Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 108# Menahan Malu


"Kamu udah pulang Mas." Nada riang yang terselip dalam suara Alea terasa begitu kental.


Alea bergegas menghampiri Ravka. Mencium punggung tangan suaminya seraya memindahkan tas yang dibawa sang suami ke tangannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Ravka saat Alea hendak berbalik badan.


Pemuda itu menarik pinggang sang istri hingga tubuh mereka menempel.


"Mau naro ini ke kamar," ucap Alea seraya mengangkat tangan yang membawa tas kerja milik Ravka.


"Tar aja naro nya. Disini dulu aja," ucap Ravka memperketat pelukan dipinggang Alea seraya mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya.


Berlama-lama lelaki itu menghirup aroma vanila dari rambut sang istri. Menumpahkan segala rindu akan aroma tubuh gadis molek yang selalu menghantui mimpinya.


Alea hanya menikmati perlakuan sang suami. Ia pun begitu merindukan bahu bidang yang selalu merengkuh erat tubuh mungilnya di setiap malamnya. Namun, tiga hari ini tubuh kekar itu digantikan celoteh heboh dari kedua adik iparnya. Membuat ia begitu tak sabar melabuhkan kepala di dada sang suami, di detik pertama suara Ravka menggelitik telinga.


"Bubar ... bubar .... balik ke planet kalian masing-masing. Bumi terlalu panas," ledek Nino seraya memainkan kerah kemejanya seolah kegerahan.


"Aku balik kemana dong?" ucap Tiara dengan berlebihan yang seolah terhenyak, "kan Pluto sekarang udah bukan planet di tata surya lagi. Makanya ngungsi ke bumi. Mana aku tau kalo di bumi lagi ada yang kasmaran sampe jadi hhhot gini," timpal Tiara seraya mengipas-ngipas tangan di hadapan wajahnya. Gadis itu sekuat tenaga menahan gelak tawa yang mendesis dari barisan giginya.


Disebelahnya Sandra hanya menutup mulut dengan punggung tangan, menahan tawa yang hendak meluncur dengan tak tahu diri. Saat ini Sandra memilih untuk menahan tawa. Tak berani meledek kakak lelakinya itu secara gamblang. Ia sangat tahu kalau Ravka masih menyimpan kemarahan lantaran insiden lingerie di kamar waktu itu. Sandra tak mau semakin menyulut bara api.


Alea langsung menyembunyikan wajah dibalik dada sang suami. Ia menyadari tingkah mereka yang tak tahu tempat dan situasi, hingga dengan mudah menjadi santapan Nino dan Tiara.


"Biarin aja orang syirik. Maklum jomblo akut," sindir Ravka kesal pada Nino dan Tiara.


Ravka menggandeng Alea menghampiri sebuah sofa yang muat menampung mereka berdua.


"Whoaa .... sombong," sambar Tiara tak terima sindiran kakaknya.


"Gue kalo punya cewek ga norak kaya elu," ucap Nino menghempaskan tubuhnya ke sofa single yang tadi di duduki oleh Alea.


Lelaki itu merasa letih sekali. Ingin rasanya ia langsung pulang ke rumah untuk melemaskan otot-otot yang sudah terasa kaku. Namun, rasanya tubuhnya sudah tak bisa lagi di ajak berkompromi untuk melakukan perjalanan meski hanya beberapa saat. Ia ingin beristirahat sejenak baru pulang ke rumahnya sendiri. Lagipula cacing di perut sudah memainkan genderang di dalam sana.


"Mang ada cewek yang mau sama lu?" sambar Tiara cepat seraya menyipitkan matanya menatap Nino.


"Banyaklah. Ngantri malah," jawab Nino pongah.


"Ge Er banget jadi cowok." Tiara tersenyum meledek.


"Ge Er itu kalo kita merasa ditaksir banyak cewek padahal enggak. Tapi kenyataannya, banyak tuh cewek yang bilang langsung ke gue, kalo mereka naksir gue."


Jawaban telak Nino membuat wajah Tiara pias. Ada perasaan menggelitik di hati Tiara antara tersendir serta sakit hati. Melihat betapa pongahnya laki-laki ituqatar membuat Tiara semakin memperbesar rasa tak sukanya pada Nino. Padahal selama ini ia sudah mencoba bersikap biasa pada pria itu. Namun, Nino selalu seolah-olah menunjukkan jarak lebar yang tak mungkin diseberangi, membuat ia semakin sadar diri.


