ragu.


Gadis itu masih menata hatinya dari keterkejutan atas tindakan Ravka barusan. Dadanya naik turun dengan cepat menahan debaran jantung yang semakin bergelora.


"Tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya malas makan saja," Ravka berucap seraya menyunggingkan senyum tertahan. "Oia, Kakek ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kamu makanlah, saat aku mandi. Setelah itu kita akan temui Kakek bersama," seru Ravka sebelum menghilang ke dalam kamar mandi.


Alea menatap pintu kamar mandi yang menutup. Ia memegang pipinya yang disentuh oleh Ravka. Menerbitkan senyum yang mengembang seirama detak jantung yang semakin menghentakkan simfoni ceria. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan berguling-guling disana sambil senyum-senyum sendiri. Nafsu makannya juga menguap entah kemana. Ia lebih memilih menunggu Ravka selesai mandi di dalam kamar.


Cukup lama Ravka menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Hingga Ravka keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru bagi Alea. Sudah seringkali ia melihat suaminya wara wiri di dalam kamar dengan tubuh setengah telanjang. Namun, kali ini terasa berbeda. Alea tersipu saat menyaksikan tubuh berotot suaminya yang mengkilap di terpa sinar lampu. Tubuh yang belum sepenuhnya kering itu tampak seksi dan menggoda layaknya bintang iklan di televisi.


Ia tak menyangka bahwa laki-laki tampan dan mempesona bak model itu adalah suaminya. Tapi apakah ia berhak mengakui Ravka sebagai suami seutuhnya? Apakah ia bisa menjalani pernikahan normal seperti pasangan lainnya? Pikiran Alea tiba-tiba membuat mata gadis itu meredup. Ia tak tahu apakah perlakuan Ravka akhir-akhir ini bisa ia jadikan pegangan untuk menapaki masa depan bersama?


"Al, kamu sudah makan?" tanya Ravka membuyarkan lamunan Alea.


Ternyata pria itu sudah mengenakan pakaian lengkap yang sudah diaiapkan Alea sebelumnya.


"Aku ga laper Mas," jawab Alea lembut.


"Kamu harus makan. Ayo aku temani kamu makan,"


"Ga usah Mas, ga apa-apa. Aku bener-bener ga laper. Kata kamu kita harus menemui Kakek. Sebaiknya, kita temui sekarang. Ga enak kalau kakek sampai menunggu lama," ucap Alea.


"Yaudah kalau begitu. Ayo kita temui Kakek," seru Ravka seraya mengulurkan tangannya kepada Alea.


Dengan senang hati Alea menyambut tangan Ravka. Ada rasa yang membuncah di dalam dada, saat Ravka menggandeng tangannya. Menyusuri lorong rumah di lantai dua menuju ruang kerja Kakek dilantai bawah.


Alea menolehkan pandangannya pada lelaki yang masih menggenggam tangannya dengan erat. Ada ekspresi kalut yang terlihat pada sorot matanya. Membuat Alea ikut merasakan galau yang menerpa hatinya.


"Siapa yang mau Kakek kenalkan padaku, Mas?" tanya Alea menutupi perasannya yang tiba-tiba diterpa rasa tak menentu. Ada perasaan tak nyaman yang menyergapnya.


"Nanti kamu juga akan tahu," ucap Ravka datar.


Apa lagi yang harus kuhadapi kali ini? kenapa perasaan ku menjadi tak karuan begini? Ya Allah ku mohon padamu, berilah aku ketenangan - rintih Alea dalam hati seraya memegang dadanya.