"Iya apa Kak, banyak cewek yang nembak lu?" Sandra menimpali ucapan Nino.


"Ih, ga percaya lu?" sambar Nino dengan tampak dibuat serius.


"Enggak," jawab Sandra santai.


Nino hanya berdecak sebal mendengar ucapan Ravka.


"Kalian pasti capek. Aku buatkan minum dulu yah," ucap Alea mengalihkan perdebatan suaminya dan Nino.


Perdebatan receh antara Ravka dan Nino itu bisa memanjang seperti karet kalau terus dibiarkan. Alea kemudian mencoba melepaskan rangkulan tangan suaminya.


"Udah kamu duduk aja yang tenang disini," ujar Ravka menahan gerakan tangan Alea. "Aku udah minta dibuatkan minum sama Bi Mimah."


"Kalian udah makan belum?" tanya Alea lagi berusaha mencari cara agar terlepas dari kedekatan yang intens dengan Ravka.


Tentu saja Alea merasa risih dengan perlakuan Ravka di hadapan kedua adik iparnya serta Nino.


"Aku juga udah minta dibuatkan makan sama Bi Mimah. Udah sih kamu disini aja temenin aku," imbuh Ravka lagi. "Aku kangen, masih pengen peluk kamu," bisik Ravka ditelinga Alea, menghadirkan semu merah yang untungnya hanya sekilas merambah pipi gadis itu.


Alea akhirnya pasrah dengan apa yang dikehendaki sang suami. Duduk saling berhimpitan dengan kepala bersandar pada dada suaminya. Tangan Ravka pun tanpa malu melingkar di pinggang Alea dan mendaratkan telapaknya diatas perut sang istri.


"Capek yah?" tanya Alea seraya memperhatikan jemari Ravka yang memainkan gerakan-gerakan kecil diatas perutnya. Mengirimkan gelenyar yang mengaliri ujung-ujung syarafnya.


Perlakuan Ravka membuat Alea kembali tertunduk malu. Tak berani menatap Sandra dan Tiara yang melemparkan senyum meledek saat wajah mereka bersitatap. Untungnya acara di televisi kembali menarik perhatian keduanya. Sementara di seberangnya, Nino tampak memejamkan matanya.


"Lumayan. Badanku pegel-gegel rasanya," jawab Ravka sekenanya.


"Mau aku pijitin?" tawar Alea seraya memutar kepalanya mengahadap Ravka.


"Nanti aja, pas dikamar," bisik Ravka ditelinga Alea dengan hawa panas keluar dari mulutnya. Ravka sengaja menarik wajahnya perlahan melewati pipi sang istri. Hingga bibir itu mengesek lembut pipi Alea.


Lagi-lagi Alea meremang saat hembusan nafas sang suami menggelitik telinga dan menyapu pipinya. Membuat Alea berdecak sebal dengan tingkah suami yang tak tahu tempat.


"Jangan macem-macem Mas. Ada Tiara ama Sandra," bisik Alea pelan seraya memukul pelan lengan Ravka yang melingkar diperutnya. Ia sudah seperti perempuan tak punya malu dihadapan Nino. Namun, ia tak mau jika sampai kehilangan muka juga dihadapan Tiara dan Sandra.


"Ga macem-macem kok, semacem doang. Laper, pengen makan kamu," bisik Ravka lagi membuat Alea akhirnya mencubit lengan sang suami.


"Aw .... Sakit Al " Ravka meringis seraya menggosok lengannya yang dicubit Alea.


Baru saja akan melayangkan protes lebih lanjut, suara lembut Dilla membuat Ravka menghentikan lengannya yang berniat memeluk Alea lebih kencang sebagai balasan cubitan dari sang istri.


"Eh ada Ravka sama Nino, toh. Udah lama baliknya?" tanya Dilla seraya mendararkan tubuhnya di sebelah putri bungsunya. Sementara Derry memilih duduk di sebelah Nino.


**********************************************


rekomendasi novel buat mengisi waktu sambil nunggu up yah...